Mari lihat
ilustrasi simple ini. Seorang
majikan memiliki 3 orang pelayan. Sebelum memasuki rumah majikannya tersebut,
pelayan-pelayan ini harus berjanji bahwa mereka akan mematuhi segala perintah
sang majikan. Mereka bersumpah tidak akan menghianati kepercayaan sang majikan
dan tidak akan mematuhi siapapun selainnya. Majikannya pun berjanji akan
memenuhi segala kebutuhan pelayan-pelayannya. Semula sang majikan mencintai
ketiga pelayannya dengan kadar yang sama. Namun, setelah mengawasi ketiga
pelayan tersebut dengan atau tanpa mereka sadari, pandangan sang majikan
mulai berubah….
Pelayan pertama,
dia adalah sosok pelayan yang tidak tahu balas budi. Dia tidak pernah
melaksanakan perintah majikannya. Dia pemalas, sering menolak perintah dan
senang sekali mengerjakan hal-hal yang membuat majikannya murka. Akhirnya, ia diusir
dari rumah sang majikan. Adapun pelayan kedua, selalu mengeluh
saat mengerjakan perintah majikan. Jika diamanahi suatu hal, ditunaikannya
dengan berat hati. Dia juga sering menunda perintah sang majikan. Saat majikannya
menanyakan pekerjaan tersebut, dia lantas buru-buru mengerjakannya sehingga hasilnya
sering tidak sesuai dengan yang diharapkan. Alasan kepatuhannya hanya rasa
takut, takut didepak dari rumah sang majikan, takut tidak dipenuhi
kebutuhannya. Beda halnya dengan pelayan ketiga. Pelayan ini memiliki inisiatif
yang sangat tinggi dalam menyenangkan majikannya. Dia mengerjakan perintah
majikannya tepat waktu. Dia selalu menyambut dengan penuh senyuman setiap
panggilan tuannya. Meski perintah itu terkadang sulit, dia bersabar dan terus
bekerja keras. Dia abdikan seluruh hidup pada tuannya, yang telah bersedia
memenuhi kebutuhannya. Sang majikan pun semakin memakmurkan hidup pelayannya.
Wahai kawan,
sesungguhnya kita tidak lebih dari implementasi pelayan-pelayan itu. Kita
adalah hamba-hamba Allah. Seorang hamba sejatinya adalah seorang budak,
pelayan. Yah, kita adalah pelayan-pelayan Allah. Ingatlah, sebelum terlahir ke
muka bumi, Allah telah mengambil janji kita agar tidak menyekutukanNya, agar
patuh dan tunduk padaNya saja. Ada 3 jenis pelayan dalam pandangan Allah,
tinggal kita yang memilih ingin menjadi tipe pelayan seperti apa.
Menjadi pelayan
pertama adalah keputusan jahiliyah (baca : bodoh). Allah SWT telah memberikan
kita tempat di dunia, memenuhi segala kebutuhan kita, mengabulkan
permintaan-permintaan kita yang tersampaikan lewat doa, tapi mengapa kita masih
membangkang pada perintah-perintahNya? Kita enggan sholat, tidak mau melafazkan
firmanNya yang suci, bahkan menutup mata dan hati pada hal-hal yang ma’ruf. Kita
teramat senang dengan kemaksiatan, hobby berdusta, bergumul dalam pergaulan
murahan, bahkan berani bersekutu dengan iblis dalam menduakan Allah (percaya
ramalan, dukun, dan segala jenis kesyirikan). Kita mencintai
harta, tahta, pria/wanita, melebihi kecintaan kita padaNya. Bagaimana mungkin
Dia mempersembahkan cintaNya jika kita memberikan cinta pada selainNya? Jika
kita masih tetap bertahan dalam tipe pelayan pertama, bersiap-siaplah untuk
didepak Allah ke neraka. Jangan pernah mimpi ke surga, jika tak ada
amalan-amalan yang terlaksana untukNya. Saat ini, Allah SWT bisa saja masih
bersabar atas sikap dzolim kita. Namun jangan sampai kita membuat Sang Majikan
murka. Karena untuk pelayan seperti ini, Allah tidak akan membiarkannya tinggal
di rumahNya (baca : surga).
Adapun pelayan
kedua tidak lebih dari sosok-sosok munafik. Bukankah melakukan sesuatu yang
tidak selaras dengan hati adalah suatu bentuk kemunafikan pada diri? Jangan
sampai kita tergolong pada tipe pelayan kedua, yang mengerjakan
perintah-perintah Allah karena keterpaksaan, karena kewajiban belaka, karena
takut neraka dan bermimpi ke surga. Karena jika demikian, pastilah kita menjadi
tidak maksimal dalam mengerjakan amal-amal ibadah, selalu mengeluh, beribadah
asal-asalan tanpa kekhusyukan dan keikhlasan. Lihat saja, dengan modal jiwa
seperti ini, suatu saat kita akan merasa lelah dalam mematuhi perintah Allah
SWT. Kita tak lebih dari robot, yang beramal tanpa disertai hati dan perasaan. Manusia
dengan tipe seperti ini memasuki surga haruslah melalui timbangan
pahala-dosa. Tidak ada keridhoan Allah disana.
Maka, jadilah
seperti pelayan ketiga, yang berinisiatif memikirkan amalan-amalan yang disukai
Allah. Agar mendapat perhatian lebih, tentu kita juga harus
bekerja lebih. Jangan rela sekedar menjadi hamba-hamba yang biasa. Jadilah
hamba yang luar biasa dalam pandanganNya. Agar Dia selalu membanggakan kita
pada malaikat-malaikatNya, agar Dia tidak menyesal menciptakan kita, agar Dia
dengan senyum haru mempersaksikan pada seluruh penghuni langit dan bumi bahwa
KITA ADALAH HAMBANYA. Jika Dia senang pada hamba-hambaNya yang bertahajjud,
maka bertahajjudlah. Jika Dia senang dengan nafas hamba2Nya yang berpuasa, maka
berpuasalah. Jika Dia menyukai hamba-hambaNya yang rajin bersedekah, maka
ulurkan tangan kita pada mereka yang membutuhkan. Temukan cinta
Allah bukan hanya pada amalan wajib, tapi juga pada amalan sunnah. Ibarat
seorang karyawan yang naik jabatan karena bekerja lebih, maka dengan amal
ibadah yang lebih, Allah akan naikkan derajat kita dibanding manusia-manusia
lainNya. Kita tidak hanya terhindar dari neraka dan dijanjikan ke surga, namun
kita diberi bonus lebih yaitu ridhoNya. Hal itulah yang menjadi unsur kedekatan
kita denganNya sehingga saat kita tersalah dengan segala kekhilafan yang ada,
maka akan Dia bentangkan ampunanNya pada kita selebar-lebarnya.. Subhanallah…
So, kawanku... Mari
cek diri kita, apakah kita sudah termasuk pada tipe pelayan ketiga? Jika belum,
mari berlomba untuk bertransformasi menjadi pelayan yang terakreditasi A
olehNya…