Ya Rasulullah, hari
itu, ketika waktu dhuha sudah terasa panas, tepat hari Senin tanggal 12 Rabi’ul
Awwal 11 H, dalam usia 63 tahun lebih empat hari, engkau berpulang kepada
kekasih yang Maha Tinggi. Andai engkau tahu duhai Rasul, bukan umatmu pada masa
itu saja yang bersedih hati karena kepergianmu, tapi kami juga ya Rasul, umat
yang lahir sesudahmu. Betapa berdukanya kami karena tak sempat berjumpa dengan
engkau. Kami hanya mengenalmu lewat hadist yang sampai kepada kami. Kami hanya
bisa menelusuri perjalanan hidupmu yang memukau lewat shiroh yang dituliskan
para ulama dengan rinci. Kami coba bayangkan wajahmu ya Rasul, namun pikiran
kami tak kan mampu merefleksikan keindahan parasmu. Kami mimpikan bisa
mendengar suaramu yang penuh kelembutan dan kesejukan, namun yang kami dapati
hanya desahan angin yang berlalu. Bagaimana kami meredakan gejolak rindu ini ya
Rasul? Kami bermimpi bisa bersamamu, kami berharap ada di dekatmu saat ini.
Ya Rasul, andai engkau ada disini,
engkau akan melihat betapa dunia ini semakin jauh dari keimanan. Kewajiban pada
Allah sering terlalaikan. Sunnahmu pun
tak lagi dihidupkan. Betapa banyak dari kami sekedar berlabel Islam, namun
ajaranmu tetap saja ditinggalkan.
Ya Rasul, andai engkau ada disini,
engkau tak akan mendapati lagi umatmu saling berlomba dalam kebaikan. Tak ada
lagi kecemburuan iman seperti yang ada pada diri sahabat-sahabat dulu. Kami
malah begitu bebasnya memilih syariat ini sekehendak hati. Kami ambil yang kami
senangi, lantas membuang jauh-jauh yang memberatkan kami. Kami pun merasa tak
perlu lagi berpayah-payah mengejar ibadah-ibadah nafilah yang dulu engkau
contohkan. Sungguh, betapa memalukannya kami ya Rasul..
Ya Rasul, andai engkau ada disini,
pastilah engkau akan murka melihat Islam diinjak-injak kehormatannya. Fitnah
terhadap kami bertebaran dimana-mana. Lihatlah, kemenangan yang dulu pernah
diraih, sekarang lenyap seperti buih.
Ya Rasul, andai engkau ada disini,
mungkin engkau akan kecewa karena ukhuwah telah tercabut dari hati kami. Saat
sebagian dari kami diserang dengan kekejian yang tak terbayangkan, kami hanya
bisa menutup mata atas derita saudara-saudara seaqidah kami. Kami tak lagi
saling menjaga. Tak lagi berpegangan menghadapi musuh-musuh agama.
Ya Rasul, andai engkau ada disini,
kami mungkin tak terpecah seperti sekarang ini. Semuanya merasa benar. Semuanya
merasa bersandar pada Allah dan RasulNya. Satu sama lain saling menghujat,
saling mengkafirkan. Ahh, andai engkau tahu bahwa para musuh Allah bersorak
sorai atas tingkah konyol kami!
Ya Rasul, andai engkau ada disini,
benang kusut perselisihan kami mungkin akan terurai. Kami pun tak akan berani
lagi melalaikan kewajiban kami. Kejayaan Islam pun akan menggema kembali. Namun
apa daya, Allah telah menakdirkanmu bersamaNya.
Ya Rasul, jika engkau menyaksikan kami dari
tempatmu berada saat ini, maka
mintakanlah kepada Allah Yang Maha Mulia agar kami senantiasa bergairah dalam
ibadah-ibadah kami, agar kasih sayang di antara kami tumbuh kembali, dan agar
Islam pada akhirnya akan menang atas kaum kuffar yang ingkar. Duhai dambaan
hati, semoga rindu ini kelak akan terobati dengan bertemu engkau di surgaNya
nanti. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar