Sudah hampir tiga
tahun aku hidup di Jakarta, namun bayang-bayang kota tercintaku, Medan, masih belum hilang juga. Banyak yang bilang, ala bisa karena biasa.
Aku pun mencoba berpikir seperti itu. Namun, hingga saat ini aku masih
saja berharap suatu saat bisa tinggal di Medan lagi. Padahal teman-temanku yang juga berasal dari daerah, sudah merasa betah
disini. Bahkan sudah merajut rencana kehidupannya di Jakarta. Aneh memang, saat
yang lain bermimpi untuk hidup di Jakarta, aku malah ingin melepas statusku sebagai
penghuni Jakarta.
Pernah ada yang
bertanya, apa sih yang begitu berbeda dari kota Medan hingga aku begitu ngotot
ingin pindah kesana? Dan pertanyaan itu sukses membuatku ternganga. Hmm, iya
ya, apa ya? Aku begitu kesulitan menjawabnya. Sebenarnya kedua kota itu sih tidak jauh berbeda. Seperti halnya Jakarta, Medan adalah kota metropolis dengan budaya yang
sangat heterogen. Perkembangan bisnis dan teknologinya maju pesat. Gedung
pencakar langitnya juga banyak. Bahkan dalam hal ’traffic jam’ pun, saat ini Medan sudah tak kalah dari Jakarta. Terakhir kali ke Medan, aku terjebak macet dimana-mana. Hfff...! Satu
hal yang pastinya membuat Jakarta lebih istimewa adalah karena statusnya sebagai
ibukota negara. Kota ini menjadi pusat informasi, kiblatnya media, dan tentu
saja gemerlap dengan dunia keartisannya. Mungkin ini yang membuatku tidak betah
disini. Kota ini terlalu sibuk…
Sebenarnya aku cukup
menikmati hidup di Jakarta. Aku mulai terbiasa dengan aktivitas hidup yang
serba cepat, terbiasa dengan individualis masyarakatnya, terbiasa dengan
metromini yang kebut-kebutan di sepanjang jalan, terbiasa desak-desakan di busway,
bahkan terbiasa dengan macetnya yang luar biasa! Tidak itu saja, kota ini
begitu complete. Mulai dari makanan, hiburan, permainan, tempat-tempat
bersejarah, hingga tempat favoritku 'toko buku' bertebaran dimana-mana. Aku
juga suka kompleks perumahannya yang tertata rapi dan bersih. Kehidupannya modern
dan sangat mandiri. Dan yang paling kukagumi adalah kesibukan orang-orang
disini begitu menginspirasi. Bahwa waktu adalah hal yang tak tergantikan. Bahwa
setiap harinya Jakarta selalu ingin membuat perubahan besar. Kemajuan yang
menggenerasi.
Namun,
ada hal yang tak kudapatkan disini. Apa itu? Yup, benar sekali. Komunitas dakwah. Disini, aku merasa begitu sendiri memperjuangkan
keistiqomahan iman. Tidak ada kegiatan keislaman yang membuatku bergairah
seperti yang kulakukan di Medan dulu. Aku memang bergabung dalam komunitas akhwat
di pengajian mingguan, tapi itu tidak cukup untukku. Aku ingin lebih memaksimalkan
diri lagi. Aku ingin bergerak, ingin terus berkontribusi pada Islam. Dan aku
benar-benar tidak tahu menyalurkannya lewat apa. Aku tidak punya channel
disini. Tidak ada jalur dakwah yang kukenal karena aku hanya pendatang. Beda
halnya dengan di Medan, disana aku mengenal cukup baik beberapa kampus dan
sekolah, tempatku bermimpi menanam benih-benih kebaikan, Insya Allah.
Seorang
akhwat pernah menasehatiku bahwa ketidakmaksimalan itu bukan semata karena
perbedaan antara Medan dan Jakarta. Bukan karena sudah punya channel
atau tidak. Itu lebih karena dakwah pasca kampus memang jauh lebih rumit.
Target dakwah bukan lagi mahasiswa-mahasiswa idealis yang dipenuhi rasa ingin
tahu akan penemuan jati diri, tetapi target dakwah pasca kampus adalah
manusia-manusia yang sudah punya frame berpikir sendiri. Tidak mudah
menyisipkan nilai-nilai Islami dalam pemikiran mereka. Mereka meyakini jalur
yang mereka pilih dan sudah nyaman dengan itu. Tak peduli sesuai atau tidak
sesuai dengan syariat. Dan jika kenyamanan mereka diusik, hanya ada 2
kemungkinan, kita dimusuhi atau diabaikan. Pilihan yang sulit, bukan? Selain
itu, kesibukan kita dalam pekerjaan sedikit banyaknya juga menurunkan semangat
dakwah kita. Porsi tenaga dan pikiran kita tidak seperti dulu lagi. Semuanya
sudah terbagi Apalagi bagi yang sudah berumah tangga. Jadi bukan semata-mata
karena lokasi dakwah, tapi karena tahapan kehidupan kita yang saat ini juga
sudah berbeda. Aku pikir, temanku ini ada benarnya juga.
Memang,
dakwah seharusnya bisa dilakukan dimana pun. Sulitnya medan dakwah tak boleh
menjadi alasan pembenaran kemunduran dakwah kita. Sebaliknya, kondisi itu harus
kita manfaatkan sebagai ajang pembuktian ‘kesungguhan niat’ kita dalam
membela agamaNya. Nah, mungkin yang perlu diubah adalah bentuk dakwah itu
sendiri. Kita harus cerdas dalam mengemas syariat Islam yang kita tawarkan agar
tidak terlihat memberatkan, melainkan ringan, menyenangkan, dan bermanfaat. Meksi
begitu, mimpi untuk berkontribusi di kampung halaman belumlah lenyap. Namun,
aku pun tak akan menyia-nyiakan waktuku disini dengan galau yang tak
jelas. Dakwah must go on. Wallahu ‘a’lam bis showab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar