Senin, 17 September 2012

No FB, No Problemo


“Jangan terlalu hitam putih  dengan perubahan zaman sekarang. Tidak ada salahnya punya fb. Malah jika tidak punya fb, kamu yang rugi…” ujar seorang teman padaku saat aku memberitahunya bahwa aku tidak punya fasilitas facebook, jejaring sosial yang menurutnya ‘wajib’ dimiliki oleh manusia yang hidup di abad ini. Tidak cuma satu orang yang berceloteh seperti itu. Banyak. Dan semuanya sama. Mereka menyebutku kuno, ketinggalan zaman, atau semacamnya. Hahaha,.. jadi ingin tertawa sendiri. Bukankah aku berhak memilih hal mana yang penting atau tidak untukku? Bagi milyaran penduduk bumi ini mungkin fb itu penting, tapi tidak bagiku. Ada hal-hal yang menurutku jauh lebih bermanfaat untuk kuiisi dalam celah-celah waktu luangku, dibanding “meng’update status, baca status friends, comment untuk status mereka, dan sebangsanya. Aku tidak pernah mengejek mereka yang sibuk ber-facebook ria, tapi please donk… jangan juga mengintimidasiku ketika tidak punya facebook! Hidup itu pilihan, fren! Dan kita akan mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan kita itu di hadapanNya kelak!

Banyak yang bilang, facebook bisa sebagai sarana dakwah. Mungkin. Dan mudah-mudahan itulah yang terjadi. Namun yang kusaksikan, banyak diskusi-diskusi agama tersebut berubah menjadi sarana ikhtilat akhwat dan ikhwan, topik yang dibicarakan juga tidak jelas, bahkan ada yang sampai menyisipkan dalil-dalil Al Qur’an agar terlihat alim dan paham agama. Naudzubillah.. Teknologi telah merubah jiwa hanif manusia. 

“Eh, kamu kalau mau dapat jodoh, punya facebook donk… Banyak kenalan, banyak pilihan lho…” ujar seorang teman, mengomentari aku yang masih sendiri. Astaghfirullah… Apakah aku sedemikian putus asanya hingga harus mencari jodoh lewat fb? Maaf saja, karena menurutku orang yang masih punya waktu bersuka ria untuk hal seperti itu berarti orang yang tidak bisa mengoptimalkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan positif. 

Facebook mungkin saja ada manfaatnya. Namun menurutku, mudhoratnya jauh lebih banyak. Bukankah banyak yang selingkuh akibat facebook, bergosip lewat facebook, menyia-nyiakan waktu, mengotori hati, dll. Aihh, jangan marah begitu donk…! Ini bukan karena aku anti facebook… Sama sekali bukan! Aku hanya melihat fakta dari teman-teman yang terjangkit demam FB! Jika memang mampu mengontrol diri, silahkan saja. Kita yang lebih tahu sejauh mana pengendalian diri kita. Tapi buatku, aku memang lebih memilih ‘no FB’ daripada dihantui perasaan khawatir akan waktu yang sia-sia, khawatir akan hubungan pertemanan yang kurang syar’i, khawatir akan diriku yang tidak mampu menahan diri ber-comment ini dan itu untuk status orang lain yang tidak ada kaitannya denganku. Menurut Imam Al Jauzy, berbaur terlalu banyak dan terlalu sering dengan orang lain maka bisa mematikan hati, meskipun secara tidak langsung lho… (melalui FB misalnya).  

So, pilihan ada di tangan kita. Jika memang menurut anda fb bisa dijadikan sebagai sarana yang tepat dalam berdakwah, berbagi ilmu, dan menyambung silaturrahim, monggo… Silahkan! Tapi, jika waktu luang anda yang seharusnya bisa anda gunakan untuk tilawah, menghafal Al Qur’an, dzikir, dan yang lainnya, saya sarankan jangan habiskan waktu anda untuk hal yang kurang bermanfaat. Kenapa? Karena sesuatu yang tidak bermanfaat itu (meskipun bukan sebuah kemaksiatan) adalah bentuk keburukan juga. At last, aku kutipkan sebuah hadist sebagai renungan kita semua, “Barang siapa yang tidak disibukkan oleh kebaikan, maka pastilah ia disibukkan dengan keburukan”. Semoga kita semua termasuk golongan orang yang mampu memaksimalkan waktu dengan sebaik-baiknya.  Amin.
Wallahu a’lam bis showab…

Jumat, 17 Februari 2012

Perjalanan Imanku



Entah bagaimana rasanya mengungkapkan rasa syukur saat Allah SWT pertama kali menyapaku dengan hidayahNya. Kalau tidak salah, waktu itu aku baru menginjak semester tiga di kampus. Saat itulah Allah SWT mengenalkan Islam padaku. Bukan berarti aku tidak beragama Islam sebelumnya. Bukan, tentu saja bukan. Alhamdulillah, meski ayah dan ibuku berdarah batak tulen, kami sekeluarga Islam. Tapi Islamku hanyalah Islam warisan. Islam KTP, kata orang. Padahal dari kecil, ayah dan ibu  begitu ketat memberikan pendidikan Islam  bagi kami anak-anaknya, mulai dari mengaji TPA di siang hari lalu dilanjutkan khatam Al Qur’an malam harinya. Ibuku sendiri sering menguji kemajuan bacaan Al Qur’an kami. Kalau aturan ayah sedikit berbeda. Ikat pinggang kulitnya akan siap terayun ke punggung kami jika ada sholat yang terlupa. Khusus Sholat Maghrib dan Subuh harus berjamaah di rumah. Jika lalai, ada tugas tambahan menanti, entah itu mencabut uban ayah atau mencuci sepeda motornya. Tidak itu saja, saat Ramadhan tiba, jika ada yang berani tidak berpuasa, hmm..  jatahnya hanya makanan sisa dari pernghuni rumah yang berpuasa. Ketat bukan? Begitulah orangtuaku, sampai tamat SMP, pendidikan agama benar-benar ditanamkan pada kami, namun begitu menginjak SMU ayah sepertinya sudah tak mau mengayunkan ikat pinggangnya lagi. Kami sudah cukup dewasa, katanya. Kami pun bebas. Hingga beberapa tahun kemudian, aku dan saudara-saudaraku sudah tak pernah lagi mengerjakan sholat. Begitulah, saat itu agama bagi kami tak lain adalah aturan, kewajiban. Harus begini, harus begitu. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Benar-benar melelahkan.

Namun, Allah SWT ternyata punya rencana lain untukku. Bermula dari persahabatan dengan seorang akhwat (panggilan wanita jilbaber di kampus), aku pun mulai mengenal Islam lebih dalam. Aku banyak berdiskusi dengannya, bahkan tak jarang mendebatnya. Untunglah, pada diri sahabatku itu kutemui jiwa yang sabar dan arif.  Dengan lembut, dia meluruskan pandanganku, mengajakku pada Islam yang sungguh menyejukkan hati. Tak pernah kubayangkan bahwa Islam begitu indahnya. Aturan-aturan agama yang dulu berpayah-payah diajarkan ayah dan ibuku ternyata sekaranglah kurasakan manfaatnya. Di saat aku benar-benar ingin mendalami agama ini, aku tidak lagi memulainya dari nol. Berkat mereka, lidahku telah  fasih membaca Al Qur'an, bahkan aku pun cukup tahu hukum-hukum Islam, sejarah Islam, dll. Ilmu itu tak lain kudapatkan lewat sekolah TPA  dan juga koleksi buku-buku Islam ayah (saat tak ada lagi komik yang bisa kubaca, maka terpaksa hobi membacaku harus kusalurkan pada buku-buku agama itu). Ayah, Ibu, terimakasih atas didikanmu. Semoga Allah SWT membalas kerja keras kalian dengan surga. Amin

Saat di semester tiga, aku menjabat sebagai ketua Keputrian Kampus. Entah kenapa saat itu aku yang terpilih. Padahal, aku belum lama mengenakan jilbab. Mungkin itu juga bagian dari rencana Allah SWT untuk mengenalkanku pada agamaNya. Sejak itu, aku pun semakin sering berkutat dengan kegiatan-kegiatan Islami. Agendaku berjibun. Mulai dari kuliah, rapat, menthoring, seminar, pengajian, membuat mading dan buletin, subhanallah… sungguh tak ada waktu yang sia-sia! Hidup berasa penuh kemanfaatan. Aku bersyukur. Bersyukur atas detak kehidupanku yang bermakna, bersyukur karena itu semua kulalui bersama akhwat-akhwat sholehah yang membuat segalanya menjadi indah. Sungguh, tak ada rasa lelah. Disinilah titik awal keimananku yang sebenarnya. Aku pun bercita-cita menjadi aktivis sejadi-jadinya. Aku sadar bahwa keimanan bukan sebatas sholat dan puasaku, tapi juga dakwah. Agama ini rahmatan lil ‘alamin. Maka, kuniatkan bahwa iman ini bukan untuk diriku saja, tapi juga harus bisa menyentuh orang lain, mengajak mereka pada amar ma’ruf nahi munkar. Iman untuk seluruh alam. Ya, inilah keislamanku.

Selepas kuliah, aku pun memasuki dakwah pasca kampus.Dakwah di dunia kerja. Dan ternyata, masya Allah… luar biasa sulitnya. Semula aku begitu total berjuang. Aku membuat mading kantor lalu menempelnya diam-diam, aku mengajak rekan-rekan kerja wanita untuk ikut pengajian, mencoba berdiskusi dengan mereka tentang tema-tema Islam, mengupayakan diri agar bisa menjadi teladan dalam hal pekerjaan dan kebiasaan hidup, namun tenyata upayaku itu pun tak berbuah banyak. Maklum, yang kuhadapi adalah wanita-wanita modern yang sudah memiliki frame berpikir sendiri. Lantas, dakwah seperti apa yang bisa kutawarkan pada mereka? Akupun mulai lelah berjuang sendiri.

Namun, setelah kutimbang lagi, kegagalan dakwahku bukan hanya karena medan dakwah yang begitu sulit, tapi karena aku yang juga mulai terwarnai. Kondisi kerja yang mengharuskan satu team dengan laki-laki hingga larut malam membuat ikhtilat tak terhindarkan lagi. Waktu banyak terisi dengan bercanda. Lembur yang gila-gilaan membuat tahajjudku sering terlewatkan. Dan aku pun mulai risih jika digoda dengan sebutan alim, sholehah, saat aku tilawah atau Dhuha. Astaghfirullah, imanku mulai terkikis rupanya.

Tidak itu saja. Entah kenapa, aku sering menjadi tempat curhat beberapa teman lelaki. Mulai dari masalah keluarga, pacar, bahkan masa lalu mereka yang kelam. Ahh, benar kata sahabatku dulu! Mungkin aku memang punya sedikit bakat psikologi. Semula aku pikir mungkin ini akan jadi awal dakwah yang bagus. Meskipun peluang itu harus bermula dari kaum Adam, namun ini bisa jadi titik terang dakwahku yang selama ini mulai lenyap. Aku pun bersemangat kembali untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Memang tidak ada yang salah dalam niat itu, namun sejak semula aku seharusnya lebih berhati-hati. Dakwah antar lawan jenis nyatanya rentan disisipi bisikan-bisikan syaithon. Tanpa sadar, aku mulai teracuni zina hati. Astaghfirullah...

Alhamdulillah, Allah SWT masih menyayangiku. Aku diingatkan olehNya. Aku menangis pilu atas kelalaianku. Segera kuambil langkah mundur. Kujaga jarak dengan mereka, kuacuhkan mereka, tak peduli itu akan mengganggu hubungan silaturrahim kami. Aku hanya ingin menyucikan diri kembali. Ingin membersihkan hati yang kelam tertutupi dosa. Aku tahu benar bahwa Allah pecinta orang-orang yang bertaubat. Dan aku ingin berada di barisan itu. Syukurlah, lambat laun teman-temanku bisa mengerti keputusanku.

Inilah yang kuhadapi setiap harinya. Minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Begitu banyak godaan di kota besar ini. Bahkan beberapa kali aku pun masuk dalam perangkapnya. Aku tahu, khilaf dan salah adalah lumrah. Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa iman itu naik dan turun. Maka yang harus kuupayakan hanyalah menjaga agar iman ini tetap istiqomah. Agar langkah ini tak salah arah. Agar akhlak tak tercela. Bukankah kita semua ingin menjadi hambaNya yang sempurna? Bukankah kita semua berharap kelak memasuki surgaNya? Benar kawan, meski mungkin akan melelahkan menapaki tahap demi tahap ujian hidup, perjalanan iman ini harus kita teruskan. Aku yakin, kita semua pasti punya sederetan peristiwa luar biasa selama perjalanan iman kita. Dan perjalanan itu, semoga berakhir di terminal surgaNya. Amin

Senin, 30 Januari 2012

Merenunglah Sejenak

          
            
Saudaraku,
Kelumit kehidupan ini terlalu banyak menyita waktu kita. Beragam masalah dalam jenak hari-hari kita serasa tak pernah berhenti. Pikiran dan hati kita sibuk mengurusi persoalan duniawi. Sholat pun tertunaikan begitu saja. Hari terlewati tanpa ada tilawah. Bahkan tak ada sisa waktu untuk sejenak bermuhasabah. Hati kita tak fokus lagi padaNya.

Saudaraku,
Tidakkah hati kita rindu merasakan getaran cinta saat menyebut asma Allah yang indah? Tidakkah kita rindu menikmati saat-saat berdua saja dengan Allah? Tidakkah kita rindu menangis di hadapanNya? Ataukah kesibukan dunia telah membuat kita lupa akan segala kerinduan itu?

Saudaraku,
Jangan sampai karena kelalaian kita, Allah SWT tak lagi mengenali kita. Jangan sampai Allah kemudian mengabaikan kita dan berpaling pada hamba-hambaNya yang lain. Sadarlah, kitalah yang membutuhkan Allah. Bahkan sangat membutuhkanNya. Bukan untuk akhirat kita saja, tapi juga untuk duniawi kita. Beriman atau tidak berimannya kita bukanlah sebuah kerugian bagi Allah. Kitalah yang justru begitu bergantung pada kemurahanNya.

Saudaraku,
Cintailah Allah meski dengan segala keterbatasan kita. Jangan jadikan keterbatasan itu sebagai alasan untuk menghindar dari kewajiban-kewajiban kita padaNya. Allah tidak meminta kita sholat sepanjang waktu. Allah tidak menyuruh kita berpuasa setiap hari. Allah pun tak pernah memaksa kita beribadah di luar batas kesanggupan kita, meskipun Dia berhak atas seluruh waktu kita. Itu tak lain saudaraku, karena sifat Maha Pemurahnya Allah. Ya, begitu pemurahnya Allah hingga Dia selalu saja memaklumi kesalahan-kesalahan kita. Bahkan tak pernah berhenti memberi lembaran baru bagi kita untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Maka, marilah saudaraku.. Tunjukkan cinta kita pada Allah. Cintailah Allah dengan apa adanya kita. Mulailah dengan mentaatiNya. Mulailah dengan melibatkanNya dalam segala aktivitas kita. Tidak perlu memaksakan diri tapi jangan pula melemahkan diri. Allah SWT tahu apa yang tersembunyi di dalam hati… 

Saudaraku,
Jika saat ini kita merasa jauh dari Allah, maka mendekatlah. Pulanglah padaNya. Akui dosa-dosa kita, kelalaian kita. Menangislah karena selama ini kita telah membuat jarak denganNya. Wahai saudaraku, bukanlah sifat Allah tidak mengampuni hamba-hambaNya yang bertaubat dan juga bukan sifatNya tidak mengabulkan doa hambaNya yang meminta. Sungguh, Dia Maha Baik. Begitu Baik. 

Saudaraku,
Mari berdoa, agar dunia yang sesaat ini tidak membuat kita lupa pada Allah. Agar jiwa kita selalu rindu akan masa-masa kebersamaan denganNya. Agar akal kita bisa membaca hidayahNya. Agar hati kita tunduk, patuh, dan tenang karena Allah semata. Amin.

Ujian Itu Pertanda Kebaikan





“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku." Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku.” (QS. Al Fajr : 15 – 16)

       Saudaraku,
Ujian itu sunnatullah kehidupan. Ketaatan kita bukanlah menjadi tolak ukur sedikit banyaknya ujian dalam hidup kita. Semuanya diuji, dengan keburukan ataupun kebaikan. Kita manusia biasa. Wajar jika kita terguncang saat ujian berat menghadang. Wajar jika kemudian kesedihan bersarang di hati dan menguras banyak air mata kita. Namun bagaimanapun, tetaplah jaga baik-baik pikiran dan lisan kita. Jangan sampai ada prasangka buruk pada Allah. Jangan sampai tercetus kata “tidak adil” tentang Allah. Karena dengan begitu kita telah gagal dalam test kehidupan yang diberikanNya.

Saudaraku, 
Hakikatnya, ujianlah yang membedakan kita. Dengan cara itulah Allah ingin meneropong hati kita satu per satu, sejauh mana kejujuran iman kita padaNya. Apakah hanya menyenangi Allah saat kondisi baik kita? Apakah lantas mengeluhkan Allah jika Dia mulai mencoba kita dengan kesulitan hidup? Jika benar demikian, bukankah itu berarti kita telah berani mengatur Allah, Sang Pencipta kita? Bukankah itu artinya kita telah lancang menuntut Allah memberi sesuai yang kita inginkan? Mari merenung sejenak, siapa kita? Dan siapa Allah? Naudzubillah...

Saudaraku,
Ujian itu cinta. Maka hitunglah… Sebanyak mana ujian Allah sebesar itulah cintaNya pada kita. Bagaimana bisa? Bukankah musibah yang kita alami bisa menghapus dosa-dosa kita jika kita mampu bersabar? Bukankah itu bukti kasih sayang Allah dengan tidak membalas keburukan kita di neraka yang kekal balasanNya melainkan menyegerakannya di dunia dalam bentuk ujian-ujian hidup? Tidakkah kita bersyukur untuk itu? Keyakinan bahwa ujian hidup ini tidak ada apa-apanya dibanding ujian di yaumil akhir nanti akan menentramkan hati kita yang saat ini mungkin didera ujian yang begitu berat. 

Saudaraku, 
Ujian tak akan pernah berhenti. Terus dan terus datang silih berganti tanpa kita duga. Namun, Allah itu Ar Rahim. Dia Maha Penyayang. Dia tidak akan mengabaikan kita dan membiarkan menjalani ujian itu sendiri selama kita benar-benar mengandalkanNya dalam setiap kesulitan. Dialah Al Wahhab yang akan memberikan pertolongan bagi mereka yang meminta padaNya. Dengan demikian, ujianlah yang sesungguhnya mengantarkan kita untuk selalu kembali pada Allah. 

Saudaraku, 
Bersama Allah, tak ada jalan buntu. Kita saja yang tak mampu melihat ujung jalan karena sekeliling kita yang gelap. Namun, cahaya Allah akan selalu menuntun kita pada jalan keluar yang benar, jika kita benar-benar bergantung padaNya. Tidak ada yang musykil bagi Allah, tidak juga untuk sebuah jalan keluar bagi permasalahan hidup kita. Tetaplah berikhtiar. Dan jangan pernah lelah berdoa meski belum terijabah. Dengan akal kita yang teramat sempit ini, kita tidak akan bisa memahami apa yang sedang direncanakanNya untuk hidup kita.

Saudaraku, 
Dengan rumitnya jalan kehidupan kita, bukanlah berarti Allah ingin mempersulit kita. Allah ingin agar kita lebih bijak dalam setiap langkah. Dan hanya dengan menunjukkan kesabaran dan keikhlasan-lah, kita akan terlihat semakin bernilai dalam pandanganNya. Maka, tidak ada yang buruk dari sebuah ujian. Yang ada hanyalah kebaikan, kebaikan, dan kebaikan.  Itu hanya terjadi jika kita selalu menjaga prasangka baik padaNya. Wallahu a’lam bi showab.