Hari itu, aku tidak
bekerja seperti biasa di kantor. Aku diundang untuk mengikuti motivation
training selama 2 hari penuh. Katanya sih, biar kita pada semangat kerja,
bukan cuma pada saat dapat bonus atau saat kenaikan gaji. Hahayy… Bisa berhasil nggak
yah nantinya, soalnya kita memang pada matre semua! Biasalah, yang ibu-ibu
pengen beli ini itu untuk anaknya, yang bapak-bapak pengen nurutin permintaan
ini itu dari istrinya, dan yang masih single tentu saja biar bisa beli
gadget keluaran terbaru… Hehehe…
Oh ya, aku belum menyebutkan
nama trainer-nya ya? Namanya Dadang Kadarusman, pada kenal nggak? Dia bukan
hanya trainer lho, ternyata dia penulis buku juga! Hayooo, yang sering
mampir ke Gramedia pasti pernah lihat beberapa bukunya di jajaran best seller…
Asyik… Asyik.. Jadi pengen belajar menulis juga sama dia! Syukur-syukur
bisa dibantu nerbitin buku! Hahaha... Menghayal mode on...
Tenang saja guys,
yang ingin kuceritakan kali ini bukan tentang materi training kok, aku
yakin kalian pasti sering ikut training
seperti itu. Hanya saja di training
itu, ada bagian yang cukup menarik dan kupikir oke juga untuk di-share. Mau tahu? Oke, temanya adalah renungan tentang siapa diri kita. Who
am I? Sebelumnya, aku mau nanya. Pernah nonton film Les
Misearables? Film itu diangkat dari sebuah novel karya Victor Hugo. Sebenarnya buku itu di-release tahun
1862, hanya saja di-booming-kan kembali di permulaan tahun ini. Menurutku,
ada bagian yang sangat menarik dari cerita itu. Jika tidak keberatan, aku akan
mengisahkan sedikit disini.
Laki-laki itu bernama
Jean Valjean. Dia dipenjara selama 19 tahun karena mencuri sepotong roti
penghilang lapar bagi keluarganya. Saat dinyatakan bebas, Jean Valjean keluar
tanpa ekspresi. Apa yang terjadi pada jiwanya? Oh ternyata, dia menyimpan
dendam. Dendam pada masyarakat yang menobatkannya sebagai penjahat hanya karena
sepotong roti dan dendam pada Tuhan karena telah menciptakan takdir yang buruk
untuknya. Ada
keinginan kuat dalam hatinya untuk melakukan kejahatan kepada makhluk hidup,
tidak peduli siapa. Saat pertama kali melihat dunia luar, dia bingung hendak
melangkah kemana. Setiap orang yang ditemuinya, secara sengaja menolak
memberikan tumpangan penginapan. Alasannya satu, paspornya menggambarkan bahwa
Jean Valjean adalah orang yang sangat berbahaya. Saat jiwanya mengering karena
putus asa, seorang wanita menyarankan untuk mendatangi rumah seorang uskup. Sang
uskup menerimanya dengan begitu baik. Akhirnya dia pun bisa mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Menjelang pagi, laki-laki itu terbangun.
Entah bagaimana dia memutuskan untuk melarikan diri dari rumah itu dengan
membawa sebuah tempat lilin perak. Ya, dia mencuri di rumah penolongnya! Namun,
beberapa jam setelahnya, dia tertangkap polisi dan dibawa kembali ke rumah sang
uskup. Dia tertunduk malu. Wajahnya muram dan tampak lelah. Tapi, apa yang kemudian
dikatakan sang uskup membuatnya begitu terperangah. “Wah, saya senang melihat
anda disini. Saya sudah memberikan anda tempat lilin perak itu, namun kenapa
anda tidak membawa serta sendok dan garpunya?” sang uskup berbicara dengan nada
riang. Jean Valjean membelalakkan mata. Tubuhnya gemetar. Dia memegang tempat
lilin itu dengan kaku dan kebingungan. Saat para polisi telah pergi, sang uskup
melanjutkan kalimatnya, “Pergilah dengan tenang. Anda bukan lagi milik iblis, anda
milik kebaikan. Jiwa andalah yang saya beli dari anda. Saya menariknya dari
pikiran-pikiran gelap dan penderitaan, dan saya memberikannya kepada Tuhan”.
Jean Valjean pun
meninggalkan kota itu dengan berlari kencang. Dia mengambil jalan dari arah mana
saja yang terlihat olehnya. Dia menyadari adanya kemarahan dalam dirinya. Dia
tidak yakin apakah dia tersentuh atau dipermalukan. Pemikiran-pemikiran yang
tak dapat diungkapkan berkumpul di dalam dirinya sepanjang hari. Terlalu lama
kebencian mengakar dalam dirinya, seolah tak ada lagi celah kebaikan dalam
hatinya. Namun, ucapan sang uskup terulang terus menerus dalam pikirannya.
Ketika akhirnya kebaikan menerobos dinding jiwanya, Jean Valjean tersentak
dengan kesedihan mendalam. Dia menangis ketakutan dengan teriakan yang memilukan,
“Who am I?”
Wah, panjang juga
yah kisahnya. Bagaimana menurut kalian, mengharukan sekali bukan? Jangan bilang
saat ini kalian sedang mencari tissue. Hehe, itu jelas aku. Berapa kali
pun aku mengulang cerita ini, pasti wajahku banjir airmata! Nah, kembali pada
pertanyaan ‘who am I? Siapa aku?’ Saat training kemarin, sang trainer
menantang kami dengan sebuah pertanyaan, “Apakah anda sudah kenal dengan diri
anda? Kalau begitu, mulailah dengan menuliskan keunikan anda sekarang!”. Kami,
para trainee kasak kusuk nggak karuan, semuanya menoleh mencari bantuan.
Wajah-wajah bingung kami pun mulai kelihatan. Ada yang alisnya naik sebelah, ada
yang menggaruk kepala, ada yang matanya muter kayak bola, ada yang mulai memijat
kening, ada yang menoel-noel hidung, ada yang menyentuh dagu, ada yang bibirnya
maju, bahkan ada yang menggigit kuku. Menggelikan sekali! Bagaimana mungkin
ketika diminta menyebutkan keunikan diri sendiri, kami justru kelimpungan
setengah mati? Atau, jangan-jangan kami sama saja dengan Jean Valjean yang
bingung siapa dirinya? Waduh…
Itulah teman,
ternyata sebagian besar dari kita memang belum kenal dirinya sendiri. Kalau
begitu, tunggu apa lagi, hayuk atuh kenalan..! Sama yang lain aja kenalan, masa’ sama diri
sendiri sampai ketinggalan! Caranya?
Pertama, kita perlu
kenal Tuhan. Ketika kita mengenal Tuhan, kita akan segera insaf bahwa kita
milik Tuhan, hambaNya. Lemah. Bodoh. Alpa. Penuh kekurangan. Hanya dengan
kebaikanNya lah kita menjadi sempurna. Coba perhatikan diri kita, mulai dari
anggota tubuh, panca indra, akal, degup jantung, dan yang lainnya, semuanya
sungguh di luar nalar kita! So, kita mungkin sudah bisa menjawab
sekarang, siapa aku? Aku adalah hamba Allah SWT.
Kedua, cari tahu tujuan
hidup kita. Cobalah berpikir, Tuhan tidak mungkin menciptakan kita dengan
sia-sia. Kelak kita akan diminta pertanggungjawaban. Masih ingat firman Allah tentang itu?
Kalau lupa, biar kusebutkan penggalan ayatnya sedikit, “Apakah manusia
mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?”
(QS. Al Qiyaamah : 36). Biar lebih jelas, buka Al Qur’an sendiri ya.. Jadi tujuan hidup kita adalah agar bisa berakhir di terminal surga Allah. Untuk bisa masuk kesana, kita pun akan selalu mengupayakan
kebaikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Segala yang berbau
kemaksiatan sebisa mungkin kita tinggalkan. Kenapa? Karena kebaikan atau kejahatan
seberat dzarrah pun pasti Allah perhitungkan. Tak ada yang mau masuk
neraka kan? Jadi, jawaban kedua ‘siapa aku’ yaitu aku adalah penghuni
surga.
Ketiga, temukan formula
hidup sendiri. Teman, kita yang paling tahu apa yang kita suka dan apa yang
kita benci, apa yang kita damba dan apa yang kita hindari, jadi jangan salah
langkah. Jika kita senang makanan manis, jangan beli asinan ; jika kita suka
music klasik, jangan putar lagu rock ; jika kita suka mobil ferary, jangan beli
sedan ; jika kita suka berdagang, jangan jadi karyawan gajian. Ups, point yang
terakhir dipikir baik-baik dulu yah! Hehe.. So, pilihan ada di tangan kita.
Jangan bercermin pada orang lain agar kita bisa menikmati kehidupan kita
sendiri. Sekurang-kurangnya kita dari orang lain (anggaplah demikian) kita
adalah produk asli, bukan imitasi. Tunjukkan keunikan kita. Tampilkan pada
dunia bahwa kita berbeda. Tapi, yang positif lho ya…So, jawaban terakhir ‘siapa
aku’ ialah aku adalah aku sendiri.
Bagaimana, masih
bingung siapa anda? Kalau begitu, mulailah dengan menyalin sedikit demi sedikit
diri anda dalam catatan-catatan kecil. Tuliskan tentang apa yang telah anda
lakukan hari ini, tulis juga apa yang hendak anda raih, apa yang belum anda
lakukan untuk keluarga dan orang-orang sekeliling anda, dll. Dengan begitu anda
bisa mengukur bagaimana pencapaian hidup anda sejauh ini. Secara tidak
langsung, anda telah menuliskan biografi hidup anda sendiri lho... Luar biasa
bukan? Siapa tahu bisa menjadi inspirasi bagi anak cucu anda nantinya… Saya
akhiri tulisan ini dengan mengutip sebuah pepatah lama, ‘tak kenal maka tak
sayang’. Ya, jika anda tak kenal diri anda, maka anda pun pasti tak
sayang pada diri anda!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar