Senin, 24 Juni 2013

Who am I ?


Hari itu, aku tidak bekerja seperti biasa di kantor. Aku diundang untuk mengikuti motivation training selama 2 hari penuh. Katanya sih, biar kita pada semangat kerja, bukan cuma pada saat dapat bonus atau saat kenaikan gaji. Hahayy… Bisa berhasil nggak yah nantinya, soalnya kita memang pada matre semua! Biasalah, yang ibu-ibu pengen beli ini itu untuk anaknya, yang bapak-bapak pengen nurutin permintaan ini itu dari istrinya, dan yang masih single tentu saja biar bisa beli gadget keluaran terbaru… Hehehe…
Oh ya, aku belum menyebutkan nama trainer-nya ya? Namanya Dadang Kadarusman, pada kenal nggak? Dia bukan hanya trainer lho, ternyata dia penulis buku juga! Hayooo, yang sering mampir ke Gramedia pasti pernah lihat beberapa bukunya di jajaran best seller… Asyik… Asyik.. Jadi pengen belajar menulis juga sama dia! Syukur-syukur bisa dibantu nerbitin buku! Hahaha... Menghayal mode on...
Tenang saja guys, yang ingin kuceritakan kali ini bukan tentang materi training kok, aku yakin kalian pasti sering ikut training seperti itu. Hanya saja di training itu, ada bagian yang cukup menarik dan kupikir oke juga untuk di-share. Mau tahu? Oke, temanya adalah renungan tentang siapa diri kita. Who am I? Sebelumnya, aku mau nanya. Pernah nonton film Les Misearables? Film itu diangkat dari sebuah novel karya Victor Hugo.  Sebenarnya buku itu di-release tahun 1862, hanya saja di-booming-kan kembali di permulaan tahun ini. Menurutku, ada bagian yang sangat menarik dari cerita itu. Jika tidak keberatan, aku akan mengisahkan sedikit disini. 
Laki-laki itu bernama Jean Valjean. Dia dipenjara selama 19 tahun karena mencuri sepotong roti penghilang lapar bagi keluarganya. Saat dinyatakan bebas, Jean Valjean keluar tanpa ekspresi. Apa yang terjadi pada jiwanya? Oh ternyata, dia menyimpan dendam. Dendam pada masyarakat yang menobatkannya sebagai penjahat hanya karena sepotong roti dan dendam pada Tuhan karena telah menciptakan takdir yang buruk untuknya. Ada keinginan kuat dalam hatinya untuk melakukan kejahatan kepada makhluk hidup, tidak peduli siapa. Saat pertama kali melihat dunia luar, dia bingung hendak melangkah kemana. Setiap orang yang ditemuinya, secara sengaja menolak memberikan tumpangan penginapan. Alasannya satu, paspornya menggambarkan bahwa Jean Valjean adalah orang yang sangat berbahaya. Saat jiwanya mengering karena putus asa, seorang wanita menyarankan untuk mendatangi rumah seorang uskup. Sang uskup menerimanya dengan begitu baik. Akhirnya dia pun bisa mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Menjelang pagi, laki-laki itu terbangun. Entah bagaimana dia memutuskan untuk melarikan diri dari rumah itu dengan membawa sebuah tempat lilin perak. Ya, dia mencuri di rumah penolongnya! Namun, beberapa jam setelahnya, dia tertangkap polisi dan dibawa kembali ke rumah sang uskup. Dia tertunduk malu. Wajahnya muram dan tampak lelah. Tapi, apa yang kemudian dikatakan sang uskup membuatnya begitu terperangah. “Wah, saya senang melihat anda disini. Saya sudah memberikan anda tempat lilin perak itu, namun kenapa anda tidak membawa serta sendok dan garpunya?” sang uskup berbicara dengan nada riang. Jean Valjean membelalakkan mata. Tubuhnya gemetar. Dia memegang tempat lilin itu dengan kaku dan kebingungan. Saat para polisi telah pergi, sang uskup melanjutkan kalimatnya, “Pergilah dengan tenang. Anda bukan lagi milik iblis, anda milik kebaikan. Jiwa andalah yang saya beli dari anda. Saya menariknya dari pikiran-pikiran gelap dan penderitaan, dan saya memberikannya kepada Tuhan”. 
Jean Valjean pun meninggalkan kota itu dengan berlari kencang. Dia mengambil jalan dari arah mana saja yang terlihat olehnya. Dia menyadari adanya kemarahan dalam dirinya. Dia tidak yakin apakah dia tersentuh atau dipermalukan. Pemikiran-pemikiran yang tak dapat diungkapkan berkumpul di dalam dirinya sepanjang hari. Terlalu lama kebencian mengakar dalam dirinya, seolah tak ada lagi celah kebaikan dalam hatinya. Namun, ucapan sang uskup terulang terus menerus dalam pikirannya. Ketika akhirnya kebaikan menerobos dinding jiwanya, Jean Valjean tersentak dengan kesedihan mendalam. Dia menangis ketakutan dengan teriakan yang memilukan, “Who am I?
Wah, panjang juga yah kisahnya. Bagaimana menurut kalian, mengharukan sekali bukan? Jangan bilang saat ini kalian sedang mencari tissue. Hehe, itu jelas aku. Berapa kali pun aku mengulang cerita ini, pasti wajahku banjir airmata! Nah, kembali pada pertanyaan ‘who am I? Siapa aku?’ Saat training kemarin, sang trainer menantang kami dengan sebuah pertanyaan, “Apakah anda sudah kenal dengan diri anda? Kalau begitu, mulailah dengan menuliskan keunikan anda sekarang!”. Kami, para trainee kasak kusuk nggak karuan, semuanya menoleh mencari bantuan. Wajah-wajah bingung kami pun mulai kelihatan. Ada yang alisnya naik sebelah, ada yang menggaruk kepala, ada yang matanya muter kayak bola, ada yang mulai memijat kening, ada yang menoel-noel hidung, ada yang menyentuh dagu, ada yang bibirnya maju, bahkan ada yang menggigit kuku. Menggelikan sekali! Bagaimana mungkin ketika diminta menyebutkan keunikan diri sendiri, kami justru kelimpungan setengah mati? Atau, jangan-jangan kami sama saja dengan Jean Valjean yang bingung siapa dirinya? Waduh… 
Itulah teman, ternyata sebagian besar dari kita memang belum kenal dirinya sendiri. Kalau begitu, tunggu apa lagi, hayuk atuh kenalan..! Sama yang lain aja kenalan, masa’ sama diri sendiri sampai ketinggalan! Caranya?
Pertama, kita perlu kenal Tuhan. Ketika kita mengenal Tuhan, kita akan segera insaf bahwa kita milik Tuhan, hambaNya. Lemah. Bodoh. Alpa. Penuh kekurangan. Hanya dengan kebaikanNya lah kita menjadi sempurna. Coba perhatikan diri kita, mulai dari anggota tubuh, panca indra, akal, degup jantung, dan yang lainnya, semuanya sungguh di luar nalar kita! So, kita mungkin sudah bisa menjawab sekarang, siapa aku? Aku adalah hamba Allah SWT.
Kedua, cari tahu tujuan hidup kita. Cobalah berpikir, Tuhan tidak mungkin menciptakan kita dengan sia-sia. Kelak kita akan diminta pertanggungjawaban. Masih ingat firman Allah tentang itu? Kalau lupa, biar kusebutkan penggalan ayatnya sedikit, “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyaamah : 36). Biar lebih jelas, buka Al Qur’an sendiri ya.. Jadi tujuan hidup kita adalah agar bisa berakhir di terminal surga Allah. Untuk bisa masuk kesana, kita pun akan selalu mengupayakan kebaikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Segala yang berbau kemaksiatan sebisa mungkin kita tinggalkan. Kenapa? Karena kebaikan atau kejahatan seberat dzarrah pun pasti Allah perhitungkan. Tak ada yang mau masuk neraka kan? Jadi, jawaban kedua ‘siapa aku’ yaitu aku adalah penghuni surga.
Ketiga, temukan formula hidup sendiri. Teman, kita yang paling tahu apa yang kita suka dan apa yang kita benci, apa yang kita damba dan apa yang kita hindari, jadi jangan salah langkah. Jika kita senang makanan manis, jangan beli asinan ; jika kita suka music klasik, jangan putar lagu rock ; jika kita suka mobil ferary, jangan beli sedan ; jika kita suka berdagang, jangan jadi karyawan gajian. Ups, point yang terakhir dipikir baik-baik dulu yah! Hehe.. So, pilihan ada di tangan kita. Jangan bercermin pada orang lain agar kita bisa menikmati kehidupan kita sendiri. Sekurang-kurangnya kita dari orang lain (anggaplah demikian) kita adalah produk asli, bukan imitasi. Tunjukkan keunikan kita. Tampilkan pada dunia bahwa kita berbeda. Tapi, yang positif lho ya…So, jawaban terakhir ‘siapa aku’ ialah aku adalah aku sendiri.
Bagaimana, masih bingung siapa anda? Kalau begitu, mulailah dengan menyalin sedikit demi sedikit diri anda dalam catatan-catatan kecil. Tuliskan tentang apa yang telah anda lakukan hari ini, tulis juga apa yang hendak anda raih, apa yang belum anda lakukan untuk keluarga dan orang-orang sekeliling anda, dll. Dengan begitu anda bisa mengukur bagaimana pencapaian hidup anda sejauh ini. Secara tidak langsung, anda telah menuliskan biografi hidup anda sendiri lho... Luar biasa bukan? Siapa tahu bisa menjadi inspirasi bagi anak cucu anda nantinya… Saya akhiri tulisan ini dengan mengutip sebuah pepatah lama, ‘tak kenal maka tak sayang’. Ya, jika anda tak kenal diri anda, maka anda pun pasti tak sayang pada diri anda!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar