Senin, 24 Juni 2013

Episode Cinta - Serial 1



Cinta...
Jika engkau hadir bukan untuk sosok 
yang dihalalkan, maka enyahlah...
Jika engkau muncul sebelum
ikatan suci itu terikrarkan
Maka menjauhlah...
Engkau hanya ingin mengajakku menari-nari 
dalam kemaksiatan
Engkau hanya akan menjerumuskanku 
pada lembah kefuturan
Sungguh, aku tak ingin menyalahi Tuhanku
Karena aku percaya cinta hakiki hanya akan diberikanNya
pada mereka yang setia menjaga kehormatan diri...



CINTA. Siapa yang tak mengenal cinta. Zaman gini, dari engkong-engkong sampai bocah ingusan, pasti tahu apa itu cinta. Yah, meksipun persepsi cinta bagi setiap orang berbeda-beda ya… Katanya hidup tanpa cinta, ibarat sayur tanpa garam. Nggak ada rasa, apa enaknya? Lihat saja, sekarang  ini banyak yang rela bunuh diri karena kehilangan cinta, banyak yang gila karena ditinggal  yang dicinta, dan tidak sedikit yang lupa diri karena mengejar cinta. Bahkan Adam as pun sempat merasakan hidupnya hambar sebelum Allah SWT menciptakan Hawa sebagai pasangannya di surga. So, sepertinya cinta mungkin telah ditakdirkan untuk selalu bersama dengan kehidupan. Betul, betul, betul?

Nah, kali ini kita memang akan bicara tentang cinta. Cinta lawan jenis, tentunya. Tulisan ini hadir tatkala saya melihat begitu banyak pintu-pintu kemaksiatan yang terbuka karena hal yang satu ini. Coba perhatikan sekeliling kita. Ikhtilat seakan sesuatu yang lumrah terjadi! Zina hati pun sudah tak tersembunyikan lagi! Anehnya, ini bukan hanya berlaku pada mereka yang kapasitas agamanya minim, tapi yang pemahaman agamanya sudah mumpuni pun ternyata tak bisa mengelak dari virus pinky ini. Syariat agama seakan terlupa begitu saja. Rasa malu terhadap Allah SWT pun entah raib kemana. Disinilah saya, duhai ukhty’s tercinta, ingin memainkan peran dalam pesan Ilahi, “watawash shaubil haq – saling mengingatkanlah kalian dalam kebenaran” (QS. Al Asr : 3). Insyaa Allah....

Oke, saya mulai dengan satu pertanyaan, kapan pertama kali kita boleh jatuh cinta? Maksud saya, cinta lawan jenis lho ya… Ups, mungkin ada yang bertanya. Boleh? Apakah itu berarti hadirnya cinta itu bisa menjadi tidak boleh? Bukankah cinta itu misteri, datang meski tak diminta namun terkadang tak nampak meski telah dicari kemana jua? Sabar dulu ya, kita simak firman Allah yang satu ini, “Dan Aku telah melimpahkan kepadamu cinta yang datang dariKu” (QS.Thaahaa : 39). Jadi jelas, cinta adalah pemberian Allah SWT. Dan karena itu pun cinta menjadi misteri. Tak ada yang bisa tahu kapan dan siapa yang diberi Allah anugrah cinta itu. Namun, coba lihat ayat berikut ini, “Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar?”. (QS. Al Furqaan : 20). Benar saudariku, wanita adalah ujian bagi laki-laki dan laki-laki pun menjadi ujian bagi wanita. Masya Allah, demikian baiknya Allah SWT. Dia mengingatkan agar kita juga berhati-hati dalam setiap pemberianNya. Cinta yang kita anggap sebagai anugrah bisa jadi adalah bentuk ujian keimanan kita. Inilah kenapa cinta berada dalam zona ‘boleh dan tidak boleh’. Pahamilah ini dengan baik. 

Lantas, bagaimana membedakan cinta yang boleh dan tidak boleh? Oke, masih ingat dengan ayat ini? “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji” (QS. Al Israa : 32). Bayangkan, mendekatinya saja sudah haram, apatah lagi kelanjutannya. Kenapa? Karena berada di jalur kemaksiatan adalah bagian dari kemaksiatan itu sendiri. Memangnya apa saja yang dikatakan mendekati zina? Ketika engkau tidak malu saat berduaan saja dengannya, ketika engkau begitu berani membebaskan pandanganmu tehadapnya, ketika engkau bebas sesumbar tentang rasa itu pada yang lain, dan ketika engkau lupa pada Allah SWT yang melarangmu melakukan itu semua. Jadi, jika engkau melakukan salah satu atau beberapa di antaranya, maka engkau sudah memasuki area ‘cinta yang tak boleh’.

Kalau begitu, apakah muslimah tak boleh jatuh cinta? No, No, No! Bukan itu maksudnya saudariku. Cinta adalah sesuatu yang fitrah. Wajar jika kita menyukai seseorang, entah karena ketampanannya, kecerdasannya, akhlaknya, ataupun kesholehannya. Tapi ingat, itu masih benih cinta. Benih jika tidak dipupuk tidak mungkin akan menjadi pohon yang kuat dan mengakar. Maka, jangan pernah membiarkan syaithon dan nafsu syahwati kita memupuk cinta yang tak pantas itu. Mintalah pertolongan Allah SWT untuk kesucian hati kita. 

So, solusinya jatuh cintalah pada yang sudah dihalalkan Allah SWT bagi kita. Sebelum terikat dalam ikatan suci, jangan berani-berani mengatakan bahwa cinta yang hadir itu mungkin takdir Allah SWT untuk kita. Cinta yang berasal dari Allah SWT pastilah cinta yang suci. Dan cinta yang suci tidak mungkin diperoleh dari proses yang salah. Wah, kedengarannya berat sekali ya? Mungkin begitu, namun ketika kita mengikhlaskan segalanya karena Allah, niscaya Allah pun akan memudahkan segalanya untuk kita. Percayalah.

Duhai saudari seaqidahku, saya yakin kita semua sebenarnya sudah tahu syariat agama ini. Tak perlu rasanya saya berpanjang-panjang lagi disini. Baiklah, saya tutup tulisan kali ini dengan mengutip sebait ayat Allah SWT, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikanNya di antaramu  rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS. Ar Ruum : 21). Jelas sekali bukan? Jadi, rasa kasih dan sayang (baca : cinta) hanya dijadikan (diciptakan) Allah SWT bagi pasangan suami istri. Inilah cinta lawan jenis yang ‘boleh’. Selainnya tidak boleh dong! Nah, yang bisa menerima ini hanyalah orang-orang yang mau berpikir. Semoga saya dan ukhti semua termasuk golongan yang demikian itu. Amin. Wallahu a’lam bish showab…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar