Hari ini, aku tidak masuk kantor. Aku sakit.
Kepala ini rasanya berat sekali, tulang-tulangku seakan mau rontok. Aku tak
bisa berjalan tanpa berpegangan pada dinding rumah. Setiap kali aku berjalan,
aku sempoyongan kayak orang mabuk. Hfff, ternyata sakit begitu merepotkan ya!
Tapi, entah kenapa ada perasaan senang juga dengan kondisiku ini. Benar, dengan begitu aku kan bisa beristirahat sejenak dari urusan kantor. Hmm,
katanya segala sesuatu perlu disyukuri. Bukankah di balik setiap kejadian ada
hikmah yang terkadang tidak kita sadari? Aku jadi tersenyum sendiri,
membenarkan pepatah lama itu.
Di rumah, aku hanya bisa terbaring lemah. Aku tak bisa mengerjakan apapun
untuk keperluanku sendiri. Aku mengandalkan pertolongan orang lain. Misalnya,
untuk membelikan sarapan, memegangiku saat berjalan, atau mengantarkanku ke
klinik terdekat. Ahh, ada perasaan tidak enak saat merepotkan mereka. Apakah
aku akan berlaku sama ketika mereka ada di posisiku saat ini? Apakah semua
orang secara sukarela membantu orang lain yang kesusahan? Apa alasan seseorang
saat membantu yang lain? Apakah mereka melakukannya dengan tulus, terpaksa,
atau memang sudah seharusnya begitu? Aku jadi bertanya-tanya sendiri.
Aku jadi teringat suatu kejadian unik. Beberapa hari yang lalu, seorang
manager di kantorku masuk rumah sakit akibat serangan jantung. Karena si
manager masuk RS hari Sabtu, maka banyak yang tidak tahu tentang kondisinya
itu. Begitu Senin, hari sibuk se-dunia, tidak ada yang berani meninggalkan
kantor. Biasalah, pekerjaan yang menumpuk membuat kaki ini rasanya nggak bisa
bergerak kemana-mana. Nah, tiba hari Selasa, kami pun
beramai-ramai menjenguk si manager di rumah sakit saat jam makan siang. Anehnya,
ada yang menyeletuk seperti ini, “Aku sih nggak enak aja kalo nggak dateng,
secara dia kan bos kita, yah… minimal nyetor muka lah…”. Lalu, ada lagi yang
nimpalin, “Hmm, kalo aku sih karena si manager pernah jenguk aku pas lagi
sakit!”. Nah lho….?? Ternyata kepedulian kita belum tentu
bersumber dari ketulusan hati!
Menurutku, tanpa sadar setiap orang sebenarnya bisa merasakan ketulusan
orang lain. Tulus tidaknya seseorang bisa terbaca
melalui bahasa tubuhnya. Dengan panca indranya, orang yang dibantu bisa
menyerap bahasa tubuh orang yang membantu lalu menerjemahkannya di hatinya. Ingat
lho ya, di hati, bukan di kepala. Makanya, terkadang kita dibantu tapi kok
merasa tidak nyaman ya… Kita dipuji tapi kok berasa hambar ya… Nah, sedikit
banyaknya panca indra kita telah membaca bahasa tubuh orang tersebut,
hanya saja yang di-translete-kan oleh otak kita adalah yang lahiriah
saja, misalnya perkataan/tindakannya.
Jadi, secara tidak langsung, bahasa tubuh lah yang menunjukkan isi hati
yang sebenarnya. Aku tidak bermaksud mengajak kita berprasangka pada orang yang
berbuat baik, tapi ini lebih sebagai teguran pada diri kita sendiri. Sejauh mana kita jujur dengan bantuan kita pada orang lain! Jika kita tidak
menyadarinya dari sekarang, lama kelamaan sifat ‘miskin empati’ itu bisa
mendarah daging lho. Kita mungkin tak bisa lagi merasakan kenikmatan dalam
membantu. Karena bagi kita, tak ada bantuan secara cuma-cuma. Hidup seperti ini
gersang, kering dari kebahagiaan. Maka, mulailah
membiasakan care pada orang lain mulai dari hal-hal kecil. Ingatlah,
orang yang berempati tidak akan menunggu membantu sampai dia dibantu. Orang
yang berempati tidak akan tersakiti jika yang dibantu tidak balas membantu. Orang
yang berempati, mengulurkan hatinya, bukan cuma tangannya.Insyaa Allah,
ketulusan inilah yang akan sampai pada orang lain.
Sewaktu SD, guruku selalu menekankan bahwa kita adalah makhluk sosial, makhluk
yang harus saling membantu. Hm, sekarang setelah
aku dewasa (ceile… gaya euy!), menurutku sebutan makhluk sosial sepertinya
kurang tepat, yang benar adalah kita makhluk Tuhan. Tuhan lah yang menjadi orientasi kita dalam berbuat kebaikan. Bukan orang
lain. Tidak ada istilah saling membantu. Karena saling membantu berarti ada
‘syarat’ yang harus dipenuhi disana. Ya, kita membantu jika dibantu, atau kita
membantu agar suatu saat bisa dibantu. Makhluk Tuhan
membantu karena memang itu adalah panggilan Tuhan pada hatinya. Dia hanya
mengharapkan balasan dari Tuhan semata. Tidak peduli bantuan itu besar atau
kecil. Tidak peduli bantuan itu untuk kawan maupun lawan. Tidak peduli dapat
imbalan atau tidak. Mengapa? Karena imbalannya adalah dari Allah SWT semata… Wallahu a’lam bis
showab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar