Minggu, 22 Desember 2013

Surat Cinta Untuk Umak


Ada derai-derai tangis yang tak mampu terisak
Terpendam, hilang ditelan senyum semu
Aku merindukanmu, Ibu…
Sungguh, begitu rindu..

Saat yang lain menggemakan nama ibu
Aku terhenyak, aku tak lagi memilikimu
Mengapa Dia mengambilmu
Saat aku mulai mampu mengeja kasih sayangmu
Mengapa Dia menjauhkanmu dariku
Saat cintamu perlahan-lahan terbaca olehku

Ahh, semua salahku…
Lamban menyadari arti hadirmu
Tak mampu melihat dengan terang
Akan cintamu yang tak pernah gersang

Kepada Allah, kupinta seribu malaikatNya
Menyampaikan maaf tak berhingga
Agar tumpukan kecewa yang pernah terselip dalam dadamu
Lenyap bersama segunung doaku

Ibu, belum ada yang bisa kusuguhkan padamu
Sebagai balas cinta yang seputih kapas
Meski engkau tak pernah mengiba balas
Dalam hati aku berharap,
Agar apa yang luput kupersembahkan di dunia
Diganti Allah dengan sebuah surga
Untukmu, ibundaku tercinta...
         

Umakku  sayang,
Tak terasa ya, sudah 7 tahun berlalu sejak kita terakhir kali bertemu. Lama sekali ya, mak? Apa Umak merindukanku? Aku merindukanmu, mak. Sangat. Sampai sekarang, tak sekalipun rindu ini berkurang. Lidah ini pun tak pernah jemu melafalkan doa-doa kebaikan untuk Umak selepas sholat, berharap Allah SWT akan selalu menjaga dan melindungi Umak, dalam limpahan kasih sayangNya.

Mak, masih ingatkah peristiwa yang dulu selalu Umak ceritakan berulang-ulang padaku? Waktu itu, sekitar pukul delapan pagi, tanggal 27 Maret 1985, Umak melahirkanku. Untuk pertama kalinya aku menatap dunia, setelah 9 bulan lebih berada dalam kandungan. Katamu, saat itu engkau begitu susah payah melahirkanku. Padahal sudah anak ketiga, harusnya tidak sesulit itu. Dengan mata jenakamu, engkau akan menggodaku, bahwa itu pertanda kalau aku mungkin terlahir dengan sifat keras kepala. Ahh, Umak benar, sampai sekarang pun aku masih saja keras kepala. Aku ingat, Umak akan selalu tersenyum jika mengingat bisa-bisanya mengidam es cendol saat akan melahirkanku di klinik persalinan. Ayah bingung tentu saja. Tapi, Ibu tak mau tahu, yang penting es cendol harus ada.  Hmm, sekarang aku jadi tahu darimana sifat keras kepalaku ini menurun. Meski fisikku mirip Ayah, tapi karakterku banyak mirip Umak.
Mak, bagiku engkau adalah sosok yang tegas dengan kelembutan yang menyejukkan. Engkau memang jarang memanjakan kami dengan kata-kata lembut, pelukan hangat, dan ciuman sayang, meski begitu kami bisa merasakan cintamu lewat kepedulian yang begitu besar pada kami. Aku masih ingat, saat kehidupan kita masih sangat sederhana, Umak tak akan menyentuh secuil makanan pun selama kami masih belum terlihat kenyang. Saat lebaran tiba, baju Umak pun jarang berganti yang baru, karena harus mendahulukan baju-baju kami, anak dan suamimu. Ahh, engkau memang ibu terbaik…
Sewaktu kecil, aku memang tak begitu dekat denganmu. Umak terlalu sibuk memusatkan perhatian pada kenakalan abang dan si bungsu kesayangan keluarga kita. Aku selalu merasa bahwa diriku tak punya cukup tempat di hatimu. Ahh, betapa buruknya prasangka-ku itu!  Aku tahu tidak seperti itu. Umak bahkan sangat menyayangiku. Ya, aku bisa melihatnya saat Umak begitu gigih memperjuangkan kuliahku. Umak begitu tak berdaya saat ayah pergi meninggalkan kita, mengambil semua uang simpanan tanpa menyisakan sedikit pun. Aku tahu hancurnya perasaanmu saat itu, mak… Aku tak pernah melihatmu berhenti menangis. Namun alih-alih menyerah, yang kusaksikan, Umak justru mencoba bangkit sekuat tenaga demi aku. Demi pendidikanku. Demi cita-citaku, yang ayah sendiri telah pasrah untuk itu. Sungguh, aku mencintaimu mak… Dan hati ini begitu pilu karena belum ada yang bisa kupersembahkan sebagai bukti kasih sayangku padamu. Engkau bahkan telah tiada sebelum melihatku memakai toga. Mak, maafkan… Maafkanlah anakmu ini…
Mak, sebentar lagi Hari Ibu. Semua anak sibuk menyiapkan kado untuk ibu. Aku tahu, Umak tak begitu suka dibelikan kado. Tapi, aku sungguh ingin membelikan kado. Aku ingin membelikan Umak baju baru. Baju yang paling bagus, yang paling mahal. Tanang saja mak, aku sudah bekerja sekarang, di perusahaan besar dengan gaji yang lumayan. Tentu saja itu semua berkat Umak. Tapi, kenapa Umak pergi begitu cepat? Kenapa pergi sebelum aku sempat memberi apa-apa? Kepada siapa kado itu bisa kutitipkan? Kepada siapa, mak? Umak kini telah begitu jauh.
Mak, jika kado duniaku tak bisa lagi sampai padamu, maka aku punya kado akhirat untukmu. Hafalan Qur’anku. Ya, aku pernah membaca hadist bahwa barangsiapa yang menghafalkan Al Qur’an maka kepada orangtuanya akan dipakaikan jubah kemuliaan yang tidak pernah ada di dunia. Sejak itu mak, aku selalu menghafalkan Al Qur’an sedikit demi sedikit. Jika niatku mulai longgar, cepat-cepat aku ingat senyum Umak agar aku semangat lagi. Benar mak, senyuman Umak yang selalu menyemangatiku – senyum banggamu padaku. Jika bagi setiap orang di dunia ini tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu, maka bagiku, setiap hari – sampai aku bisa menghafalkan Al Qur’an – akan kusebut sebagai Hari Ibu. Ya, kunamai itu hari-hari membungkus kadoku untuk Umak.
Mak, engkau telah melaksanakan amanahmu dengan baik. Engkau telah menjaga dan mendidik anak-anakmu dengan segenap daya dan kasihmu. Aku bangga lahir dari rahimmu. Aku bahagia menjadi anakmu. Semoga Allah SWT memberikan balasan terbaik atas perjuanganmu sebagai ibu. Dan semoga surga menjadi tempat bertemu kita kembali. Amin.

Salam cinta,
Anandamu yang keras kepala

Note : Rasanya ingin mengingatkan pada semua anak di dunia, bahwa setiap ibu memang berbeda. Ada yang lembut, ada yang tegas. Ada yang cerewet, ada yang kalem. Ada yang marah lewat tangan, ada pula yang lewat ucapan. Mereka beragam. Tapi, bagaimanapun berbedanya bentuk kasih mereka, namun esensi kasih mereka akan tetap sama. Mereka sayang kita, anak-anaknya. Itu naluri yang abadi.

1 komentar:

  1. sabar ya kakanda,,,
    beliau pasti juga merindukan kakanda ^_^

    BalasHapus