Entah bagaimana rasanya mengungkapkan rasa syukur
saat Allah SWT pertama kali menyapaku dengan hidayahNya. Kalau tidak salah,
waktu itu aku baru menginjak semester tiga di kampus. Saat itulah Allah SWT
mengenalkan Islam padaku. Bukan berarti aku tidak beragama Islam sebelumnya.
Bukan, tentu saja bukan. Alhamdulillah, meski ayah dan ibuku berdarah
batak tulen, kami sekeluarga Islam. Tapi Islamku hanyalah Islam warisan. Islam
KTP, kata orang. Padahal dari kecil, ayah dan ibu begitu ketat
memberikan pendidikan Islam bagi kami anak-anaknya, mulai dari mengaji
TPA di siang hari lalu dilanjutkan khatam Al Qur’an malam harinya. Ibuku
sendiri sering menguji kemajuan bacaan Al Qur’an kami. Kalau aturan ayah
sedikit berbeda. Ikat pinggang kulitnya akan siap terayun ke punggung kami jika
ada sholat yang terlupa. Khusus Sholat Maghrib dan Subuh harus berjamaah di
rumah. Jika lalai, ada tugas tambahan menanti, entah itu mencabut uban ayah
atau mencuci sepeda motornya. Tidak itu saja, saat Ramadhan tiba, jika ada yang
berani tidak berpuasa, hmm.. jatahnya hanya makanan sisa dari pernghuni
rumah yang berpuasa. Ketat bukan? Begitulah orangtuaku, sampai tamat SMP,
pendidikan agama benar-benar ditanamkan pada kami, namun begitu menginjak SMU
ayah sepertinya sudah tak mau mengayunkan ikat pinggangnya lagi. Kami sudah
cukup dewasa, katanya. Kami pun bebas. Hingga beberapa tahun kemudian, aku dan
saudara-saudaraku sudah tak pernah lagi mengerjakan sholat. Begitulah, saat itu
agama bagi kami tak lain adalah aturan, kewajiban. Harus begini, harus begitu.
Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Benar-benar melelahkan.
Namun, Allah SWT ternyata punya rencana lain untukku.
Bermula dari persahabatan dengan seorang akhwat (panggilan wanita jilbaber di
kampus), aku pun mulai mengenal Islam lebih dalam. Aku banyak berdiskusi
dengannya, bahkan tak jarang mendebatnya. Untunglah, pada diri sahabatku itu
kutemui jiwa yang sabar dan arif. Dengan lembut, dia meluruskan
pandanganku, mengajakku pada Islam yang sungguh menyejukkan hati. Tak pernah
kubayangkan bahwa Islam begitu indahnya. Aturan-aturan agama yang dulu
berpayah-payah diajarkan ayah dan ibuku ternyata sekaranglah kurasakan
manfaatnya. Di saat aku benar-benar ingin mendalami agama ini, aku tidak lagi
memulainya dari nol. Berkat mereka, lidahku telah fasih membaca Al
Qur'an, bahkan aku pun cukup tahu hukum-hukum Islam, sejarah Islam, dll. Ilmu
itu tak lain kudapatkan lewat sekolah TPA dan juga koleksi buku-buku
Islam ayah (saat tak ada lagi komik yang bisa kubaca, maka terpaksa hobi membacaku
harus kusalurkan pada buku-buku agama itu). Ayah, Ibu, terimakasih atas
didikanmu. Semoga Allah SWT membalas kerja keras kalian dengan surga. Amin
Saat di semester tiga, aku menjabat sebagai ketua
Keputrian Kampus. Entah kenapa saat itu aku yang terpilih. Padahal, aku belum
lama mengenakan jilbab. Mungkin itu juga bagian dari rencana Allah
SWT untuk mengenalkanku pada agamaNya.
Sejak itu, aku pun semakin sering berkutat dengan kegiatan-kegiatan Islami. Agendaku berjibun. Mulai dari kuliah, rapat, menthoring, seminar, pengajian, membuat mading dan
buletin, subhanallah… sungguh tak
ada waktu yang sia-sia! Hidup berasa penuh kemanfaatan. Aku bersyukur. Bersyukur atas
detak kehidupanku yang bermakna, bersyukur karena itu semua kulalui bersama
akhwat-akhwat sholehah yang membuat segalanya menjadi indah. Sungguh, tak ada
rasa lelah. Disinilah titik awal keimananku yang sebenarnya. Aku pun
bercita-cita menjadi aktivis sejadi-jadinya. Aku sadar bahwa keimanan bukan
sebatas sholat dan puasaku, tapi juga dakwah. Agama ini rahmatan lil ‘alamin.
Maka, kuniatkan bahwa iman ini bukan untuk diriku saja, tapi juga harus bisa
menyentuh orang lain, mengajak mereka pada amar ma’ruf nahi munkar. Iman
untuk seluruh alam. Ya, inilah keislamanku.
Selepas kuliah, aku pun memasuki
dakwah pasca kampus.Dakwah di dunia kerja. Dan ternyata, masya Allah… luar
biasa sulitnya. Semula aku begitu total berjuang. Aku membuat mading kantor
lalu menempelnya diam-diam, aku mengajak rekan-rekan kerja wanita untuk ikut
pengajian, mencoba berdiskusi dengan mereka tentang tema-tema Islam,
mengupayakan diri agar bisa menjadi teladan dalam hal pekerjaan dan kebiasaan
hidup, namun tenyata upayaku itu pun tak berbuah banyak. Maklum, yang kuhadapi
adalah wanita-wanita modern yang sudah memiliki frame berpikir sendiri.
Lantas, dakwah seperti apa yang bisa kutawarkan pada mereka? Akupun mulai lelah
berjuang sendiri.
Namun, setelah kutimbang lagi,
kegagalan dakwahku bukan hanya karena medan dakwah yang begitu sulit, tapi karena
aku yang juga mulai terwarnai. Kondisi kerja yang mengharuskan satu team
dengan laki-laki hingga larut malam membuat ikhtilat tak terhindarkan lagi.
Waktu banyak terisi dengan bercanda. Lembur yang gila-gilaan membuat tahajjudku
sering terlewatkan. Dan aku pun mulai risih jika digoda dengan sebutan alim,
sholehah, saat aku tilawah atau Dhuha. Astaghfirullah, imanku mulai
terkikis rupanya.
Tidak itu saja. Entah kenapa, aku sering menjadi
tempat curhat beberapa teman lelaki. Mulai dari masalah keluarga, pacar, bahkan
masa lalu mereka yang kelam. Ahh, benar kata sahabatku dulu! Mungkin aku memang punya
sedikit bakat psikologi. Semula aku pikir mungkin ini akan jadi awal dakwah
yang bagus. Meskipun peluang itu harus bermula dari kaum Adam, namun ini bisa
jadi titik terang dakwahku yang selama ini mulai lenyap. Aku pun bersemangat
kembali untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Memang tidak ada yang salah
dalam niat itu, namun sejak semula aku seharusnya lebih berhati-hati. Dakwah
antar lawan jenis nyatanya rentan disisipi bisikan-bisikan syaithon. Tanpa
sadar, aku mulai teracuni zina hati. Astaghfirullah...
Alhamdulillah, Allah SWT masih menyayangiku. Aku diingatkan olehNya.
Aku menangis pilu atas kelalaianku. Segera kuambil langkah mundur. Kujaga jarak
dengan mereka, kuacuhkan mereka, tak peduli itu akan mengganggu hubungan
silaturrahim kami. Aku hanya ingin menyucikan diri kembali. Ingin membersihkan
hati yang kelam tertutupi dosa. Aku tahu benar bahwa Allah pecinta orang-orang
yang bertaubat. Dan aku ingin berada di
barisan itu. Syukurlah, lambat laun teman-temanku bisa mengerti keputusanku.
Inilah yang kuhadapi setiap harinya. Minggu demi
minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Begitu banyak godaan di kota besar ini. Bahkan
beberapa kali aku pun masuk dalam perangkapnya. Aku tahu, khilaf dan salah
adalah lumrah. Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa iman itu naik dan turun. Maka yang
harus kuupayakan hanyalah menjaga agar iman ini tetap istiqomah. Agar langkah
ini tak salah arah. Agar akhlak tak tercela. Bukankah kita semua ingin menjadi
hambaNya yang sempurna? Bukankah kita semua berharap kelak memasuki surgaNya? Benar
kawan, meski mungkin akan melelahkan menapaki tahap demi tahap ujian hidup,
perjalanan iman ini harus kita teruskan. Aku yakin, kita semua pasti punya
sederetan peristiwa luar biasa selama perjalanan iman kita. Dan perjalanan itu, semoga berakhir di terminal
surgaNya. Amin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar