Minggu, 22 Desember 2013

Surat Cinta Untuk Umak


Ada derai-derai tangis yang tak mampu terisak
Terpendam, hilang ditelan senyum semu
Aku merindukanmu, Ibu…
Sungguh, begitu rindu..

Saat yang lain menggemakan nama ibu
Aku terhenyak, aku tak lagi memilikimu
Mengapa Dia mengambilmu
Saat aku mulai mampu mengeja kasih sayangmu
Mengapa Dia menjauhkanmu dariku
Saat cintamu perlahan-lahan terbaca olehku

Ahh, semua salahku…
Lamban menyadari arti hadirmu
Tak mampu melihat dengan terang
Akan cintamu yang tak pernah gersang

Kepada Allah, kupinta seribu malaikatNya
Menyampaikan maaf tak berhingga
Agar tumpukan kecewa yang pernah terselip dalam dadamu
Lenyap bersama segunung doaku

Ibu, belum ada yang bisa kusuguhkan padamu
Sebagai balas cinta yang seputih kapas
Meski engkau tak pernah mengiba balas
Dalam hati aku berharap,
Agar apa yang luput kupersembahkan di dunia
Diganti Allah dengan sebuah surga
Untukmu, ibundaku tercinta...
         

Umakku  sayang,
Tak terasa ya, sudah 7 tahun berlalu sejak kita terakhir kali bertemu. Lama sekali ya, mak? Apa Umak merindukanku? Aku merindukanmu, mak. Sangat. Sampai sekarang, tak sekalipun rindu ini berkurang. Lidah ini pun tak pernah jemu melafalkan doa-doa kebaikan untuk Umak selepas sholat, berharap Allah SWT akan selalu menjaga dan melindungi Umak, dalam limpahan kasih sayangNya.

Mak, masih ingatkah peristiwa yang dulu selalu Umak ceritakan berulang-ulang padaku? Waktu itu, sekitar pukul delapan pagi, tanggal 27 Maret 1985, Umak melahirkanku. Untuk pertama kalinya aku menatap dunia, setelah 9 bulan lebih berada dalam kandungan. Katamu, saat itu engkau begitu susah payah melahirkanku. Padahal sudah anak ketiga, harusnya tidak sesulit itu. Dengan mata jenakamu, engkau akan menggodaku, bahwa itu pertanda kalau aku mungkin terlahir dengan sifat keras kepala. Ahh, Umak benar, sampai sekarang pun aku masih saja keras kepala. Aku ingat, Umak akan selalu tersenyum jika mengingat bisa-bisanya mengidam es cendol saat akan melahirkanku di klinik persalinan. Ayah bingung tentu saja. Tapi, Ibu tak mau tahu, yang penting es cendol harus ada.  Hmm, sekarang aku jadi tahu darimana sifat keras kepalaku ini menurun. Meski fisikku mirip Ayah, tapi karakterku banyak mirip Umak.
Mak, bagiku engkau adalah sosok yang tegas dengan kelembutan yang menyejukkan. Engkau memang jarang memanjakan kami dengan kata-kata lembut, pelukan hangat, dan ciuman sayang, meski begitu kami bisa merasakan cintamu lewat kepedulian yang begitu besar pada kami. Aku masih ingat, saat kehidupan kita masih sangat sederhana, Umak tak akan menyentuh secuil makanan pun selama kami masih belum terlihat kenyang. Saat lebaran tiba, baju Umak pun jarang berganti yang baru, karena harus mendahulukan baju-baju kami, anak dan suamimu. Ahh, engkau memang ibu terbaik…
Sewaktu kecil, aku memang tak begitu dekat denganmu. Umak terlalu sibuk memusatkan perhatian pada kenakalan abang dan si bungsu kesayangan keluarga kita. Aku selalu merasa bahwa diriku tak punya cukup tempat di hatimu. Ahh, betapa buruknya prasangka-ku itu!  Aku tahu tidak seperti itu. Umak bahkan sangat menyayangiku. Ya, aku bisa melihatnya saat Umak begitu gigih memperjuangkan kuliahku. Umak begitu tak berdaya saat ayah pergi meninggalkan kita, mengambil semua uang simpanan tanpa menyisakan sedikit pun. Aku tahu hancurnya perasaanmu saat itu, mak… Aku tak pernah melihatmu berhenti menangis. Namun alih-alih menyerah, yang kusaksikan, Umak justru mencoba bangkit sekuat tenaga demi aku. Demi pendidikanku. Demi cita-citaku, yang ayah sendiri telah pasrah untuk itu. Sungguh, aku mencintaimu mak… Dan hati ini begitu pilu karena belum ada yang bisa kupersembahkan sebagai bukti kasih sayangku padamu. Engkau bahkan telah tiada sebelum melihatku memakai toga. Mak, maafkan… Maafkanlah anakmu ini…
Mak, sebentar lagi Hari Ibu. Semua anak sibuk menyiapkan kado untuk ibu. Aku tahu, Umak tak begitu suka dibelikan kado. Tapi, aku sungguh ingin membelikan kado. Aku ingin membelikan Umak baju baru. Baju yang paling bagus, yang paling mahal. Tanang saja mak, aku sudah bekerja sekarang, di perusahaan besar dengan gaji yang lumayan. Tentu saja itu semua berkat Umak. Tapi, kenapa Umak pergi begitu cepat? Kenapa pergi sebelum aku sempat memberi apa-apa? Kepada siapa kado itu bisa kutitipkan? Kepada siapa, mak? Umak kini telah begitu jauh.
Mak, jika kado duniaku tak bisa lagi sampai padamu, maka aku punya kado akhirat untukmu. Hafalan Qur’anku. Ya, aku pernah membaca hadist bahwa barangsiapa yang menghafalkan Al Qur’an maka kepada orangtuanya akan dipakaikan jubah kemuliaan yang tidak pernah ada di dunia. Sejak itu mak, aku selalu menghafalkan Al Qur’an sedikit demi sedikit. Jika niatku mulai longgar, cepat-cepat aku ingat senyum Umak agar aku semangat lagi. Benar mak, senyuman Umak yang selalu menyemangatiku – senyum banggamu padaku. Jika bagi setiap orang di dunia ini tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu, maka bagiku, setiap hari – sampai aku bisa menghafalkan Al Qur’an – akan kusebut sebagai Hari Ibu. Ya, kunamai itu hari-hari membungkus kadoku untuk Umak.
Mak, engkau telah melaksanakan amanahmu dengan baik. Engkau telah menjaga dan mendidik anak-anakmu dengan segenap daya dan kasihmu. Aku bangga lahir dari rahimmu. Aku bahagia menjadi anakmu. Semoga Allah SWT memberikan balasan terbaik atas perjuanganmu sebagai ibu. Dan semoga surga menjadi tempat bertemu kita kembali. Amin.

Salam cinta,
Anandamu yang keras kepala

Note : Rasanya ingin mengingatkan pada semua anak di dunia, bahwa setiap ibu memang berbeda. Ada yang lembut, ada yang tegas. Ada yang cerewet, ada yang kalem. Ada yang marah lewat tangan, ada pula yang lewat ucapan. Mereka beragam. Tapi, bagaimanapun berbedanya bentuk kasih mereka, namun esensi kasih mereka akan tetap sama. Mereka sayang kita, anak-anaknya. Itu naluri yang abadi.

Selasa, 16 Juli 2013

Wah, Surga Lagi Diskon...!!!


Alhamdulillah, ramadhan sudah kita nikmati lebih dari sepekan. Bagaimana perasaanmu, saudaraku? Puaskah dalam amalan-amalan harian? Atau masih ada yang kurang maksimal? Beberapa hari yang lalu, seorang teman bertanya padaku. Mana yang lebih utama, tadabbur Al Qur’an atau mengkhatamkan Al Qur’an? Temanku itu bingung. Pasalnya, dia mendengar kajian dari radio Raja’ - salah satu siaran radio Islam – bahwa tadabbur dan muroja’ah Al Qur’an itu lebih baik dibandingkan khatam Al Qur’an. Karena khatam biasanya lebih kepada target pencapaian bukan pada pemahaman. Apa gunanya khatam berkali-kali tapi maknanya tak ada yang tinggal di hati?
Sebenarnya, aku setuju sekali dengan pendapat itu. Hanya saja, menurutku nih ya, ini kan Ramadhan, jadi kalau memang bisa mengupayakan dua-duanya kenapa tidak? Sulit? Berat? Benar sih, tapi ini kan kesempatan yang datangnya sekali setahun, so kudu rela kerja ekstra! Tidak boleh sama dengan bulan-bulan sebelumnya. Bulan ini kan gudangnya pahala? Ingat? Nah, jadi kita memang harus berkorban lebih banyak! Bangunlah lebih pagi. Kurangi waktu tidur dan waktu bersantai kita. Hindari mengobrol yang tak penting dengan teman. Jangan buang banyak waktu terlalu lama untuk mengunyah makanan di waktu sahur ataupun berbuka. Dan satu lagi, tahan diri untuk tidak menghabiskan waktu di depan televisi. Televisi itu lebih banyak melenakan. So, pastikan semua waktu berbuah pahala! Termasuk tidur kita! Hebat bukan? Beginilah para salafusshalih dalam menyiasati Ramadhan. Tidakkah hati kita tergerak meneladani?
Saudaraku, tak ada yang menjadi hujjah kita untuk bermain-main dalam Ramadhan. Bukankah syaithon sudah dibelenggu? Bukankah orang-orang sekeliling kita juga sibuk beramal? Lantas apa lagi yang membuat kita bermalas-malasan? Menurutku, hanya ada satu jawaban untuk pertanyaan itu yaitu nafsu kita sendiri. Ya, selama ini kita mungkin terlalu memperturutkan hawa nafsu. Akhirnya, nafsu menjadi sulit diatur. Bahkan ketika kita menginginkan ketaatan itu sendiri, jiwa kita malah tidak mau diajak bekerjasama. Senjata makan tuan. Kita pun bertarung dengan diri sendiri.
          Tapi bagaimanapun, jangan menyerah saudaraku! Ajaklah jiwa kita bicara. Tanyakan padanya, apakah rela jika saat ini setiap orang sudah mengayunkan langkah ke surga, sedangkan kita tak kemana-mana? Apakah rela jika yang lain nantinya mendapat gelar kemenangan dari Allah SWT sedangkan kita berakhir dengan tangan hampa? Ayo, bernegoisasilah dengannya... Bujuk dia untuk bersabar dalam ketaatan kita. Namun, jika sang nafsu malah meminta bantuan akal untuk mencari-cari alasan pembenaran, maka tak ada jalan lain. Paksa dia. Seret jiwa kita masuk dalam altar ketaatan. Lalu teriakkan padanya, ”Hai nafsu, enyahlah, sungguh aku tak akan rela menyia-nyiakan Ramadhanku!”
          Oh ya, aku punya sebuah info menarik nih. Tahukah bahwa saat ini kita sedang berada dalam ajang diskon surga besar-besaran? Hmmm, anda pasti suka diskon, bukan? Nah, di bulan ini, harga surga sangat terjangkau! Kok bisa? Ya, bukankah Allah SWT melipatgandakan pahala setiap amalan kita di bulan yang mulia ini? Tentunya daya beli kita juga semakin meningkat!, dong So, buruan tukar amal-amal kita dengan pahala. Biar kita bisa beli surga! Hehehe.. Harap diingat, diskon ini hanya berlaku di bulan Ramadhan saja lho...!!!
          So, mari berlomba meraup keuntungan yang sebesar-besarnya di bulan Ramadhan ini. Mudah-mudahan kita diberikan kemudahan dalam melakukan amal-amal ketaatan padaNya. Hingga kita pun menjadi hamba yang layak diberi surgaNya. ”Sungguh orang-orang  yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan” (QS. Al Mutaffifin : 22). Aamiin. Aamiin. Aamiin ya Rabb... Nah, sudah siap untuk berlomba saudaraku? Kita akan buktikan siapa di antara kita yang bisa meraup keuntungan yang lebih banyak, aku atau kamu? Baiklah, mari kita mulai....

Sabtu, 13 Juli 2013

Mengukur Kadar Ukhuwah Diri




Hai frens, apa kabar nih? Sehat wal’afiat semua kan? Alhamdulillah… Oh ya, kali ini ada tema yang ingin kudiskusikan bersama kalian. Wacana lama sebenarnya, tapi menurutku penting untuk terus dan terus diingatkan tentang tema yang satu ini. Mau tahu? Yuk, gabung...!
Oke, sebelumnya aku ingin bertanya, masih ingat dengan permainan tarik tambang? Hmm, aku yakin kalian yang kelahiran sebelum era 90an, pasti tahu permainan lama ini. Cara bermainnya begini. Sebuah tambang akan dipegang oleh 2 team di kedua sisi. Mereka dipisahkan oleh sebuah garis yang disebut garis tengah. Nah, jika salah satu team berhasil menarik tambang lawan melewati garis ini sedikit saja, maka team itulah pemenangnya. Mudah sekali bukan? Yang paling seru dalam permainan ini adalah ketika tambang ditarik oleh kedua team yang sama-sama kuat. Bayangkan jika ada satu orang saja yang mengendurkan genggaman pada tali, hmmm… Kalian tahu apa yang akan terjadi, bukan? Hehe, tepat sekali. Satu team bisa tersungkur ke tanah sekaligus! Hahaha… Aku jadi teringat saat aku memainkan permainan ini bersama teman-teman SD-ku dulu. Kami kalah. Tangan kami lecet semua. Kaki juga ikutan berdarah. Namun meski begitu, tak ada kata menyalahkan. Kami justru tertawa terbahak-bahak sambil berangkulan. Biarpun kalah, kami tetap menikmati kebersamaan kami. Indah sekali ya? Sayang, permainan ini sudah jarang sekali dimainkan anak-anak sekarang. Mereka terlalu asyik dengan aneka permainan di gadget keluaran terbaru saat ini. Ah, sayang sekali...!
Menurutku, tarik tambang bisa dijadikan gambaran tentang makna ukhuwah. Aku membayangkan bahwa tambang adalah ikatan yang terjalin antara kita dan orang lain. Entah itu saudara, teman, sahabat, atau orang-orang sekitar kita. Genggaman tangan kita pada tali menunjukkan seberapa kuat hubungan itu. Pasti akan ada sentakan-sentakan yang membuat genggaman kita kendor bahkan terlepas dari tali. Dan sentakan-sentakan itu ibarat kesibukan-kesibukan kita yang tiada henti hingga kita tak punya waktu lagi untuk orang lain. Kita mulai tak peka dengan  orang lain. Kita tak lagi care dengan problem-problem sekitar. Tanpa sadar, kita hanya berorientasi pada satu hal. Kesuksesan diri. Kebahagiaan pribadi. Nah, bukankah ini alarm bahwa ukhuwah (rasa persaudaraan) mulai terkikis di hati? Akibatnya, ukhuwah kita tidak saja bisa renggang, namun bisa terputus begitu saja. Loss contact
Zaman sekarang memang menuntut kita menjadi orang yang super sibuk. Kita sibuk dengan pekerjaan, sibuk dengan rumah tangga, sibuk dengan bisnis, dan segudang aktivitas lain. Kita pun tak sempat lagi saling kunjung-mengunjungi, saling bertukar sapa, ataupun berdiskusi bersama. Meski begitu, kita tak boleh kehilangan ukhuwah dengan orang-orang terdekat kita. Caranya? Dengan doa. 
Ya, doa itu pengikat hati, saudaraku. Doa seperti lem. Semakin banyak doa buat saudara kita, semakin erat jualah ikatan batin kita dengan mereka. Kita mungkin tak punya cukup waktu lagi untuk mereka, namun kita masih bisa saling mendoakan, bukan? Insyaa Allah, ukhuwah pun tetap nikmat terasa. Bagiku, beginilah cara mengukur kadar ukhuwah diri. Dengan doa. Ya, jika aku lupa menyertakan mereka dalam list doa-doaku, itu pertanda bahwa keberadaan mereka mulai terlupakan olehku. Jika selepas sholat, aku hanya meminta dan meminta untuk kebaikan diri sendiri, itu artinya aku hanya berputar di duniaku sendiri. Alangkah egoisnya...
Namun, doa juga bukan sekedar  ucapan basa basi semata. Coba renungkan firman Allah SWT berikut ini. “Hanya bagi Allah lah (hak mengabulkan) doa yang benar” (QS. Ar Ra’d : 14). Tepat sekali, Allah SWT hanya akan mengabulkan doa yang benar. Lantas, doa yang benar itu seperti apa? Menurutku, doa yang benar adalah doa yang bersumber dari hati. Bukan sekedar ucapan sesumbar! Jadi, jangan begitu gampangnya mengucapkan, ”Aku doain deh biar kamu bla...bla...bla”. Ucapkan itu benar-benar dari hati kita, dengan penuh harapan pada Allah SWT agar doa itu dikabulkan baginya.
Aku jadi teringat sebuah pesan dari seorang ustadzah ketika aku mengikuti sebuah daurah. Kata beliau, kita belum benar-benar mendoakan jika kita belum menyebutkan satu per satu orang yang hendak kita doakan. Maksudnya begini. Saat berdoa, biasanya tujuan doa kita dialamatkan bagi kaum muslimin wa muslimat. Oke, itu baik, tapi siapa orangnya kita kan belum sebut, itu terlalu umum! Bukankah Allah SWT pasti tahu siapa yang kita maksud? Benar, Allah SWT memang Maha Tahu apa yang ada di dalam hati, tapi jika kita berdoa spesifik, bukankah para malaikat juga bisa ikut mendoakan? Nah, peluang pengabulan doanya jadi semakin besar.
Jadi, mulai sekarang, mari saling mendoakan. List minimal 1 orang dalam setiap doa kita. Sebutkan nama dan keperluannya. Gilirkan lagi nama yang lain di masing-masing sholat kita. Oh ya, namaku jangan ketinggalan ya...Hehe... Sampai berjumpa di pelangi doa!        

Senin, 01 Juli 2013

Proposal Ramadhan

-->
Hmm, aroma Ramadhan tercium sudah. Tak terasa bulan mulia itu datang lagi. Alhamdulillah, kita bisa dijumpakan kembali dengan Ramadhan. Bisa menikmati barokahnya lagi sungguh nikmat tak terkira, bukan begitu saudaraku? Alangkah indahnya memang, jika Allah SWT mempekerjakan kita dalam ketaatan. Seakan-akan Allah SWT mengarahkan pandangan kita pada apa yang diridhoiNya. Lihat saja, tidak semua orang berbahagia dengan bulan agung itu! Ada yang malah menggerutu karena kenikmatan dunianya terganggu! Jadi, bersyukur sekali rasanya, kita wahai saudaraku, masih termasuk orang-orang yang bersuka ria dengan datangnya bulan mulia…
            Nah sekarang, izinkan aku bertanya. Apa menurut kalian persiapan sebelum ramadhan itu perlu? Terus, sudah sejauh mana persiapan Ramadhan kalian? Jangan bilang kalau kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan. Ingat saudaraku, Ramadhan itu adalah proyek terbesar kita! Sekarang ini, jika seseorang hendak membuat proyek, hal yang pertama kali dilakukannya tentu mengadakan penelitian lapangan. Setelah itu, mereka akan membuat rancangan kerja, mendiskusikannya dalam rapat lalu lahirlah sebuah proposal proyek. Ini jika menyangkut urusan duniawi. Nah, untuk urusan akhirat tentunya kita juga harus membuat proposal! Proposal apa? Yah, proposal untuk proyek Ramadhan kita, donk! Sebelumnya, kita  petakan dulu ibadah-ibadah apa saja yang belum maksimal pada Ramadhan yang lalu. Setelah itu, kita tentukan target. Lalu buat langkah-langkah pencapaiannya. Dan… bin salabim! Jadilah proposal Ramadhan kita! Mudah sekali bukan?
            Menurutku, proposal Ramadhan ini perlu sekali lho… Proposal ini bisa kita jadikan barometer sejauh mana keberhasilan amal kita dalam Ramadhan. Tidak itu saja, proposal ini akan membuat kita lebih fokus dan lebih bisa mengoptimalkan hari-hari Ramadhan. Percaya deh, jika kita nantinya memenangkan proyek Ramadhan tahun ini, kompensasinya dibalas Allah SWT dunia akhirat! Betul, betul, betul???
            Oke, disini aku akan kasih contoh proposal Ramadhanku. Hmm, ini masih seadanya lho.. Masih ada seminggu lagi buat menyempurnakan proposalku. Aku harus kerja keras!

Proposal Ramadhan Qkhy
Bismillahirrahmanirrahim….
            Ini adalah proposal Ramadhanku – 1434 H. Bukan proposal kerja, tapi proposal ibadah. Bukan proposal dana, tapi proposal pahala. Insyaa Allah. Ini menyangkut menang tidaknya aku dalam berjihad mengalahkan nafsu selama bulan penuh barokah ini. Apakah nantinya akan jadi pemenang atau hanya seorang looser, tentu harus ada barometernya. Untuk itulah proposal ini kubuat. Semoga menjadi pemacu menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dalam pandangan Allah SWT dan juga hamba-hambaNya. Aamiin.
1.     Visi
Menjadikan setiap aktivitas yang dilakukan karena Allah SWT semata, penuh keikhlasan dan kekhusyu'an, sehingga ibadah tidak hanya bernilai pahala, tapi juga keridhoan Allah SWT.

2.     Misi 
a. Mengoptimalkan kuantitas ibadah sunnah 
b. Mengurangi interaksi dengan manusia untuk menjaga kebersihan hati dan lisan 
c. Menghindari aktvitas yang zero pahala
d. Selalu siap menawarkan bantuan bagi sesama
e. ...................................................................... 
3.     Target Ramadhan
Nah, kalau yang ini isi sendiri ya… Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda, bukan? Targetnya jangan terlalu memberatkan dan jangan pula terlampau meringankan. Allah SWT tahu niat hati kita, lho… Nah, target ini aku bagi menjadi 4 bagian ; target ibadah, target, ukhuwah, target kesehatan, dan target optimalisasi diri (wawasan, kreatifitas, dll)

4.     Agenda Harian
Agenda harian ini berisi aktifitasku dari bangun hingga tidur lagi - setiap harinya. Senin hingga Jumat, agenda harianku hampir sama. Hal ini terkait dengan jam kerjaku di kantor. Tapi, karena Sabtu dan Minggu adalah hari libur, agendanya sedikit berbeda. Aku mengaturnya sangat rinci. Ini membuatku tak punya waktu luang untuk bersantai-santai. Jika, ada target yang tak tercapai, aku tandai dengan warna merah. Artinya, ada iqob menanti! Hmm, sebenarnya berat juga sih… Tapi, demi barokah Ramadhan, apa sih yang nggak? Hehe…

Oke, demikian proposal Ramadhanku yang simple. Kalian ada saran perbaikannya? Aku tampung lho! Hehe… Selamat merancang proposal Ramadhan, ya saudaraku… Semoga kita menjadi pemenang Ramadhan tahun ini! Aamiin… Aamiin.. Aamiin…

Rabu, 26 Juni 2013

Renungan si Sakit




Hari ini, aku tidak masuk kantor. Aku sakit. Kepala ini rasanya berat sekali, tulang-tulangku seakan mau rontok. Aku tak bisa berjalan tanpa berpegangan pada dinding rumah. Setiap kali aku berjalan, aku sempoyongan kayak orang mabuk. Hfff, ternyata sakit begitu merepotkan ya! Tapi, entah kenapa ada perasaan senang juga dengan kondisiku ini. Benar, dengan begitu aku kan bisa beristirahat sejenak dari urusan kantor. Hmm, katanya segala sesuatu perlu disyukuri. Bukankah di balik setiap kejadian ada hikmah yang terkadang tidak kita sadari? Aku jadi tersenyum sendiri, membenarkan pepatah lama itu.
Di rumah, aku hanya bisa terbaring lemah. Aku tak bisa mengerjakan apapun untuk keperluanku sendiri. Aku mengandalkan pertolongan orang lain. Misalnya, untuk membelikan sarapan, memegangiku saat berjalan, atau mengantarkanku ke klinik terdekat. Ahh, ada perasaan tidak enak saat merepotkan mereka. Apakah aku akan berlaku sama ketika mereka ada di posisiku saat ini? Apakah semua orang secara sukarela membantu orang lain yang kesusahan? Apa alasan seseorang saat membantu yang lain? Apakah mereka melakukannya dengan tulus, terpaksa, atau memang sudah seharusnya begitu? Aku jadi bertanya-tanya sendiri.
Aku jadi teringat suatu kejadian unik. Beberapa hari yang lalu, seorang manager di kantorku masuk rumah sakit akibat serangan jantung. Karena si manager masuk RS hari Sabtu, maka banyak yang tidak tahu tentang kondisinya itu. Begitu Senin, hari sibuk se-dunia, tidak ada yang berani meninggalkan kantor. Biasalah, pekerjaan yang menumpuk membuat kaki ini rasanya nggak bisa bergerak kemana-mana. Nah, tiba hari Selasa, kami pun beramai-ramai menjenguk si manager di rumah sakit saat jam makan siang. Anehnya, ada yang menyeletuk seperti ini, “Aku sih nggak enak aja kalo nggak dateng, secara dia kan bos kita, yah… minimal nyetor muka lah…”. Lalu, ada lagi yang nimpalin, “Hmm, kalo aku sih karena si manager pernah jenguk aku pas lagi sakit!”. Nah lho….?? Ternyata kepedulian kita belum tentu bersumber dari ketulusan hati!
Menurutku, tanpa sadar setiap orang sebenarnya bisa merasakan ketulusan orang lain. Tulus tidaknya seseorang bisa terbaca melalui bahasa tubuhnya. Dengan panca indranya, orang yang dibantu bisa menyerap bahasa tubuh orang yang membantu lalu menerjemahkannya di hatinya. Ingat lho ya, di hati, bukan di kepala. Makanya, terkadang kita dibantu tapi kok merasa tidak nyaman ya… Kita dipuji tapi kok berasa hambar ya… Nah, sedikit banyaknya panca indra kita telah membaca bahasa tubuh orang tersebut, hanya saja yang di-translete-kan oleh otak kita adalah yang lahiriah saja, misalnya perkataan/tindakannya.
Jadi, secara tidak langsung, bahasa tubuh lah yang menunjukkan isi hati yang sebenarnya. Aku tidak bermaksud mengajak kita berprasangka pada orang yang berbuat baik, tapi ini lebih sebagai teguran pada diri kita sendiri. Sejauh mana kita jujur dengan bantuan kita pada orang lain! Jika kita tidak menyadarinya dari sekarang, lama kelamaan sifat ‘miskin empati’ itu bisa mendarah daging lho. Kita mungkin tak bisa lagi merasakan kenikmatan dalam membantu. Karena bagi kita, tak ada bantuan secara cuma-cuma. Hidup seperti ini gersang, kering dari kebahagiaan. Maka, mulailah membiasakan care pada orang lain mulai dari hal-hal kecil. Ingatlah, orang yang berempati tidak akan menunggu membantu sampai dia dibantu. Orang yang berempati tidak akan tersakiti jika yang dibantu tidak balas membantu. Orang yang berempati, mengulurkan hatinya, bukan cuma tangannya.Insyaa Allah, ketulusan inilah yang akan sampai pada orang lain.
Sewaktu SD, guruku selalu menekankan bahwa kita adalah makhluk sosial, makhluk yang harus saling membantu. Hm, sekarang setelah aku dewasa (ceile… gaya euy!), menurutku sebutan makhluk sosial sepertinya kurang tepat, yang benar adalah kita makhluk Tuhan. Tuhan lah yang menjadi orientasi kita dalam berbuat kebaikan. Bukan orang lain. Tidak ada istilah saling membantu. Karena saling membantu berarti ada ‘syarat’ yang harus dipenuhi disana. Ya, kita membantu jika dibantu, atau kita membantu agar suatu saat bisa dibantu. Makhluk Tuhan membantu karena memang itu adalah panggilan Tuhan pada hatinya. Dia hanya mengharapkan balasan dari Tuhan semata. Tidak peduli bantuan itu besar atau kecil. Tidak peduli bantuan itu untuk kawan maupun lawan. Tidak peduli dapat imbalan atau tidak. Mengapa? Karena imbalannya adalah dari Allah SWT semata… Wallahu a’lam bis showab.

Selasa, 25 Juni 2013

Dakwah must go on....




Sudah hampir tiga tahun aku hidup di Jakarta, namun bayang-bayang kota tercintaku, Medan, masih belum hilang juga. Banyak yang bilang, ala bisa karena biasa. Aku pun mencoba berpikir seperti itu. Namun, hingga saat ini aku masih saja berharap suatu saat bisa tinggal di Medan lagi. Padahal teman-temanku yang juga berasal dari daerah, sudah merasa betah disini. Bahkan sudah merajut rencana kehidupannya di Jakarta. Aneh memang, saat yang lain bermimpi untuk hidup di Jakarta, aku malah ingin melepas statusku sebagai penghuni Jakarta.

Pernah ada yang bertanya, apa sih yang begitu berbeda dari kota Medan hingga aku begitu ngotot ingin pindah kesana? Dan pertanyaan itu sukses membuatku ternganga. Hmm, iya ya, apa ya? Aku begitu kesulitan menjawabnya. Sebenarnya kedua kota itu sih tidak jauh berbeda. Seperti halnya Jakarta, Medan adalah kota metropolis dengan budaya yang sangat heterogen. Perkembangan bisnis dan teknologinya maju pesat. Gedung pencakar langitnya juga banyak. Bahkan dalam hal ’traffic jam’ pun, saat ini Medan sudah tak kalah dari Jakarta. Terakhir kali ke Medan, aku terjebak macet dimana-mana. Hfff...!  Satu hal yang pastinya membuat Jakarta lebih istimewa adalah karena statusnya sebagai ibukota negara. Kota ini menjadi pusat informasi, kiblatnya media, dan tentu saja gemerlap dengan dunia keartisannya. Mungkin ini yang membuatku tidak betah disini. Kota ini terlalu sibuk…

Sebenarnya aku cukup menikmati hidup di Jakarta. Aku mulai terbiasa dengan aktivitas hidup yang serba cepat, terbiasa dengan individualis masyarakatnya, terbiasa dengan metromini yang kebut-kebutan di sepanjang jalan, terbiasa desak-desakan di busway, bahkan terbiasa dengan macetnya yang luar biasa! Tidak itu saja, kota ini begitu complete. Mulai dari makanan, hiburan, permainan, tempat-tempat bersejarah, hingga tempat favoritku 'toko buku' bertebaran dimana-mana. Aku juga suka kompleks perumahannya yang tertata rapi dan bersih. Kehidupannya modern dan sangat mandiri. Dan yang paling kukagumi adalah kesibukan orang-orang disini begitu menginspirasi. Bahwa waktu adalah hal yang tak tergantikan. Bahwa setiap harinya Jakarta selalu ingin membuat perubahan besar. Kemajuan yang menggenerasi. 

        Namun, ada hal yang tak kudapatkan disini. Apa itu? Yup, benar sekali. Komunitas dakwah. Disini, aku merasa begitu sendiri memperjuangkan keistiqomahan iman. Tidak ada kegiatan keislaman yang membuatku bergairah seperti yang kulakukan di Medan dulu. Aku memang bergabung dalam komunitas akhwat di pengajian mingguan, tapi itu tidak cukup untukku. Aku ingin lebih memaksimalkan diri lagi. Aku ingin bergerak, ingin terus berkontribusi pada Islam. Dan aku benar-benar tidak tahu menyalurkannya lewat apa. Aku tidak punya channel disini. Tidak ada jalur dakwah yang kukenal karena aku hanya pendatang. Beda halnya dengan di Medan, disana aku mengenal cukup baik beberapa kampus dan sekolah, tempatku bermimpi menanam benih-benih kebaikan, Insya Allah.

        Seorang akhwat pernah menasehatiku bahwa ketidakmaksimalan itu bukan semata karena perbedaan antara Medan dan Jakarta. Bukan karena sudah punya channel atau tidak. Itu lebih karena dakwah pasca kampus memang jauh lebih rumit. Target dakwah bukan lagi mahasiswa-mahasiswa idealis yang dipenuhi rasa ingin tahu akan penemuan jati diri, tetapi target dakwah pasca kampus adalah manusia-manusia yang sudah punya frame berpikir sendiri. Tidak mudah menyisipkan nilai-nilai Islami dalam pemikiran mereka. Mereka meyakini jalur yang mereka pilih dan sudah nyaman dengan itu. Tak peduli sesuai atau tidak sesuai dengan syariat. Dan jika kenyamanan mereka diusik, hanya ada 2 kemungkinan, kita dimusuhi atau diabaikan. Pilihan yang sulit, bukan? Selain itu, kesibukan kita dalam pekerjaan sedikit banyaknya juga menurunkan semangat dakwah kita. Porsi tenaga dan pikiran kita tidak seperti dulu lagi. Semuanya sudah terbagi Apalagi bagi yang sudah berumah tangga. Jadi bukan semata-mata karena lokasi dakwah, tapi karena tahapan kehidupan kita yang saat ini juga sudah berbeda. Aku pikir, temanku ini ada benarnya juga. 

        Memang, dakwah seharusnya bisa dilakukan dimana pun. Sulitnya medan dakwah tak boleh menjadi alasan pembenaran kemunduran dakwah kita. Sebaliknya, kondisi itu harus kita manfaatkan sebagai ajang pembuktian ‘kesungguhan niat’ kita dalam membela agamaNya. Nah, mungkin yang perlu diubah adalah bentuk dakwah itu sendiri. Kita harus cerdas dalam mengemas syariat Islam yang kita tawarkan agar tidak terlihat memberatkan, melainkan ringan, menyenangkan, dan bermanfaat. Meksi begitu, mimpi untuk berkontribusi di kampung halaman belumlah lenyap. Namun, aku pun tak akan menyia-nyiakan waktuku disini dengan galau yang tak jelas. Dakwah must go on. Wallahu ‘a’lam bis showab.