Senin, 24 Juni 2013

Episode Cinta - Serial 2



Bicara cinta memang tak ada habisnya. Jika pada tulisan “Episode Cinta – Serial 1” kita membahas tentang cinta secara global, maka di serial kedua ini kita akan membahas realita cinta dalam kehidupan kantor. Bukannya apa-apa, sebagai karyawan kantor, aku sedikit resah dengan fenomena asmara terlarang yang kusaksikan sendiri. Bahkan, beberapa kali hal ini pernah  kudiskusikan bersama teman-teman akhwat lainnya. Nah, akan lebih baik jika hasil diskusi itu  kupaparkan sedikit disini. Mudah-mudahan ada yang beroleh manfaat. Insyaa Allah. 

Siang itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.35. Aku belum lagi makan siang. Biasalah, harus merampungkan dulu deadline pekerjaan yang ditunggu bos. Jadi lunch bersama teman-teman kantor terlewati sudah. Akhirnya aku memutuskan makan sendiri di pantry. Nah, begitu memulai kunyahan pertama, tiba-tiba seorang rekan kantor datang menghampiri.

“Baru makan siang nih?” tanyanya basa basi.
“Yoi…” jawabku seadanya.
“Yah, payah! Ketinggalan berita kamu! Tadi siang kita lagi ngebahas gossip yang maha dahsyat!” ujar temanku itu lebay.
“Masa’? Apaan?” Sebenarnya malas kalau denger yang kayak gini, nambah pikiran doang! Tapi, gossip maha dahsyat? Jadi penasaran juga. Hehe…
“Si A dan si B di departemen X dipanggil HC karena ketahuan selingkuh!” ujarnya penuh semangat tukang gossip. Nama memang sengaja disamarkan ya..

Aku yang cukup kenal dan akrab dengan si B kaget bukan main. Mataku melotot antara surprise dan kepedesan makan nasi padang. Hehe… Selanjutnya, temanku itu pun melanjutkan gossip plus bumbu-bumbunya. Aku nggak begitu mengikuti lagi karena di kepalaku sudah berputar segunung pertanyaan. Bukankah keduanya sudah sama-sama menikah dengan orang lain? Bukankah perbedaan usia mereka ibarat ayah dan anak? Aku tidak habis pikir.

Nggak berselang lama dari kejadian itu, aku menyaksikan sendiri kalau M yang masih single dan Pak N yang sudah punya istri juga anak, kepergok pulang bareng. Waktu itu mobil mereka melintas di hadapanku. Padahal yang aku tahu, rumah mereka berlawanan arah. Ya Allah, kok bisa? Bukankah sebelumnya mereka pernah menjadi bahan celaan orang-orang kantor? Sesaat kupikir hubungan mereka sudah terputus ketika HC memindahkan Pak N ke departemen lain. Tapi, kenapa kesalahan itu masih terulang lagi? Bukankah keduanya cukup alim dan paham agama? Batinku bertanya-tanya tanpa bisa berkata-kata. Inilah yang kemudian ingin kudiskusikan bersama teman-teman semua, tentang rentannya diri kita terjebak dalam asmara kantor yang tak berkesudahan.

Kata orang Jawa, witing tresno jalaran seko kulino - cinta datang karena terbiasa (mudah-mudahan bahasa Jawanya nggak salah ya...hehe). Pepatah lama ini ternyata ada benarnya. Seringnya bertemu di kantor memberikan kedekatan tersendiri bagi beberapa orang. Kalau sesama jenis sih no problemo, yang jadi masalah adalah ketika kedekatan ini terjadi antara lawan jenis. Saling curhat, merasa saling nyaman, asyik diajak berdiskusi, dll. Nah, ketika chemistry itu terbangun, istri, anak dan orang-orang sekitar terlupakan sudah. Apalagi jika salah satunya punya masalah dengan istri/suami di rumah, ditambah lagi si wanita masih single yang secara naluri butuh perhatian lebih dari kaum Adam. Ya sudah,wassalam deh…!

Saudariku, cinta itu pilihan. Kita bisa suka pada siapapun. Kita bisa kagum pada siapapun. Tapi cinta hanya hadir ketika kita mengizinkan diri kita untuk bermain-main dalam rasa suka itu. Ketika logika kita mengingatkan bahwa rasa suka itu sudah memasuki area ‘terlarang’ (baca tanda-tanda mendekati zina pada Episode Cinta serial 1), itu artinya Allah SWT telah memberi alarm peringatan pada kita. Ketika kita terus melanjutkan langkah pada yang salah, maka syaithon-lah yang akan bersorak sorai saat penyesalan menghantam jiwa kita nantinya. By the way, khilaf itu hanya kali pertama lho, selanjutnya pastilah ada unsur kesengajaan kan? Jadi, sekali lagi kukatakan, cinta itu pilihan. Apakah anda akan memilih cinta yang sekedar hasrat sesaat atau cinta yang penuh tanggung jawab, pilihan tetap ada pada anda!

Sekarang, izinkan aku bertanya. Bukankah kita begitu sering mendengar kisah tragis dari perselingkuhan? Entah itu dari media ataupun realita dari orang-orang di sekitar kita. Apa yang kita lihat? Bahwa perselingkuhan hanya membawa penderitaan bagi pelaku dan korban perselingkuhan, bukan? Ayolah, jangan pura-pura tidak tahu. Selanjutnya, coba pikirkan dan jawablah dengan jujur pertanyaanku ini. Ketika anda menjalin asmara dengan selain pasangan anda di kantor, apa yang anda rasakan? Happy? Mungkin. Tapi anda tentunya juga resah dan gelisah. Ya, resah karena takut ketahuan! Gelisah begitu ketemu anak maupun istri/suami di rumah! Anehnya, ada yang bilang justru disitu serunya! What...??? Anda pikir kehidupan ini mainan? Astaghfirullah… Dan ketika nantinya rahasia hati anda terbongkar – bagaimanapun bau bangkai akan tercium jugalah ya – bayangkan perasaan anda? Benar, anda akan merana dan kecewa! Anda akan malu dan serba salah! Begitulah saudariku, cinta terlarang memang begitu merepotkan. Lantas, siapa yang layak disalahkan? Tentu saja diri kita! Kenapa tidak mawas diri? Kenapa mau saja digombal sembarang lelaki? 

Bagi saudariku yang masih dalam kesendirian, izinkan aku mengingatkanmu kali ini. Segalanya telah diciptakan Allah SWT berpasang-pasangan. Maka itu, bersabarlah! Jangan rebut pasangan orang lain! Kesendirian itu adalah ujian keimanan kita. Jangan jadikan gairah sesaat menjadi obsesi yang membutakan iman. Saudariku yang kucintai karena Allah, ada saja memang yang mencoba menggoyahkan iman kita. Kemunculan sosok yang dikagumi, rasa kesendirian yang begitu meresahkan, perhatian lebih dari ‘dia’ yang bukan muhrim kita, kecemburuan melihat pasangan-pasangan bahagia, dan iman yang juga lagi down, itu semua membuat kita rentan terserang virus-virus cinta. Namun, bukan berarti kita boleh teracuni dengan virus yang satu itu! Bukankah kita sebagai muslimah menginginkan proses yang halal? Jika kita memaku niatan kita demikian kuatnya, maka Allah akan penuhi apa yang kita minta. Itu janji Allah. Dan satu hal lagi, bayangkan jika nanti kitalah yang jadi korban perselingkungan suami? Hayoo, masih mau berdalih, saudariku? Pahamilah ini dengan baik.

Baiklah, aku punya hadiah untukmu. Yup, berikut kuberikan beberapa pil agar kita terhindar dari virus yang satu ini. Oke?
Pil pertama : Kurangi interaksimu dengan yang bukan muhrim. Apalagi yang namanya curhat! Jauhi! Khususnya sama lelaki yang rada genit atau yang bisa membuatmu kagum. Kagum adalah benih cinta, ingat? Meski awalnya berniat tulus, tapi lama kelamaan, imanmu yang gak keurus!
Pil kedua : Jaga penampilan yang syar’i. Jangan terlalu mengikuti trend sekarang. Bukan melarangmu untuk kreatif dalam berpenampilan, hanya saja tren sekarang semakin mengundang perhatian kaum Adam! Nah, kita pun jadi rentan sebagai target godaan!
Pil ketiga : Sibukkan diri dengan aktivitas yang bermanfaat. Memperbanyak dzikir dan ibadah, misalnya. Percaya deh, semakin kita sibuk dengan yang positif, jampi-jampi syaithon tak akan mempan! Jebakan nafsu pun tak lagi laku!
Pil keempat : Mintalah pertolongan dan perlindungan Allah atas diri kita. Saudariku, syaithon mungkin bisa mengalahkan kita, tapi siapa yang bisa mengalahkan Allah SWT?

Jika saat ini hati kita sudah terinfeksi virus cinta, maka ceritakan segala keresahan kita padaNya, Dialah yang mempunyai segala jawaban untuk semua kegalauan di hati. Dan selanjutnya, teruslah menjaga diri. Perbaiki apa yang terlanjur salah kita lakukan. Kenapa? Agar ujian kesendirian itu tidak berakhir hukuman dari Allah SWT. 

Oh ya, aku ingat sebuah lirik lagu. Mungkin ini bisa meredakan sedikit keresahanmu. “Sabarlah menanti, janji Allah kan pasti. Kekasih kan datang sesuai kadar iman di hati…”. Nah, jadi sabar aja ya... Semoga segala kesabaran kita akan Allah SWT balas dengan pendamping yang istimewa. Istimewa agamanya, istimewa akhlaknya, istimewa jiwanya, istimewa semangat dakwahnya, istimewa juga cintanya! Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar