Rabu, 03 November 2010

Senyuman Akhwat Itu...


Siang itu begitu terik. Kuusap kembali peluh yang membintik-bintik di dahiku. Ahh, aku selalu saja lupa membawa sapu tangan. Hari ini aku dan team sedang melakukan pembacaan stan meter di DM (district meter) yang berlokasi tepat di samping kampus YARSI (Yayasan Rumah Sakit Islam) Jakarta. Setelah pekerjaan kami selesai, kami pun segera mengayunkan langkah ke mesjid yang jaraknya tidak jauh dari sana. Waktu telah menunjukkan pukul 12.55 WIB. Kami belum lagi menunaikan sholat Dzuhur. Begitu memasuki area mesjid, ternyata banyak sekali mahasiswa yang berkerumun disana. Ada yang nangkring di sekitar tangga, duduk-duduk di teras, juga berdiskusi di pelataran mesjid. Maklum, mesjid itu adalah mesjid kampus YARSI. Jadi tidak heran, jika mesjid itu menjadi ramai sekali.
Kusapukan sekali lagi pandanganku pada mahasiswa-mahasiswi itu. Mataku nanar dan tanpa sadar ada tetes-tetes rindu yang mengalir di hati. Aku rindu kampus. Rindu suasana seperti ini. Rindu dengan sosokku sebagai mahasiswi kampus yang aktif di berbagai kegiatan. Ada genangan air mata yang hendak menetes. Kutarik nafas dalam-dalam berharap bisa meredakan beribu rasa yang bergejolak.
Saat sholat aku merasakan kedamaian yang luar biasa. Aku seakan sedang sholat di mesjid Ad Dakwah, mesjid tempatku dulu berkumpul bersama akhwat-akhwat USU lainnya. Setelah mengakhiri sholatku dengan salam dan bermunajat sejenak, kulipat dengan terlatih mukena parasutku. Saat itulah tanpa sengaja, pandanganku bertubrukan dengan seorang akhwat berjilbab putih lebar. Dia tersenyum. “Assalamu'alaikum…” sapanya lembut. Aku membalas salamnya dengan sama sopannya. “Wa'alaikumsalam…” ujarku sambil menyuguhkan senyum 5 centi-ku. Dia pun berlalu setelah mengangguk sopan. Ahh, aku terpaku dengan keanggunan dan tatapannya yang bersahabat, seolah kami sudah kenal lama. Memang, seperti inilah karakter seorang akhwat. Lembut dan begitu ramah. Beginilah yang biasa kulakukan bersama teman-teman akhwat di kampusku dulu. Selalu ada sapaan saat bertemu, saling berjabat tangan, lalu cipika cipiki tiga kali.  Dengan akhwat siapapun itu, meski tak kenal sama sekali. Indah sekali, bukan? Sekarang aku tak pernah lagi melakukan hal itu.
Ahh, betapa aku merindukan saudari-saudariku di kampus Teknik tercinta. Kupejamkan mata. Bayangan satu per satu mereka membajiriku dengan sejuta rindu. Ahhh, senyum kalian akan tetap tersimpan di hati. Semoga Allah SWT mempertemukan kita kembali... Amin.

Selasa, 02 November 2010

Pelayan-Pelayan Allah



Mari lihat ilustrasi simple ini. Seorang majikan memiliki 3 orang pelayan. Sebelum memasuki rumah majikannya tersebut, pelayan-pelayan ini harus berjanji bahwa mereka akan mematuhi segala perintah sang majikan. Mereka bersumpah tidak akan menghianati kepercayaan sang majikan dan tidak akan mematuhi siapapun selainnya. Majikannya pun berjanji akan memenuhi segala kebutuhan pelayan-pelayannya. Semula sang majikan mencintai ketiga pelayannya dengan kadar yang sama. Namun, setelah mengawasi ketiga pelayan tersebut dengan atau tanpa mereka sadari,  pandangan sang majikan mulai berubah….
Pelayan pertama, dia adalah sosok pelayan yang tidak tahu balas budi. Dia tidak pernah melaksanakan perintah majikannya. Dia pemalas, sering menolak perintah dan senang sekali mengerjakan hal-hal yang membuat majikannya murka. Akhirnya, ia diusir dari rumah sang majikan. Adapun pelayan kedua, selalu mengeluh saat mengerjakan perintah majikan. Jika diamanahi suatu hal, ditunaikannya dengan berat hati. Dia juga sering menunda perintah sang majikan. Saat majikannya menanyakan pekerjaan tersebut, dia lantas buru-buru mengerjakannya sehingga hasilnya sering tidak sesuai dengan yang diharapkan. Alasan kepatuhannya hanya rasa takut, takut didepak dari rumah sang majikan, takut tidak dipenuhi kebutuhannya. Beda halnya dengan pelayan ketiga. Pelayan ini memiliki inisiatif yang sangat tinggi dalam menyenangkan majikannya. Dia mengerjakan perintah majikannya tepat waktu. Dia selalu menyambut dengan penuh senyuman setiap panggilan tuannya. Meski perintah itu terkadang sulit, dia bersabar dan terus bekerja keras. Dia abdikan seluruh hidup pada tuannya, yang telah bersedia memenuhi kebutuhannya. Sang majikan pun semakin memakmurkan hidup pelayannya.
Wahai kawan, sesungguhnya kita tidak lebih dari implementasi pelayan-pelayan itu. Kita adalah hamba-hamba Allah. Seorang hamba sejatinya adalah seorang budak, pelayan. Yah, kita adalah pelayan-pelayan Allah. Ingatlah, sebelum terlahir ke muka bumi, Allah telah mengambil janji kita agar tidak menyekutukanNya, agar patuh dan tunduk padaNya saja. Ada 3 jenis pelayan dalam pandangan Allah, tinggal kita yang memilih ingin menjadi tipe pelayan seperti apa.
Menjadi pelayan pertama adalah keputusan jahiliyah (baca : bodoh). Allah SWT telah memberikan kita tempat di dunia, memenuhi segala kebutuhan kita, mengabulkan permintaan-permintaan kita yang tersampaikan lewat doa, tapi mengapa kita masih membangkang pada perintah-perintahNya? Kita enggan sholat, tidak mau melafazkan firmanNya yang suci, bahkan menutup mata dan hati pada hal-hal yang ma’ruf. Kita teramat senang dengan kemaksiatan, hobby berdusta, bergumul dalam pergaulan murahan, bahkan berani bersekutu dengan iblis dalam menduakan Allah (percaya ramalan, dukun, dan segala jenis kesyirikan). Kita mencintai harta, tahta, pria/wanita, melebihi kecintaan kita padaNya. Bagaimana mungkin Dia mempersembahkan cintaNya jika kita memberikan cinta pada selainNya? Jika kita masih tetap bertahan dalam tipe pelayan pertama, bersiap-siaplah untuk didepak Allah ke neraka. Jangan pernah mimpi ke surga, jika tak ada amalan-amalan yang terlaksana untukNya. Saat ini, Allah SWT bisa saja masih bersabar atas sikap dzolim kita. Namun jangan sampai kita membuat Sang Majikan murka. Karena untuk pelayan seperti ini, Allah tidak akan membiarkannya tinggal di rumahNya (baca : surga).
Adapun pelayan kedua tidak lebih dari sosok-sosok munafik. Bukankah melakukan sesuatu yang tidak selaras dengan hati adalah suatu bentuk kemunafikan pada diri? Jangan sampai kita tergolong pada tipe pelayan kedua, yang mengerjakan perintah-perintah Allah karena keterpaksaan, karena kewajiban belaka, karena takut neraka dan bermimpi ke surga. Karena jika demikian, pastilah kita menjadi tidak maksimal dalam mengerjakan amal-amal ibadah, selalu mengeluh, beribadah asal-asalan tanpa kekhusyukan dan keikhlasan. Lihat saja, dengan modal jiwa seperti ini, suatu saat kita akan merasa lelah dalam mematuhi perintah Allah SWT. Kita tak lebih dari robot, yang beramal tanpa disertai hati dan perasaan. Manusia dengan tipe seperti  ini memasuki surga haruslah melalui timbangan pahala-dosa. Tidak ada keridhoan Allah disana.
Maka, jadilah seperti pelayan ketiga, yang berinisiatif memikirkan amalan-amalan yang disukai Allah. Agar mendapat perhatian lebih, tentu kita juga harus bekerja lebih. Jangan rela sekedar menjadi hamba-hamba yang biasa. Jadilah hamba yang luar biasa dalam pandanganNya. Agar Dia selalu membanggakan kita pada malaikat-malaikatNya, agar Dia tidak menyesal menciptakan kita, agar Dia dengan senyum haru mempersaksikan pada seluruh penghuni langit dan bumi bahwa KITA ADALAH HAMBANYA. Jika Dia senang pada hamba-hambaNya yang bertahajjud, maka bertahajjudlah. Jika Dia senang dengan nafas hamba2Nya yang berpuasa, maka berpuasalah. Jika Dia menyukai hamba-hambaNya yang rajin bersedekah, maka ulurkan tangan kita pada mereka yang membutuhkan. Temukan cinta Allah bukan hanya pada amalan wajib, tapi juga pada amalan sunnah. Ibarat seorang karyawan yang naik jabatan karena bekerja lebih, maka dengan amal ibadah yang lebih, Allah akan naikkan derajat kita dibanding manusia-manusia lainNya. Kita tidak hanya terhindar dari neraka dan dijanjikan ke surga, namun kita diberi bonus lebih yaitu ridhoNya. Hal itulah yang menjadi unsur kedekatan kita denganNya sehingga saat kita tersalah dengan segala kekhilafan yang ada, maka akan Dia bentangkan ampunanNya pada kita selebar-lebarnya.. Subhanallah…
So, kawanku... Mari cek diri kita, apakah kita sudah termasuk pada tipe pelayan ketiga? Jika belum, mari berlomba untuk bertransformasi menjadi pelayan yang terakreditasi A olehNya…