Jumat, 17 Februari 2012

Perjalanan Imanku



Entah bagaimana rasanya mengungkapkan rasa syukur saat Allah SWT pertama kali menyapaku dengan hidayahNya. Kalau tidak salah, waktu itu aku baru menginjak semester tiga di kampus. Saat itulah Allah SWT mengenalkan Islam padaku. Bukan berarti aku tidak beragama Islam sebelumnya. Bukan, tentu saja bukan. Alhamdulillah, meski ayah dan ibuku berdarah batak tulen, kami sekeluarga Islam. Tapi Islamku hanyalah Islam warisan. Islam KTP, kata orang. Padahal dari kecil, ayah dan ibu  begitu ketat memberikan pendidikan Islam  bagi kami anak-anaknya, mulai dari mengaji TPA di siang hari lalu dilanjutkan khatam Al Qur’an malam harinya. Ibuku sendiri sering menguji kemajuan bacaan Al Qur’an kami. Kalau aturan ayah sedikit berbeda. Ikat pinggang kulitnya akan siap terayun ke punggung kami jika ada sholat yang terlupa. Khusus Sholat Maghrib dan Subuh harus berjamaah di rumah. Jika lalai, ada tugas tambahan menanti, entah itu mencabut uban ayah atau mencuci sepeda motornya. Tidak itu saja, saat Ramadhan tiba, jika ada yang berani tidak berpuasa, hmm..  jatahnya hanya makanan sisa dari pernghuni rumah yang berpuasa. Ketat bukan? Begitulah orangtuaku, sampai tamat SMP, pendidikan agama benar-benar ditanamkan pada kami, namun begitu menginjak SMU ayah sepertinya sudah tak mau mengayunkan ikat pinggangnya lagi. Kami sudah cukup dewasa, katanya. Kami pun bebas. Hingga beberapa tahun kemudian, aku dan saudara-saudaraku sudah tak pernah lagi mengerjakan sholat. Begitulah, saat itu agama bagi kami tak lain adalah aturan, kewajiban. Harus begini, harus begitu. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Benar-benar melelahkan.

Namun, Allah SWT ternyata punya rencana lain untukku. Bermula dari persahabatan dengan seorang akhwat (panggilan wanita jilbaber di kampus), aku pun mulai mengenal Islam lebih dalam. Aku banyak berdiskusi dengannya, bahkan tak jarang mendebatnya. Untunglah, pada diri sahabatku itu kutemui jiwa yang sabar dan arif.  Dengan lembut, dia meluruskan pandanganku, mengajakku pada Islam yang sungguh menyejukkan hati. Tak pernah kubayangkan bahwa Islam begitu indahnya. Aturan-aturan agama yang dulu berpayah-payah diajarkan ayah dan ibuku ternyata sekaranglah kurasakan manfaatnya. Di saat aku benar-benar ingin mendalami agama ini, aku tidak lagi memulainya dari nol. Berkat mereka, lidahku telah  fasih membaca Al Qur'an, bahkan aku pun cukup tahu hukum-hukum Islam, sejarah Islam, dll. Ilmu itu tak lain kudapatkan lewat sekolah TPA  dan juga koleksi buku-buku Islam ayah (saat tak ada lagi komik yang bisa kubaca, maka terpaksa hobi membacaku harus kusalurkan pada buku-buku agama itu). Ayah, Ibu, terimakasih atas didikanmu. Semoga Allah SWT membalas kerja keras kalian dengan surga. Amin

Saat di semester tiga, aku menjabat sebagai ketua Keputrian Kampus. Entah kenapa saat itu aku yang terpilih. Padahal, aku belum lama mengenakan jilbab. Mungkin itu juga bagian dari rencana Allah SWT untuk mengenalkanku pada agamaNya. Sejak itu, aku pun semakin sering berkutat dengan kegiatan-kegiatan Islami. Agendaku berjibun. Mulai dari kuliah, rapat, menthoring, seminar, pengajian, membuat mading dan buletin, subhanallah… sungguh tak ada waktu yang sia-sia! Hidup berasa penuh kemanfaatan. Aku bersyukur. Bersyukur atas detak kehidupanku yang bermakna, bersyukur karena itu semua kulalui bersama akhwat-akhwat sholehah yang membuat segalanya menjadi indah. Sungguh, tak ada rasa lelah. Disinilah titik awal keimananku yang sebenarnya. Aku pun bercita-cita menjadi aktivis sejadi-jadinya. Aku sadar bahwa keimanan bukan sebatas sholat dan puasaku, tapi juga dakwah. Agama ini rahmatan lil ‘alamin. Maka, kuniatkan bahwa iman ini bukan untuk diriku saja, tapi juga harus bisa menyentuh orang lain, mengajak mereka pada amar ma’ruf nahi munkar. Iman untuk seluruh alam. Ya, inilah keislamanku.

Selepas kuliah, aku pun memasuki dakwah pasca kampus.Dakwah di dunia kerja. Dan ternyata, masya Allah… luar biasa sulitnya. Semula aku begitu total berjuang. Aku membuat mading kantor lalu menempelnya diam-diam, aku mengajak rekan-rekan kerja wanita untuk ikut pengajian, mencoba berdiskusi dengan mereka tentang tema-tema Islam, mengupayakan diri agar bisa menjadi teladan dalam hal pekerjaan dan kebiasaan hidup, namun tenyata upayaku itu pun tak berbuah banyak. Maklum, yang kuhadapi adalah wanita-wanita modern yang sudah memiliki frame berpikir sendiri. Lantas, dakwah seperti apa yang bisa kutawarkan pada mereka? Akupun mulai lelah berjuang sendiri.

Namun, setelah kutimbang lagi, kegagalan dakwahku bukan hanya karena medan dakwah yang begitu sulit, tapi karena aku yang juga mulai terwarnai. Kondisi kerja yang mengharuskan satu team dengan laki-laki hingga larut malam membuat ikhtilat tak terhindarkan lagi. Waktu banyak terisi dengan bercanda. Lembur yang gila-gilaan membuat tahajjudku sering terlewatkan. Dan aku pun mulai risih jika digoda dengan sebutan alim, sholehah, saat aku tilawah atau Dhuha. Astaghfirullah, imanku mulai terkikis rupanya.

Tidak itu saja. Entah kenapa, aku sering menjadi tempat curhat beberapa teman lelaki. Mulai dari masalah keluarga, pacar, bahkan masa lalu mereka yang kelam. Ahh, benar kata sahabatku dulu! Mungkin aku memang punya sedikit bakat psikologi. Semula aku pikir mungkin ini akan jadi awal dakwah yang bagus. Meskipun peluang itu harus bermula dari kaum Adam, namun ini bisa jadi titik terang dakwahku yang selama ini mulai lenyap. Aku pun bersemangat kembali untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Memang tidak ada yang salah dalam niat itu, namun sejak semula aku seharusnya lebih berhati-hati. Dakwah antar lawan jenis nyatanya rentan disisipi bisikan-bisikan syaithon. Tanpa sadar, aku mulai teracuni zina hati. Astaghfirullah...

Alhamdulillah, Allah SWT masih menyayangiku. Aku diingatkan olehNya. Aku menangis pilu atas kelalaianku. Segera kuambil langkah mundur. Kujaga jarak dengan mereka, kuacuhkan mereka, tak peduli itu akan mengganggu hubungan silaturrahim kami. Aku hanya ingin menyucikan diri kembali. Ingin membersihkan hati yang kelam tertutupi dosa. Aku tahu benar bahwa Allah pecinta orang-orang yang bertaubat. Dan aku ingin berada di barisan itu. Syukurlah, lambat laun teman-temanku bisa mengerti keputusanku.

Inilah yang kuhadapi setiap harinya. Minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Begitu banyak godaan di kota besar ini. Bahkan beberapa kali aku pun masuk dalam perangkapnya. Aku tahu, khilaf dan salah adalah lumrah. Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa iman itu naik dan turun. Maka yang harus kuupayakan hanyalah menjaga agar iman ini tetap istiqomah. Agar langkah ini tak salah arah. Agar akhlak tak tercela. Bukankah kita semua ingin menjadi hambaNya yang sempurna? Bukankah kita semua berharap kelak memasuki surgaNya? Benar kawan, meski mungkin akan melelahkan menapaki tahap demi tahap ujian hidup, perjalanan iman ini harus kita teruskan. Aku yakin, kita semua pasti punya sederetan peristiwa luar biasa selama perjalanan iman kita. Dan perjalanan itu, semoga berakhir di terminal surgaNya. Amin