Cinta...
Jika engkau hadir
bukan untuk sosok
yang dihalalkan,
maka enyahlah...
Jika engkau muncul
sebelum
ikatan suci itu
terikrarkan
Maka menjauhlah...
Engkau hanya ingin
mengajakku menari-nari
dalam kemaksiatan
Engkau hanya akan
menjerumuskanku
pada lembah
kefuturan
Sungguh, aku tak
ingin menyalahi Tuhanku
Karena aku percaya
cinta hakiki hanya akan diberikanNya
pada mereka yang
setia menjaga kehormatan diri...
CINTA.
Siapa yang tak mengenal
cinta. Zaman gini, dari engkong-engkong sampai bocah ingusan, pasti tahu apa
itu cinta. Yah, meksipun persepsi cinta
bagi setiap orang berbeda-beda ya… Katanya hidup tanpa cinta, ibarat sayur tanpa garam. Nggak ada rasa, apa enaknya? Lihat saja, sekarang ini banyak yang rela bunuh diri
karena kehilangan cinta, banyak yang gila karena ditinggal yang dicinta, dan tidak sedikit yang lupa
diri karena mengejar cinta. Bahkan Adam as pun sempat merasakan hidupnya hambar
sebelum Allah SWT menciptakan Hawa sebagai pasangannya di surga. So, sepertinya cinta mungkin telah
ditakdirkan untuk selalu bersama dengan kehidupan. Betul, betul, betul?
Nah,
kali ini kita memang akan bicara tentang cinta. Cinta lawan jenis, tentunya.
Tulisan ini hadir tatkala saya melihat begitu banyak pintu-pintu kemaksiatan
yang terbuka karena hal yang satu ini. Coba perhatikan sekeliling kita. Ikhtilat
seakan sesuatu yang lumrah terjadi! Zina hati pun sudah tak tersembunyikan
lagi! Anehnya, ini bukan hanya berlaku pada mereka yang kapasitas agamanya minim,
tapi yang pemahaman agamanya sudah mumpuni pun ternyata tak bisa mengelak dari virus
pinky ini. Syariat agama seakan terlupa begitu saja. Rasa malu terhadap
Allah SWT pun entah raib kemana. Disinilah saya, duhai ukhty’s tercinta, ingin
memainkan peran dalam pesan Ilahi, “watawash shaubil haq – saling
mengingatkanlah kalian dalam kebenaran” (QS. Al Asr : 3). Insyaa Allah....
Oke,
saya mulai dengan satu pertanyaan, kapan pertama kali kita boleh
jatuh cinta? Maksud saya, cinta lawan jenis lho ya… Ups, mungkin ada yang
bertanya. Boleh? Apakah itu berarti hadirnya cinta itu bisa menjadi tidak
boleh? Bukankah cinta itu misteri, datang meski tak diminta namun
terkadang tak nampak meski telah dicari kemana jua? Sabar dulu ya, kita simak
firman Allah yang satu ini, “Dan Aku telah melimpahkan kepadamu cinta yang
datang dariKu” (QS.Thaahaa : 39). Jadi jelas, cinta adalah pemberian Allah
SWT. Dan karena itu pun cinta menjadi misteri. Tak ada yang bisa tahu kapan dan
siapa yang diberi Allah anugrah cinta itu. Namun, coba lihat ayat berikut ini, “Dan
Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu
bersabar?”. (QS. Al Furqaan : 20). Benar saudariku, wanita adalah ujian
bagi laki-laki dan laki-laki pun menjadi ujian bagi wanita. Masya Allah,
demikian baiknya Allah SWT. Dia mengingatkan agar kita juga berhati-hati dalam
setiap pemberianNya. Cinta yang kita anggap sebagai anugrah bisa jadi adalah
bentuk ujian keimanan kita. Inilah kenapa cinta berada dalam zona ‘boleh dan
tidak boleh’. Pahamilah ini dengan baik.
Lantas,
bagaimana membedakan cinta yang boleh dan tidak boleh? Oke, masih ingat dengan
ayat ini? “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya
zina itu adalah suatu perbuatan yang keji” (QS. Al Israa : 32). Bayangkan,
mendekatinya saja sudah haram, apatah lagi kelanjutannya. Kenapa? Karena berada
di jalur kemaksiatan adalah bagian dari kemaksiatan itu sendiri. Memangnya apa
saja yang dikatakan mendekati zina? Ketika engkau tidak malu saat berduaan saja
dengannya, ketika engkau begitu berani membebaskan pandanganmu tehadapnya,
ketika engkau bebas sesumbar tentang rasa itu pada yang lain, dan ketika engkau
lupa pada Allah SWT yang melarangmu melakukan itu semua. Jadi, jika engkau
melakukan salah satu atau beberapa di antaranya, maka engkau sudah memasuki
area ‘cinta yang tak boleh’.
Kalau
begitu, apakah muslimah tak boleh jatuh cinta? No, No, No! Bukan itu
maksudnya saudariku. Cinta adalah sesuatu yang fitrah. Wajar jika kita menyukai
seseorang, entah karena ketampanannya, kecerdasannya, akhlaknya, ataupun
kesholehannya. Tapi ingat, itu masih benih cinta. Benih jika tidak dipupuk
tidak mungkin akan menjadi pohon yang kuat dan mengakar. Maka, jangan pernah membiarkan
syaithon dan nafsu syahwati kita memupuk cinta yang tak pantas itu. Mintalah
pertolongan Allah SWT untuk kesucian hati kita.
So,
solusinya jatuh cintalah pada yang sudah dihalalkan Allah SWT bagi kita.
Sebelum terikat dalam ikatan suci, jangan berani-berani mengatakan bahwa cinta
yang hadir itu mungkin takdir Allah SWT untuk kita. Cinta yang berasal dari Allah
SWT pastilah cinta yang suci. Dan cinta yang suci tidak mungkin diperoleh dari
proses yang salah. Wah, kedengarannya berat sekali ya? Mungkin begitu, namun
ketika kita mengikhlaskan segalanya karena Allah, niscaya Allah pun akan
memudahkan segalanya untuk kita. Percayalah.
Duhai
saudari seaqidahku, saya yakin kita semua sebenarnya sudah tahu syariat agama ini.
Tak perlu rasanya saya berpanjang-panjang lagi disini. Baiklah, saya tutup
tulisan kali ini dengan mengutip sebait ayat Allah SWT, “Dan di antara tanda-tanda
kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikanNya
di antaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
kaum yang berpikir” (QS. Ar Ruum : 21). Jelas sekali bukan? Jadi, rasa
kasih dan sayang (baca : cinta) hanya dijadikan (diciptakan) Allah SWT bagi
pasangan suami istri. Inilah cinta lawan jenis yang ‘boleh’. Selainnya
tidak boleh dong! Nah, yang bisa menerima ini hanyalah orang-orang yang mau
berpikir. Semoga saya dan ukhti semua termasuk golongan yang demikian itu.
Amin. Wallahu
a’lam bish showab…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar