Bicara
cinta memang tak ada habisnya. Jika pada tulisan “Episode Cinta – Serial 1” kita
membahas tentang cinta secara global,
maka di serial kedua ini kita akan membahas realita cinta dalam kehidupan
kantor. Bukannya apa-apa, sebagai karyawan kantor, aku sedikit resah dengan
fenomena asmara
terlarang yang kusaksikan sendiri. Bahkan, beberapa kali hal ini pernah kudiskusikan bersama teman-teman akhwat lainnya. Nah, akan lebih baik jika hasil
diskusi itu kupaparkan sedikit disini. Mudah-mudahan ada yang beroleh
manfaat. Insyaa Allah.
Siang
itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.35. Aku belum lagi makan siang.
Biasalah, harus merampungkan dulu deadline pekerjaan yang ditunggu bos.
Jadi lunch bersama teman-teman kantor terlewati sudah. Akhirnya aku
memutuskan makan sendiri di pantry. Nah, begitu memulai kunyahan
pertama, tiba-tiba seorang rekan kantor datang menghampiri.
“Baru
makan siang nih?” tanyanya basa basi.
“Yoi…”
jawabku seadanya.
“Yah,
payah! Ketinggalan berita kamu! Tadi siang kita lagi ngebahas gossip yang maha
dahsyat!” ujar temanku itu lebay.
“Masa’?
Apaan?” Sebenarnya malas kalau denger yang kayak gini, nambah pikiran doang!
Tapi, gossip maha dahsyat? Jadi penasaran juga. Hehe…
“Si
A dan si B di departemen X dipanggil HC karena ketahuan selingkuh!” ujarnya
penuh semangat tukang gossip. Nama memang sengaja disamarkan ya..
Aku
yang cukup kenal dan akrab dengan si B kaget bukan main. Mataku melotot antara surprise
dan kepedesan makan nasi padang.
Hehe… Selanjutnya, temanku itu pun melanjutkan gossip plus bumbu-bumbunya. Aku
nggak begitu mengikuti lagi karena di kepalaku sudah berputar segunung pertanyaan.
Bukankah keduanya sudah sama-sama menikah dengan orang lain? Bukankah perbedaan
usia mereka ibarat ayah dan anak? Aku tidak habis pikir.
Nggak
berselang lama dari kejadian itu, aku menyaksikan sendiri kalau M yang masih single
dan Pak N yang sudah punya istri juga anak, kepergok pulang bareng. Waktu itu mobil
mereka melintas di hadapanku. Padahal yang aku tahu, rumah mereka berlawanan
arah. Ya Allah, kok bisa? Bukankah sebelumnya mereka pernah menjadi bahan
celaan orang-orang kantor? Sesaat kupikir hubungan mereka sudah terputus ketika
HC memindahkan Pak N ke departemen lain. Tapi, kenapa kesalahan itu masih terulang
lagi? Bukankah keduanya cukup alim dan paham agama? Batinku bertanya-tanya
tanpa bisa berkata-kata. Inilah yang kemudian ingin kudiskusikan bersama
teman-teman semua, tentang rentannya diri kita terjebak dalam asmara kantor yang tak berkesudahan.
Kata
orang Jawa, witing tresno jalaran seko kulino - cinta datang karena terbiasa (mudah-mudahan bahasa Jawanya nggak salah ya...hehe). Pepatah lama ini ternyata ada benarnya. Seringnya bertemu di kantor memberikan
kedekatan tersendiri bagi beberapa orang. Kalau sesama jenis sih no problemo,
yang jadi masalah adalah ketika kedekatan ini terjadi antara lawan jenis.
Saling curhat, merasa saling nyaman, asyik diajak berdiskusi, dll. Nah, ketika chemistry
itu terbangun, istri, anak dan orang-orang sekitar terlupakan sudah. Apalagi
jika salah satunya punya masalah dengan istri/suami di rumah, ditambah lagi si
wanita masih single yang secara naluri butuh perhatian lebih dari kaum
Adam. Ya sudah,wassalam deh…!
Saudariku,
cinta itu pilihan. Kita bisa suka pada siapapun. Kita bisa kagum pada siapapun.
Tapi cinta hanya hadir ketika kita mengizinkan diri kita untuk bermain-main
dalam rasa suka itu. Ketika logika kita mengingatkan bahwa rasa suka itu sudah
memasuki area ‘terlarang’ (baca tanda-tanda mendekati zina pada Episode Cinta serial
1), itu artinya Allah SWT telah memberi alarm peringatan pada kita. Ketika kita
terus melanjutkan langkah pada yang salah, maka syaithon-lah yang akan bersorak
sorai saat penyesalan menghantam jiwa kita nantinya. By the way, khilaf
itu hanya kali pertama lho, selanjutnya pastilah ada unsur kesengajaan kan? Jadi, sekali lagi
kukatakan, cinta itu pilihan. Apakah anda akan memilih cinta yang sekedar
hasrat sesaat atau cinta yang penuh tanggung jawab, pilihan tetap ada pada
anda!
Sekarang,
izinkan aku bertanya. Bukankah kita begitu sering mendengar kisah tragis dari
perselingkuhan? Entah itu dari media ataupun realita dari orang-orang di sekitar kita. Apa
yang kita lihat? Bahwa perselingkuhan hanya membawa penderitaan bagi pelaku dan
korban perselingkuhan, bukan? Ayolah, jangan pura-pura tidak tahu. Selanjutnya,
coba pikirkan dan jawablah dengan jujur pertanyaanku ini. Ketika anda menjalin asmara dengan selain
pasangan anda di kantor, apa yang anda rasakan? Happy? Mungkin. Tapi
anda tentunya juga resah dan gelisah. Ya, resah karena takut ketahuan! Gelisah begitu
ketemu anak maupun istri/suami di rumah! Anehnya, ada yang bilang justru disitu
serunya! What...??? Anda pikir kehidupan
ini mainan? Astaghfirullah… Dan
ketika nantinya rahasia hati anda terbongkar – bagaimanapun bau bangkai akan
tercium jugalah ya – bayangkan perasaan anda? Benar, anda akan merana dan
kecewa! Anda akan malu dan serba salah! Begitulah saudariku, cinta terlarang
memang begitu merepotkan. Lantas, siapa yang layak disalahkan? Tentu saja diri
kita! Kenapa tidak mawas diri? Kenapa mau saja digombal sembarang lelaki?
Bagi
saudariku yang masih dalam kesendirian, izinkan aku mengingatkanmu kali ini.
Segalanya telah diciptakan Allah SWT berpasang-pasangan. Maka itu, bersabarlah!
Jangan rebut pasangan orang lain! Kesendirian itu adalah ujian keimanan kita.
Jangan jadikan gairah sesaat menjadi obsesi yang membutakan iman. Saudariku
yang kucintai karena Allah, ada saja memang yang mencoba menggoyahkan iman
kita. Kemunculan sosok yang dikagumi, rasa kesendirian yang begitu meresahkan,
perhatian lebih dari ‘dia’ yang bukan muhrim kita, kecemburuan melihat
pasangan-pasangan bahagia, dan iman yang juga lagi down, itu semua membuat kita
rentan terserang virus-virus cinta. Namun, bukan berarti kita boleh teracuni
dengan virus yang satu itu! Bukankah kita sebagai muslimah menginginkan proses
yang halal? Jika kita memaku niatan kita demikian kuatnya, maka Allah akan
penuhi apa yang kita minta. Itu janji Allah. Dan satu hal lagi, bayangkan
jika nanti kitalah yang jadi korban perselingkungan suami? Hayoo, masih mau
berdalih, saudariku? Pahamilah ini dengan baik.
Baiklah,
aku punya hadiah untukmu. Yup, berikut kuberikan beberapa pil agar kita
terhindar dari virus yang satu ini. Oke?
Pil
pertama : Kurangi
interaksimu dengan yang bukan muhrim. Apalagi yang namanya curhat! Jauhi!
Khususnya sama lelaki yang rada genit atau yang bisa membuatmu kagum. Kagum
adalah benih cinta, ingat? Meski awalnya berniat tulus, tapi lama kelamaan,
imanmu yang gak keurus!
Pil
kedua : Jaga penampilan yang
syar’i. Jangan terlalu mengikuti trend sekarang. Bukan melarangmu untuk kreatif
dalam berpenampilan, hanya saja tren sekarang semakin mengundang perhatian kaum
Adam! Nah, kita pun jadi rentan sebagai target godaan!
Pil
ketiga : Sibukkan diri dengan
aktivitas yang bermanfaat. Memperbanyak dzikir dan ibadah, misalnya. Percaya
deh, semakin kita sibuk dengan yang positif, jampi-jampi syaithon tak akan
mempan! Jebakan nafsu pun tak lagi laku!
Pil
keempat : Mintalah
pertolongan dan perlindungan Allah atas diri kita. Saudariku, syaithon mungkin
bisa mengalahkan kita, tapi siapa yang bisa mengalahkan Allah SWT?
Jika
saat ini hati kita sudah terinfeksi virus cinta, maka ceritakan segala
keresahan kita padaNya, Dialah yang mempunyai segala jawaban untuk semua kegalauan
di hati. Dan selanjutnya, teruslah menjaga diri. Perbaiki apa yang terlanjur
salah kita lakukan. Kenapa? Agar ujian kesendirian itu tidak berakhir hukuman
dari Allah SWT.
Oh
ya, aku ingat sebuah lirik lagu. Mungkin ini bisa meredakan sedikit keresahanmu.
“Sabarlah menanti, janji Allah kan pasti. Kekasih kan datang sesuai
kadar iman di hati…”. Nah, jadi sabar aja ya... Semoga segala kesabaran kita akan Allah
SWT balas dengan pendamping yang istimewa. Istimewa agamanya, istimewa
akhlaknya, istimewa jiwanya, istimewa semangat dakwahnya, istimewa juga
cintanya! Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar