Rabu, 26 Juni 2013

Renungan si Sakit




Hari ini, aku tidak masuk kantor. Aku sakit. Kepala ini rasanya berat sekali, tulang-tulangku seakan mau rontok. Aku tak bisa berjalan tanpa berpegangan pada dinding rumah. Setiap kali aku berjalan, aku sempoyongan kayak orang mabuk. Hfff, ternyata sakit begitu merepotkan ya! Tapi, entah kenapa ada perasaan senang juga dengan kondisiku ini. Benar, dengan begitu aku kan bisa beristirahat sejenak dari urusan kantor. Hmm, katanya segala sesuatu perlu disyukuri. Bukankah di balik setiap kejadian ada hikmah yang terkadang tidak kita sadari? Aku jadi tersenyum sendiri, membenarkan pepatah lama itu.
Di rumah, aku hanya bisa terbaring lemah. Aku tak bisa mengerjakan apapun untuk keperluanku sendiri. Aku mengandalkan pertolongan orang lain. Misalnya, untuk membelikan sarapan, memegangiku saat berjalan, atau mengantarkanku ke klinik terdekat. Ahh, ada perasaan tidak enak saat merepotkan mereka. Apakah aku akan berlaku sama ketika mereka ada di posisiku saat ini? Apakah semua orang secara sukarela membantu orang lain yang kesusahan? Apa alasan seseorang saat membantu yang lain? Apakah mereka melakukannya dengan tulus, terpaksa, atau memang sudah seharusnya begitu? Aku jadi bertanya-tanya sendiri.
Aku jadi teringat suatu kejadian unik. Beberapa hari yang lalu, seorang manager di kantorku masuk rumah sakit akibat serangan jantung. Karena si manager masuk RS hari Sabtu, maka banyak yang tidak tahu tentang kondisinya itu. Begitu Senin, hari sibuk se-dunia, tidak ada yang berani meninggalkan kantor. Biasalah, pekerjaan yang menumpuk membuat kaki ini rasanya nggak bisa bergerak kemana-mana. Nah, tiba hari Selasa, kami pun beramai-ramai menjenguk si manager di rumah sakit saat jam makan siang. Anehnya, ada yang menyeletuk seperti ini, “Aku sih nggak enak aja kalo nggak dateng, secara dia kan bos kita, yah… minimal nyetor muka lah…”. Lalu, ada lagi yang nimpalin, “Hmm, kalo aku sih karena si manager pernah jenguk aku pas lagi sakit!”. Nah lho….?? Ternyata kepedulian kita belum tentu bersumber dari ketulusan hati!
Menurutku, tanpa sadar setiap orang sebenarnya bisa merasakan ketulusan orang lain. Tulus tidaknya seseorang bisa terbaca melalui bahasa tubuhnya. Dengan panca indranya, orang yang dibantu bisa menyerap bahasa tubuh orang yang membantu lalu menerjemahkannya di hatinya. Ingat lho ya, di hati, bukan di kepala. Makanya, terkadang kita dibantu tapi kok merasa tidak nyaman ya… Kita dipuji tapi kok berasa hambar ya… Nah, sedikit banyaknya panca indra kita telah membaca bahasa tubuh orang tersebut, hanya saja yang di-translete-kan oleh otak kita adalah yang lahiriah saja, misalnya perkataan/tindakannya.
Jadi, secara tidak langsung, bahasa tubuh lah yang menunjukkan isi hati yang sebenarnya. Aku tidak bermaksud mengajak kita berprasangka pada orang yang berbuat baik, tapi ini lebih sebagai teguran pada diri kita sendiri. Sejauh mana kita jujur dengan bantuan kita pada orang lain! Jika kita tidak menyadarinya dari sekarang, lama kelamaan sifat ‘miskin empati’ itu bisa mendarah daging lho. Kita mungkin tak bisa lagi merasakan kenikmatan dalam membantu. Karena bagi kita, tak ada bantuan secara cuma-cuma. Hidup seperti ini gersang, kering dari kebahagiaan. Maka, mulailah membiasakan care pada orang lain mulai dari hal-hal kecil. Ingatlah, orang yang berempati tidak akan menunggu membantu sampai dia dibantu. Orang yang berempati tidak akan tersakiti jika yang dibantu tidak balas membantu. Orang yang berempati, mengulurkan hatinya, bukan cuma tangannya.Insyaa Allah, ketulusan inilah yang akan sampai pada orang lain.
Sewaktu SD, guruku selalu menekankan bahwa kita adalah makhluk sosial, makhluk yang harus saling membantu. Hm, sekarang setelah aku dewasa (ceile… gaya euy!), menurutku sebutan makhluk sosial sepertinya kurang tepat, yang benar adalah kita makhluk Tuhan. Tuhan lah yang menjadi orientasi kita dalam berbuat kebaikan. Bukan orang lain. Tidak ada istilah saling membantu. Karena saling membantu berarti ada ‘syarat’ yang harus dipenuhi disana. Ya, kita membantu jika dibantu, atau kita membantu agar suatu saat bisa dibantu. Makhluk Tuhan membantu karena memang itu adalah panggilan Tuhan pada hatinya. Dia hanya mengharapkan balasan dari Tuhan semata. Tidak peduli bantuan itu besar atau kecil. Tidak peduli bantuan itu untuk kawan maupun lawan. Tidak peduli dapat imbalan atau tidak. Mengapa? Karena imbalannya adalah dari Allah SWT semata… Wallahu a’lam bis showab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar