Ada derai-derai tangis yang tak mampu terisak
Terpendam, hilang ditelan senyum
semu
Aku
merindukanmu, Ibu…
Sungguh, begitu
rindu..
Saat yang lain
menggemakan nama ibu
Aku terhenyak,
aku tak lagi memilikimu
Mengapa Dia
mengambilmu
Saat aku mulai
mampu mengeja kasih sayangmu
Mengapa Dia
menjauhkanmu dariku
Saat cintamu
perlahan-lahan terbaca olehku
Ahh, semua
salahku…
Lamban
menyadari arti hadirmu
Tak mampu
melihat dengan terang
Akan cintamu
yang tak pernah gersang
Kepada Allah,
kupinta seribu malaikatNya
Menyampaikan
maaf tak berhingga
Agar tumpukan
kecewa yang pernah terselip dalam dadamu
Lenyap bersama
segunung doaku
Ibu, belum ada yang
bisa kusuguhkan padamu
Sebagai balas
cinta yang seputih kapas
Meski engkau tak
pernah mengiba balas
Dalam hati aku berharap,
Agar apa yang
luput kupersembahkan di dunia
Diganti Allah
dengan sebuah surga
Untukmu,
ibundaku tercinta...
Umakku sayang,
Tak terasa ya, sudah 7 tahun berlalu sejak kita terakhir kali bertemu. Lama
sekali ya, mak? Apa Umak merindukanku? Aku merindukanmu, mak. Sangat. Sampai
sekarang, tak sekalipun rindu ini berkurang. Lidah ini pun tak pernah jemu
melafalkan doa-doa kebaikan untuk Umak selepas sholat, berharap Allah SWT akan
selalu menjaga dan melindungi Umak, dalam limpahan kasih sayangNya.
Mak, masih ingatkah peristiwa yang dulu selalu Umak ceritakan berulang-ulang padaku? Waktu itu, sekitar pukul delapan pagi, tanggal 27 Maret 1985, Umak melahirkanku. Untuk pertama kalinya aku menatap dunia, setelah 9 bulan lebih berada dalam kandungan. Katamu, saat itu engkau begitu susah payah melahirkanku. Padahal sudah anak ketiga, harusnya tidak sesulit itu. Dengan mata jenakamu, engkau akan menggodaku, bahwa itu pertanda kalau aku mungkin terlahir dengan sifat keras kepala. Ahh, Umak benar, sampai sekarang pun aku masih saja keras kepala. Aku ingat, Umak akan selalu tersenyum jika mengingat bisa-bisanya mengidam es cendol saat akan melahirkanku di klinik persalinan. Ayah bingung tentu saja. Tapi, Ibu tak mau tahu, yang penting es cendol harus ada. Hmm, sekarang aku jadi tahu darimana sifat keras kepalaku ini menurun. Meski fisikku mirip Ayah, tapi karakterku banyak mirip Umak.
Mak, bagiku engkau
adalah sosok yang tegas dengan kelembutan yang menyejukkan. Engkau memang
jarang memanjakan kami dengan kata-kata lembut, pelukan hangat, dan ciuman
sayang, meski begitu kami bisa merasakan cintamu lewat kepedulian yang begitu
besar pada kami. Aku masih ingat, saat kehidupan kita masih sangat sederhana, Umak
tak akan menyentuh secuil makanan pun selama kami masih belum terlihat kenyang.
Saat lebaran tiba, baju Umak pun jarang berganti yang baru, karena harus
mendahulukan baju-baju kami, anak dan suamimu. Ahh, engkau memang ibu terbaik…
Sewaktu kecil, aku
memang tak begitu dekat denganmu. Umak terlalu sibuk memusatkan perhatian pada
kenakalan abang dan si bungsu kesayangan keluarga kita. Aku selalu merasa bahwa
diriku tak punya cukup tempat di hatimu. Ahh, betapa buruknya prasangka-ku itu!
Aku tahu tidak seperti itu. Umak bahkan
sangat menyayangiku. Ya, aku bisa melihatnya saat Umak begitu gigih memperjuangkan
kuliahku. Umak begitu tak berdaya saat ayah pergi meninggalkan kita, mengambil
semua uang simpanan tanpa menyisakan sedikit pun. Aku tahu hancurnya perasaanmu
saat itu, mak… Aku tak pernah melihatmu berhenti menangis. Namun alih-alih
menyerah, yang kusaksikan, Umak justru mencoba bangkit sekuat tenaga demi aku.
Demi pendidikanku. Demi cita-citaku, yang ayah sendiri telah pasrah untuk itu.
Sungguh, aku mencintaimu mak… Dan hati ini begitu pilu karena belum ada yang
bisa kupersembahkan sebagai bukti kasih sayangku padamu. Engkau bahkan telah
tiada sebelum melihatku memakai toga. Mak, maafkan… Maafkanlah anakmu ini…
Mak, sebentar lagi Hari
Ibu. Semua anak sibuk menyiapkan kado untuk ibu. Aku tahu, Umak tak begitu suka
dibelikan kado. Tapi, aku sungguh ingin membelikan kado. Aku ingin membelikan Umak
baju baru. Baju yang paling bagus, yang paling mahal. Tanang saja mak, aku
sudah bekerja sekarang, di perusahaan besar dengan gaji yang lumayan. Tentu
saja itu semua berkat Umak. Tapi, kenapa Umak pergi begitu cepat? Kenapa pergi
sebelum aku sempat memberi apa-apa? Kepada siapa kado itu bisa kutitipkan? Kepada
siapa, mak? Umak kini telah begitu jauh.
Mak, jika kado
duniaku tak bisa lagi sampai padamu, maka aku punya kado akhirat untukmu.
Hafalan Qur’anku. Ya, aku pernah membaca hadist bahwa barangsiapa yang
menghafalkan Al Qur’an maka kepada orangtuanya akan dipakaikan jubah kemuliaan
yang tidak pernah ada di dunia. Sejak itu mak, aku selalu menghafalkan Al
Qur’an sedikit demi sedikit. Jika niatku mulai longgar, cepat-cepat aku ingat
senyum Umak agar aku semangat lagi. Benar mak, senyuman Umak yang selalu
menyemangatiku – senyum banggamu padaku. Jika bagi setiap orang di dunia ini
tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu, maka bagiku, setiap hari – sampai aku bisa
menghafalkan Al Qur’an – akan kusebut sebagai Hari Ibu. Ya, kunamai itu hari-hari
membungkus kadoku untuk Umak.
Mak, engkau telah
melaksanakan amanahmu dengan baik. Engkau telah menjaga dan mendidik
anak-anakmu dengan segenap daya dan kasihmu. Aku bangga lahir dari rahimmu. Aku
bahagia menjadi anakmu. Semoga Allah SWT memberikan balasan terbaik atas
perjuanganmu sebagai ibu. Dan semoga surga
menjadi tempat bertemu kita kembali. Amin.
Salam cinta,
Anandamu yang keras kepala
Note : Rasanya ingin mengingatkan pada semua anak di dunia, bahwa setiap ibu
memang berbeda. Ada yang lembut, ada yang tegas. Ada yang cerewet, ada yang
kalem. Ada yang marah lewat tangan, ada pula yang lewat ucapan. Mereka beragam.
Tapi, bagaimanapun berbedanya bentuk kasih mereka, namun
esensi kasih mereka akan tetap sama. Mereka sayang kita, anak-anaknya.
Itu naluri yang abadi.



