Selasa, 25 Juni 2013

Dakwah must go on....




Sudah hampir tiga tahun aku hidup di Jakarta, namun bayang-bayang kota tercintaku, Medan, masih belum hilang juga. Banyak yang bilang, ala bisa karena biasa. Aku pun mencoba berpikir seperti itu. Namun, hingga saat ini aku masih saja berharap suatu saat bisa tinggal di Medan lagi. Padahal teman-temanku yang juga berasal dari daerah, sudah merasa betah disini. Bahkan sudah merajut rencana kehidupannya di Jakarta. Aneh memang, saat yang lain bermimpi untuk hidup di Jakarta, aku malah ingin melepas statusku sebagai penghuni Jakarta.

Pernah ada yang bertanya, apa sih yang begitu berbeda dari kota Medan hingga aku begitu ngotot ingin pindah kesana? Dan pertanyaan itu sukses membuatku ternganga. Hmm, iya ya, apa ya? Aku begitu kesulitan menjawabnya. Sebenarnya kedua kota itu sih tidak jauh berbeda. Seperti halnya Jakarta, Medan adalah kota metropolis dengan budaya yang sangat heterogen. Perkembangan bisnis dan teknologinya maju pesat. Gedung pencakar langitnya juga banyak. Bahkan dalam hal ’traffic jam’ pun, saat ini Medan sudah tak kalah dari Jakarta. Terakhir kali ke Medan, aku terjebak macet dimana-mana. Hfff...!  Satu hal yang pastinya membuat Jakarta lebih istimewa adalah karena statusnya sebagai ibukota negara. Kota ini menjadi pusat informasi, kiblatnya media, dan tentu saja gemerlap dengan dunia keartisannya. Mungkin ini yang membuatku tidak betah disini. Kota ini terlalu sibuk…

Sebenarnya aku cukup menikmati hidup di Jakarta. Aku mulai terbiasa dengan aktivitas hidup yang serba cepat, terbiasa dengan individualis masyarakatnya, terbiasa dengan metromini yang kebut-kebutan di sepanjang jalan, terbiasa desak-desakan di busway, bahkan terbiasa dengan macetnya yang luar biasa! Tidak itu saja, kota ini begitu complete. Mulai dari makanan, hiburan, permainan, tempat-tempat bersejarah, hingga tempat favoritku 'toko buku' bertebaran dimana-mana. Aku juga suka kompleks perumahannya yang tertata rapi dan bersih. Kehidupannya modern dan sangat mandiri. Dan yang paling kukagumi adalah kesibukan orang-orang disini begitu menginspirasi. Bahwa waktu adalah hal yang tak tergantikan. Bahwa setiap harinya Jakarta selalu ingin membuat perubahan besar. Kemajuan yang menggenerasi. 

        Namun, ada hal yang tak kudapatkan disini. Apa itu? Yup, benar sekali. Komunitas dakwah. Disini, aku merasa begitu sendiri memperjuangkan keistiqomahan iman. Tidak ada kegiatan keislaman yang membuatku bergairah seperti yang kulakukan di Medan dulu. Aku memang bergabung dalam komunitas akhwat di pengajian mingguan, tapi itu tidak cukup untukku. Aku ingin lebih memaksimalkan diri lagi. Aku ingin bergerak, ingin terus berkontribusi pada Islam. Dan aku benar-benar tidak tahu menyalurkannya lewat apa. Aku tidak punya channel disini. Tidak ada jalur dakwah yang kukenal karena aku hanya pendatang. Beda halnya dengan di Medan, disana aku mengenal cukup baik beberapa kampus dan sekolah, tempatku bermimpi menanam benih-benih kebaikan, Insya Allah.

        Seorang akhwat pernah menasehatiku bahwa ketidakmaksimalan itu bukan semata karena perbedaan antara Medan dan Jakarta. Bukan karena sudah punya channel atau tidak. Itu lebih karena dakwah pasca kampus memang jauh lebih rumit. Target dakwah bukan lagi mahasiswa-mahasiswa idealis yang dipenuhi rasa ingin tahu akan penemuan jati diri, tetapi target dakwah pasca kampus adalah manusia-manusia yang sudah punya frame berpikir sendiri. Tidak mudah menyisipkan nilai-nilai Islami dalam pemikiran mereka. Mereka meyakini jalur yang mereka pilih dan sudah nyaman dengan itu. Tak peduli sesuai atau tidak sesuai dengan syariat. Dan jika kenyamanan mereka diusik, hanya ada 2 kemungkinan, kita dimusuhi atau diabaikan. Pilihan yang sulit, bukan? Selain itu, kesibukan kita dalam pekerjaan sedikit banyaknya juga menurunkan semangat dakwah kita. Porsi tenaga dan pikiran kita tidak seperti dulu lagi. Semuanya sudah terbagi Apalagi bagi yang sudah berumah tangga. Jadi bukan semata-mata karena lokasi dakwah, tapi karena tahapan kehidupan kita yang saat ini juga sudah berbeda. Aku pikir, temanku ini ada benarnya juga. 

        Memang, dakwah seharusnya bisa dilakukan dimana pun. Sulitnya medan dakwah tak boleh menjadi alasan pembenaran kemunduran dakwah kita. Sebaliknya, kondisi itu harus kita manfaatkan sebagai ajang pembuktian ‘kesungguhan niat’ kita dalam membela agamaNya. Nah, mungkin yang perlu diubah adalah bentuk dakwah itu sendiri. Kita harus cerdas dalam mengemas syariat Islam yang kita tawarkan agar tidak terlihat memberatkan, melainkan ringan, menyenangkan, dan bermanfaat. Meksi begitu, mimpi untuk berkontribusi di kampung halaman belumlah lenyap. Namun, aku pun tak akan menyia-nyiakan waktuku disini dengan galau yang tak jelas. Dakwah must go on. Wallahu ‘a’lam bis showab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar