Rabu, 26 Juni 2013

Renungan si Sakit




Hari ini, aku tidak masuk kantor. Aku sakit. Kepala ini rasanya berat sekali, tulang-tulangku seakan mau rontok. Aku tak bisa berjalan tanpa berpegangan pada dinding rumah. Setiap kali aku berjalan, aku sempoyongan kayak orang mabuk. Hfff, ternyata sakit begitu merepotkan ya! Tapi, entah kenapa ada perasaan senang juga dengan kondisiku ini. Benar, dengan begitu aku kan bisa beristirahat sejenak dari urusan kantor. Hmm, katanya segala sesuatu perlu disyukuri. Bukankah di balik setiap kejadian ada hikmah yang terkadang tidak kita sadari? Aku jadi tersenyum sendiri, membenarkan pepatah lama itu.
Di rumah, aku hanya bisa terbaring lemah. Aku tak bisa mengerjakan apapun untuk keperluanku sendiri. Aku mengandalkan pertolongan orang lain. Misalnya, untuk membelikan sarapan, memegangiku saat berjalan, atau mengantarkanku ke klinik terdekat. Ahh, ada perasaan tidak enak saat merepotkan mereka. Apakah aku akan berlaku sama ketika mereka ada di posisiku saat ini? Apakah semua orang secara sukarela membantu orang lain yang kesusahan? Apa alasan seseorang saat membantu yang lain? Apakah mereka melakukannya dengan tulus, terpaksa, atau memang sudah seharusnya begitu? Aku jadi bertanya-tanya sendiri.
Aku jadi teringat suatu kejadian unik. Beberapa hari yang lalu, seorang manager di kantorku masuk rumah sakit akibat serangan jantung. Karena si manager masuk RS hari Sabtu, maka banyak yang tidak tahu tentang kondisinya itu. Begitu Senin, hari sibuk se-dunia, tidak ada yang berani meninggalkan kantor. Biasalah, pekerjaan yang menumpuk membuat kaki ini rasanya nggak bisa bergerak kemana-mana. Nah, tiba hari Selasa, kami pun beramai-ramai menjenguk si manager di rumah sakit saat jam makan siang. Anehnya, ada yang menyeletuk seperti ini, “Aku sih nggak enak aja kalo nggak dateng, secara dia kan bos kita, yah… minimal nyetor muka lah…”. Lalu, ada lagi yang nimpalin, “Hmm, kalo aku sih karena si manager pernah jenguk aku pas lagi sakit!”. Nah lho….?? Ternyata kepedulian kita belum tentu bersumber dari ketulusan hati!
Menurutku, tanpa sadar setiap orang sebenarnya bisa merasakan ketulusan orang lain. Tulus tidaknya seseorang bisa terbaca melalui bahasa tubuhnya. Dengan panca indranya, orang yang dibantu bisa menyerap bahasa tubuh orang yang membantu lalu menerjemahkannya di hatinya. Ingat lho ya, di hati, bukan di kepala. Makanya, terkadang kita dibantu tapi kok merasa tidak nyaman ya… Kita dipuji tapi kok berasa hambar ya… Nah, sedikit banyaknya panca indra kita telah membaca bahasa tubuh orang tersebut, hanya saja yang di-translete-kan oleh otak kita adalah yang lahiriah saja, misalnya perkataan/tindakannya.
Jadi, secara tidak langsung, bahasa tubuh lah yang menunjukkan isi hati yang sebenarnya. Aku tidak bermaksud mengajak kita berprasangka pada orang yang berbuat baik, tapi ini lebih sebagai teguran pada diri kita sendiri. Sejauh mana kita jujur dengan bantuan kita pada orang lain! Jika kita tidak menyadarinya dari sekarang, lama kelamaan sifat ‘miskin empati’ itu bisa mendarah daging lho. Kita mungkin tak bisa lagi merasakan kenikmatan dalam membantu. Karena bagi kita, tak ada bantuan secara cuma-cuma. Hidup seperti ini gersang, kering dari kebahagiaan. Maka, mulailah membiasakan care pada orang lain mulai dari hal-hal kecil. Ingatlah, orang yang berempati tidak akan menunggu membantu sampai dia dibantu. Orang yang berempati tidak akan tersakiti jika yang dibantu tidak balas membantu. Orang yang berempati, mengulurkan hatinya, bukan cuma tangannya.Insyaa Allah, ketulusan inilah yang akan sampai pada orang lain.
Sewaktu SD, guruku selalu menekankan bahwa kita adalah makhluk sosial, makhluk yang harus saling membantu. Hm, sekarang setelah aku dewasa (ceile… gaya euy!), menurutku sebutan makhluk sosial sepertinya kurang tepat, yang benar adalah kita makhluk Tuhan. Tuhan lah yang menjadi orientasi kita dalam berbuat kebaikan. Bukan orang lain. Tidak ada istilah saling membantu. Karena saling membantu berarti ada ‘syarat’ yang harus dipenuhi disana. Ya, kita membantu jika dibantu, atau kita membantu agar suatu saat bisa dibantu. Makhluk Tuhan membantu karena memang itu adalah panggilan Tuhan pada hatinya. Dia hanya mengharapkan balasan dari Tuhan semata. Tidak peduli bantuan itu besar atau kecil. Tidak peduli bantuan itu untuk kawan maupun lawan. Tidak peduli dapat imbalan atau tidak. Mengapa? Karena imbalannya adalah dari Allah SWT semata… Wallahu a’lam bis showab.

Selasa, 25 Juni 2013

Dakwah must go on....




Sudah hampir tiga tahun aku hidup di Jakarta, namun bayang-bayang kota tercintaku, Medan, masih belum hilang juga. Banyak yang bilang, ala bisa karena biasa. Aku pun mencoba berpikir seperti itu. Namun, hingga saat ini aku masih saja berharap suatu saat bisa tinggal di Medan lagi. Padahal teman-temanku yang juga berasal dari daerah, sudah merasa betah disini. Bahkan sudah merajut rencana kehidupannya di Jakarta. Aneh memang, saat yang lain bermimpi untuk hidup di Jakarta, aku malah ingin melepas statusku sebagai penghuni Jakarta.

Pernah ada yang bertanya, apa sih yang begitu berbeda dari kota Medan hingga aku begitu ngotot ingin pindah kesana? Dan pertanyaan itu sukses membuatku ternganga. Hmm, iya ya, apa ya? Aku begitu kesulitan menjawabnya. Sebenarnya kedua kota itu sih tidak jauh berbeda. Seperti halnya Jakarta, Medan adalah kota metropolis dengan budaya yang sangat heterogen. Perkembangan bisnis dan teknologinya maju pesat. Gedung pencakar langitnya juga banyak. Bahkan dalam hal ’traffic jam’ pun, saat ini Medan sudah tak kalah dari Jakarta. Terakhir kali ke Medan, aku terjebak macet dimana-mana. Hfff...!  Satu hal yang pastinya membuat Jakarta lebih istimewa adalah karena statusnya sebagai ibukota negara. Kota ini menjadi pusat informasi, kiblatnya media, dan tentu saja gemerlap dengan dunia keartisannya. Mungkin ini yang membuatku tidak betah disini. Kota ini terlalu sibuk…

Sebenarnya aku cukup menikmati hidup di Jakarta. Aku mulai terbiasa dengan aktivitas hidup yang serba cepat, terbiasa dengan individualis masyarakatnya, terbiasa dengan metromini yang kebut-kebutan di sepanjang jalan, terbiasa desak-desakan di busway, bahkan terbiasa dengan macetnya yang luar biasa! Tidak itu saja, kota ini begitu complete. Mulai dari makanan, hiburan, permainan, tempat-tempat bersejarah, hingga tempat favoritku 'toko buku' bertebaran dimana-mana. Aku juga suka kompleks perumahannya yang tertata rapi dan bersih. Kehidupannya modern dan sangat mandiri. Dan yang paling kukagumi adalah kesibukan orang-orang disini begitu menginspirasi. Bahwa waktu adalah hal yang tak tergantikan. Bahwa setiap harinya Jakarta selalu ingin membuat perubahan besar. Kemajuan yang menggenerasi. 

        Namun, ada hal yang tak kudapatkan disini. Apa itu? Yup, benar sekali. Komunitas dakwah. Disini, aku merasa begitu sendiri memperjuangkan keistiqomahan iman. Tidak ada kegiatan keislaman yang membuatku bergairah seperti yang kulakukan di Medan dulu. Aku memang bergabung dalam komunitas akhwat di pengajian mingguan, tapi itu tidak cukup untukku. Aku ingin lebih memaksimalkan diri lagi. Aku ingin bergerak, ingin terus berkontribusi pada Islam. Dan aku benar-benar tidak tahu menyalurkannya lewat apa. Aku tidak punya channel disini. Tidak ada jalur dakwah yang kukenal karena aku hanya pendatang. Beda halnya dengan di Medan, disana aku mengenal cukup baik beberapa kampus dan sekolah, tempatku bermimpi menanam benih-benih kebaikan, Insya Allah.

        Seorang akhwat pernah menasehatiku bahwa ketidakmaksimalan itu bukan semata karena perbedaan antara Medan dan Jakarta. Bukan karena sudah punya channel atau tidak. Itu lebih karena dakwah pasca kampus memang jauh lebih rumit. Target dakwah bukan lagi mahasiswa-mahasiswa idealis yang dipenuhi rasa ingin tahu akan penemuan jati diri, tetapi target dakwah pasca kampus adalah manusia-manusia yang sudah punya frame berpikir sendiri. Tidak mudah menyisipkan nilai-nilai Islami dalam pemikiran mereka. Mereka meyakini jalur yang mereka pilih dan sudah nyaman dengan itu. Tak peduli sesuai atau tidak sesuai dengan syariat. Dan jika kenyamanan mereka diusik, hanya ada 2 kemungkinan, kita dimusuhi atau diabaikan. Pilihan yang sulit, bukan? Selain itu, kesibukan kita dalam pekerjaan sedikit banyaknya juga menurunkan semangat dakwah kita. Porsi tenaga dan pikiran kita tidak seperti dulu lagi. Semuanya sudah terbagi Apalagi bagi yang sudah berumah tangga. Jadi bukan semata-mata karena lokasi dakwah, tapi karena tahapan kehidupan kita yang saat ini juga sudah berbeda. Aku pikir, temanku ini ada benarnya juga. 

        Memang, dakwah seharusnya bisa dilakukan dimana pun. Sulitnya medan dakwah tak boleh menjadi alasan pembenaran kemunduran dakwah kita. Sebaliknya, kondisi itu harus kita manfaatkan sebagai ajang pembuktian ‘kesungguhan niat’ kita dalam membela agamaNya. Nah, mungkin yang perlu diubah adalah bentuk dakwah itu sendiri. Kita harus cerdas dalam mengemas syariat Islam yang kita tawarkan agar tidak terlihat memberatkan, melainkan ringan, menyenangkan, dan bermanfaat. Meksi begitu, mimpi untuk berkontribusi di kampung halaman belumlah lenyap. Namun, aku pun tak akan menyia-nyiakan waktuku disini dengan galau yang tak jelas. Dakwah must go on. Wallahu ‘a’lam bis showab.

Senin, 24 Juni 2013

Rasul, Andai Engkau Ada Disini...


Ya Rasulullah, hari itu, ketika waktu dhuha sudah terasa panas, tepat hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal 11 H, dalam usia 63 tahun lebih empat hari, engkau berpulang kepada kekasih yang Maha Tinggi. Andai engkau tahu duhai Rasul, bukan umatmu pada masa itu saja yang bersedih hati karena kepergianmu, tapi kami juga ya Rasul, umat yang lahir sesudahmu. Betapa berdukanya kami karena tak sempat berjumpa dengan engkau. Kami hanya mengenalmu lewat hadist yang sampai kepada kami. Kami hanya bisa menelusuri perjalanan hidupmu yang memukau lewat shiroh yang dituliskan para ulama dengan rinci. Kami coba bayangkan wajahmu ya Rasul, namun pikiran kami tak kan mampu merefleksikan keindahan parasmu. Kami mimpikan bisa mendengar suaramu yang penuh kelembutan dan kesejukan, namun yang kami dapati hanya desahan angin yang berlalu. Bagaimana kami meredakan gejolak rindu ini ya Rasul? Kami bermimpi bisa bersamamu, kami berharap ada di dekatmu saat ini.

Ya Rasul, andai engkau ada disini, engkau akan melihat betapa dunia ini semakin jauh dari keimanan. Kewajiban pada Allah sering terlalaikan.  Sunnahmu pun tak lagi dihidupkan. Betapa banyak dari kami sekedar berlabel Islam, namun ajaranmu tetap saja ditinggalkan. 

Ya Rasul, andai engkau ada disini, engkau tak akan mendapati lagi umatmu saling berlomba dalam kebaikan. Tak ada lagi kecemburuan iman seperti yang ada pada diri sahabat-sahabat dulu. Kami malah begitu bebasnya memilih syariat ini sekehendak hati. Kami ambil yang kami senangi, lantas membuang jauh-jauh yang memberatkan kami. Kami pun merasa tak perlu lagi berpayah-payah mengejar ibadah-ibadah nafilah yang dulu engkau contohkan. Sungguh, betapa memalukannya kami ya Rasul..

Ya Rasul, andai engkau ada disini, pastilah engkau akan murka melihat Islam diinjak-injak kehormatannya. Fitnah terhadap kami bertebaran dimana-mana. Lihatlah, kemenangan yang dulu pernah diraih, sekarang lenyap seperti buih.

Ya Rasul, andai engkau ada disini, mungkin engkau akan kecewa karena ukhuwah telah tercabut dari hati kami. Saat sebagian dari kami diserang dengan kekejian yang tak terbayangkan, kami hanya bisa menutup mata atas derita saudara-saudara seaqidah kami. Kami tak lagi saling menjaga. Tak lagi berpegangan menghadapi musuh-musuh agama.
Ya Rasul, andai engkau ada disini, kami mungkin tak terpecah seperti sekarang ini. Semuanya merasa benar. Semuanya merasa bersandar pada Allah dan RasulNya. Satu sama lain saling menghujat, saling mengkafirkan. Ahh, andai engkau tahu bahwa para musuh Allah bersorak sorai atas tingkah konyol kami!

Ya Rasul, andai engkau ada disini, benang kusut perselisihan kami mungkin akan terurai. Kami pun tak akan berani lagi melalaikan kewajiban kami. Kejayaan Islam pun akan menggema kembali. Namun apa daya, Allah telah menakdirkanmu bersamaNya.

Ya Rasul, jika engkau menyaksikan kami dari tempatmu berada saat ini, maka mintakanlah kepada Allah Yang Maha Mulia agar kami senantiasa bergairah dalam ibadah-ibadah kami, agar kasih sayang di antara kami tumbuh kembali, dan agar Islam pada akhirnya akan menang atas kaum kuffar yang ingkar. Duhai dambaan hati, semoga rindu ini kelak akan terobati dengan bertemu engkau di surgaNya nanti. Amin. 

Who am I ?


Hari itu, aku tidak bekerja seperti biasa di kantor. Aku diundang untuk mengikuti motivation training selama 2 hari penuh. Katanya sih, biar kita pada semangat kerja, bukan cuma pada saat dapat bonus atau saat kenaikan gaji. Hahayy… Bisa berhasil nggak yah nantinya, soalnya kita memang pada matre semua! Biasalah, yang ibu-ibu pengen beli ini itu untuk anaknya, yang bapak-bapak pengen nurutin permintaan ini itu dari istrinya, dan yang masih single tentu saja biar bisa beli gadget keluaran terbaru… Hehehe…
Oh ya, aku belum menyebutkan nama trainer-nya ya? Namanya Dadang Kadarusman, pada kenal nggak? Dia bukan hanya trainer lho, ternyata dia penulis buku juga! Hayooo, yang sering mampir ke Gramedia pasti pernah lihat beberapa bukunya di jajaran best seller… Asyik… Asyik.. Jadi pengen belajar menulis juga sama dia! Syukur-syukur bisa dibantu nerbitin buku! Hahaha... Menghayal mode on...
Tenang saja guys, yang ingin kuceritakan kali ini bukan tentang materi training kok, aku yakin kalian pasti sering ikut training seperti itu. Hanya saja di training itu, ada bagian yang cukup menarik dan kupikir oke juga untuk di-share. Mau tahu? Oke, temanya adalah renungan tentang siapa diri kita. Who am I? Sebelumnya, aku mau nanya. Pernah nonton film Les Misearables? Film itu diangkat dari sebuah novel karya Victor Hugo.  Sebenarnya buku itu di-release tahun 1862, hanya saja di-booming-kan kembali di permulaan tahun ini. Menurutku, ada bagian yang sangat menarik dari cerita itu. Jika tidak keberatan, aku akan mengisahkan sedikit disini. 
Laki-laki itu bernama Jean Valjean. Dia dipenjara selama 19 tahun karena mencuri sepotong roti penghilang lapar bagi keluarganya. Saat dinyatakan bebas, Jean Valjean keluar tanpa ekspresi. Apa yang terjadi pada jiwanya? Oh ternyata, dia menyimpan dendam. Dendam pada masyarakat yang menobatkannya sebagai penjahat hanya karena sepotong roti dan dendam pada Tuhan karena telah menciptakan takdir yang buruk untuknya. Ada keinginan kuat dalam hatinya untuk melakukan kejahatan kepada makhluk hidup, tidak peduli siapa. Saat pertama kali melihat dunia luar, dia bingung hendak melangkah kemana. Setiap orang yang ditemuinya, secara sengaja menolak memberikan tumpangan penginapan. Alasannya satu, paspornya menggambarkan bahwa Jean Valjean adalah orang yang sangat berbahaya. Saat jiwanya mengering karena putus asa, seorang wanita menyarankan untuk mendatangi rumah seorang uskup. Sang uskup menerimanya dengan begitu baik. Akhirnya dia pun bisa mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Menjelang pagi, laki-laki itu terbangun. Entah bagaimana dia memutuskan untuk melarikan diri dari rumah itu dengan membawa sebuah tempat lilin perak. Ya, dia mencuri di rumah penolongnya! Namun, beberapa jam setelahnya, dia tertangkap polisi dan dibawa kembali ke rumah sang uskup. Dia tertunduk malu. Wajahnya muram dan tampak lelah. Tapi, apa yang kemudian dikatakan sang uskup membuatnya begitu terperangah. “Wah, saya senang melihat anda disini. Saya sudah memberikan anda tempat lilin perak itu, namun kenapa anda tidak membawa serta sendok dan garpunya?” sang uskup berbicara dengan nada riang. Jean Valjean membelalakkan mata. Tubuhnya gemetar. Dia memegang tempat lilin itu dengan kaku dan kebingungan. Saat para polisi telah pergi, sang uskup melanjutkan kalimatnya, “Pergilah dengan tenang. Anda bukan lagi milik iblis, anda milik kebaikan. Jiwa andalah yang saya beli dari anda. Saya menariknya dari pikiran-pikiran gelap dan penderitaan, dan saya memberikannya kepada Tuhan”. 
Jean Valjean pun meninggalkan kota itu dengan berlari kencang. Dia mengambil jalan dari arah mana saja yang terlihat olehnya. Dia menyadari adanya kemarahan dalam dirinya. Dia tidak yakin apakah dia tersentuh atau dipermalukan. Pemikiran-pemikiran yang tak dapat diungkapkan berkumpul di dalam dirinya sepanjang hari. Terlalu lama kebencian mengakar dalam dirinya, seolah tak ada lagi celah kebaikan dalam hatinya. Namun, ucapan sang uskup terulang terus menerus dalam pikirannya. Ketika akhirnya kebaikan menerobos dinding jiwanya, Jean Valjean tersentak dengan kesedihan mendalam. Dia menangis ketakutan dengan teriakan yang memilukan, “Who am I?
Wah, panjang juga yah kisahnya. Bagaimana menurut kalian, mengharukan sekali bukan? Jangan bilang saat ini kalian sedang mencari tissue. Hehe, itu jelas aku. Berapa kali pun aku mengulang cerita ini, pasti wajahku banjir airmata! Nah, kembali pada pertanyaan ‘who am I? Siapa aku?’ Saat training kemarin, sang trainer menantang kami dengan sebuah pertanyaan, “Apakah anda sudah kenal dengan diri anda? Kalau begitu, mulailah dengan menuliskan keunikan anda sekarang!”. Kami, para trainee kasak kusuk nggak karuan, semuanya menoleh mencari bantuan. Wajah-wajah bingung kami pun mulai kelihatan. Ada yang alisnya naik sebelah, ada yang menggaruk kepala, ada yang matanya muter kayak bola, ada yang mulai memijat kening, ada yang menoel-noel hidung, ada yang menyentuh dagu, ada yang bibirnya maju, bahkan ada yang menggigit kuku. Menggelikan sekali! Bagaimana mungkin ketika diminta menyebutkan keunikan diri sendiri, kami justru kelimpungan setengah mati? Atau, jangan-jangan kami sama saja dengan Jean Valjean yang bingung siapa dirinya? Waduh… 
Itulah teman, ternyata sebagian besar dari kita memang belum kenal dirinya sendiri. Kalau begitu, tunggu apa lagi, hayuk atuh kenalan..! Sama yang lain aja kenalan, masa’ sama diri sendiri sampai ketinggalan! Caranya?
Pertama, kita perlu kenal Tuhan. Ketika kita mengenal Tuhan, kita akan segera insaf bahwa kita milik Tuhan, hambaNya. Lemah. Bodoh. Alpa. Penuh kekurangan. Hanya dengan kebaikanNya lah kita menjadi sempurna. Coba perhatikan diri kita, mulai dari anggota tubuh, panca indra, akal, degup jantung, dan yang lainnya, semuanya sungguh di luar nalar kita! So, kita mungkin sudah bisa menjawab sekarang, siapa aku? Aku adalah hamba Allah SWT.
Kedua, cari tahu tujuan hidup kita. Cobalah berpikir, Tuhan tidak mungkin menciptakan kita dengan sia-sia. Kelak kita akan diminta pertanggungjawaban. Masih ingat firman Allah tentang itu? Kalau lupa, biar kusebutkan penggalan ayatnya sedikit, “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyaamah : 36). Biar lebih jelas, buka Al Qur’an sendiri ya.. Jadi tujuan hidup kita adalah agar bisa berakhir di terminal surga Allah. Untuk bisa masuk kesana, kita pun akan selalu mengupayakan kebaikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Segala yang berbau kemaksiatan sebisa mungkin kita tinggalkan. Kenapa? Karena kebaikan atau kejahatan seberat dzarrah pun pasti Allah perhitungkan. Tak ada yang mau masuk neraka kan? Jadi, jawaban kedua ‘siapa aku’ yaitu aku adalah penghuni surga.
Ketiga, temukan formula hidup sendiri. Teman, kita yang paling tahu apa yang kita suka dan apa yang kita benci, apa yang kita damba dan apa yang kita hindari, jadi jangan salah langkah. Jika kita senang makanan manis, jangan beli asinan ; jika kita suka music klasik, jangan putar lagu rock ; jika kita suka mobil ferary, jangan beli sedan ; jika kita suka berdagang, jangan jadi karyawan gajian. Ups, point yang terakhir dipikir baik-baik dulu yah! Hehe.. So, pilihan ada di tangan kita. Jangan bercermin pada orang lain agar kita bisa menikmati kehidupan kita sendiri. Sekurang-kurangnya kita dari orang lain (anggaplah demikian) kita adalah produk asli, bukan imitasi. Tunjukkan keunikan kita. Tampilkan pada dunia bahwa kita berbeda. Tapi, yang positif lho ya…So, jawaban terakhir ‘siapa aku’ ialah aku adalah aku sendiri.
Bagaimana, masih bingung siapa anda? Kalau begitu, mulailah dengan menyalin sedikit demi sedikit diri anda dalam catatan-catatan kecil. Tuliskan tentang apa yang telah anda lakukan hari ini, tulis juga apa yang hendak anda raih, apa yang belum anda lakukan untuk keluarga dan orang-orang sekeliling anda, dll. Dengan begitu anda bisa mengukur bagaimana pencapaian hidup anda sejauh ini. Secara tidak langsung, anda telah menuliskan biografi hidup anda sendiri lho... Luar biasa bukan? Siapa tahu bisa menjadi inspirasi bagi anak cucu anda nantinya… Saya akhiri tulisan ini dengan mengutip sebuah pepatah lama, ‘tak kenal maka tak sayang’. Ya, jika anda tak kenal diri anda, maka anda pun pasti tak sayang pada diri anda!

Episode Cinta - Serial 2



Bicara cinta memang tak ada habisnya. Jika pada tulisan “Episode Cinta – Serial 1” kita membahas tentang cinta secara global, maka di serial kedua ini kita akan membahas realita cinta dalam kehidupan kantor. Bukannya apa-apa, sebagai karyawan kantor, aku sedikit resah dengan fenomena asmara terlarang yang kusaksikan sendiri. Bahkan, beberapa kali hal ini pernah  kudiskusikan bersama teman-teman akhwat lainnya. Nah, akan lebih baik jika hasil diskusi itu  kupaparkan sedikit disini. Mudah-mudahan ada yang beroleh manfaat. Insyaa Allah. 

Siang itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.35. Aku belum lagi makan siang. Biasalah, harus merampungkan dulu deadline pekerjaan yang ditunggu bos. Jadi lunch bersama teman-teman kantor terlewati sudah. Akhirnya aku memutuskan makan sendiri di pantry. Nah, begitu memulai kunyahan pertama, tiba-tiba seorang rekan kantor datang menghampiri.

“Baru makan siang nih?” tanyanya basa basi.
“Yoi…” jawabku seadanya.
“Yah, payah! Ketinggalan berita kamu! Tadi siang kita lagi ngebahas gossip yang maha dahsyat!” ujar temanku itu lebay.
“Masa’? Apaan?” Sebenarnya malas kalau denger yang kayak gini, nambah pikiran doang! Tapi, gossip maha dahsyat? Jadi penasaran juga. Hehe…
“Si A dan si B di departemen X dipanggil HC karena ketahuan selingkuh!” ujarnya penuh semangat tukang gossip. Nama memang sengaja disamarkan ya..

Aku yang cukup kenal dan akrab dengan si B kaget bukan main. Mataku melotot antara surprise dan kepedesan makan nasi padang. Hehe… Selanjutnya, temanku itu pun melanjutkan gossip plus bumbu-bumbunya. Aku nggak begitu mengikuti lagi karena di kepalaku sudah berputar segunung pertanyaan. Bukankah keduanya sudah sama-sama menikah dengan orang lain? Bukankah perbedaan usia mereka ibarat ayah dan anak? Aku tidak habis pikir.

Nggak berselang lama dari kejadian itu, aku menyaksikan sendiri kalau M yang masih single dan Pak N yang sudah punya istri juga anak, kepergok pulang bareng. Waktu itu mobil mereka melintas di hadapanku. Padahal yang aku tahu, rumah mereka berlawanan arah. Ya Allah, kok bisa? Bukankah sebelumnya mereka pernah menjadi bahan celaan orang-orang kantor? Sesaat kupikir hubungan mereka sudah terputus ketika HC memindahkan Pak N ke departemen lain. Tapi, kenapa kesalahan itu masih terulang lagi? Bukankah keduanya cukup alim dan paham agama? Batinku bertanya-tanya tanpa bisa berkata-kata. Inilah yang kemudian ingin kudiskusikan bersama teman-teman semua, tentang rentannya diri kita terjebak dalam asmara kantor yang tak berkesudahan.

Kata orang Jawa, witing tresno jalaran seko kulino - cinta datang karena terbiasa (mudah-mudahan bahasa Jawanya nggak salah ya...hehe). Pepatah lama ini ternyata ada benarnya. Seringnya bertemu di kantor memberikan kedekatan tersendiri bagi beberapa orang. Kalau sesama jenis sih no problemo, yang jadi masalah adalah ketika kedekatan ini terjadi antara lawan jenis. Saling curhat, merasa saling nyaman, asyik diajak berdiskusi, dll. Nah, ketika chemistry itu terbangun, istri, anak dan orang-orang sekitar terlupakan sudah. Apalagi jika salah satunya punya masalah dengan istri/suami di rumah, ditambah lagi si wanita masih single yang secara naluri butuh perhatian lebih dari kaum Adam. Ya sudah,wassalam deh…!

Saudariku, cinta itu pilihan. Kita bisa suka pada siapapun. Kita bisa kagum pada siapapun. Tapi cinta hanya hadir ketika kita mengizinkan diri kita untuk bermain-main dalam rasa suka itu. Ketika logika kita mengingatkan bahwa rasa suka itu sudah memasuki area ‘terlarang’ (baca tanda-tanda mendekati zina pada Episode Cinta serial 1), itu artinya Allah SWT telah memberi alarm peringatan pada kita. Ketika kita terus melanjutkan langkah pada yang salah, maka syaithon-lah yang akan bersorak sorai saat penyesalan menghantam jiwa kita nantinya. By the way, khilaf itu hanya kali pertama lho, selanjutnya pastilah ada unsur kesengajaan kan? Jadi, sekali lagi kukatakan, cinta itu pilihan. Apakah anda akan memilih cinta yang sekedar hasrat sesaat atau cinta yang penuh tanggung jawab, pilihan tetap ada pada anda!

Sekarang, izinkan aku bertanya. Bukankah kita begitu sering mendengar kisah tragis dari perselingkuhan? Entah itu dari media ataupun realita dari orang-orang di sekitar kita. Apa yang kita lihat? Bahwa perselingkuhan hanya membawa penderitaan bagi pelaku dan korban perselingkuhan, bukan? Ayolah, jangan pura-pura tidak tahu. Selanjutnya, coba pikirkan dan jawablah dengan jujur pertanyaanku ini. Ketika anda menjalin asmara dengan selain pasangan anda di kantor, apa yang anda rasakan? Happy? Mungkin. Tapi anda tentunya juga resah dan gelisah. Ya, resah karena takut ketahuan! Gelisah begitu ketemu anak maupun istri/suami di rumah! Anehnya, ada yang bilang justru disitu serunya! What...??? Anda pikir kehidupan ini mainan? Astaghfirullah… Dan ketika nantinya rahasia hati anda terbongkar – bagaimanapun bau bangkai akan tercium jugalah ya – bayangkan perasaan anda? Benar, anda akan merana dan kecewa! Anda akan malu dan serba salah! Begitulah saudariku, cinta terlarang memang begitu merepotkan. Lantas, siapa yang layak disalahkan? Tentu saja diri kita! Kenapa tidak mawas diri? Kenapa mau saja digombal sembarang lelaki? 

Bagi saudariku yang masih dalam kesendirian, izinkan aku mengingatkanmu kali ini. Segalanya telah diciptakan Allah SWT berpasang-pasangan. Maka itu, bersabarlah! Jangan rebut pasangan orang lain! Kesendirian itu adalah ujian keimanan kita. Jangan jadikan gairah sesaat menjadi obsesi yang membutakan iman. Saudariku yang kucintai karena Allah, ada saja memang yang mencoba menggoyahkan iman kita. Kemunculan sosok yang dikagumi, rasa kesendirian yang begitu meresahkan, perhatian lebih dari ‘dia’ yang bukan muhrim kita, kecemburuan melihat pasangan-pasangan bahagia, dan iman yang juga lagi down, itu semua membuat kita rentan terserang virus-virus cinta. Namun, bukan berarti kita boleh teracuni dengan virus yang satu itu! Bukankah kita sebagai muslimah menginginkan proses yang halal? Jika kita memaku niatan kita demikian kuatnya, maka Allah akan penuhi apa yang kita minta. Itu janji Allah. Dan satu hal lagi, bayangkan jika nanti kitalah yang jadi korban perselingkungan suami? Hayoo, masih mau berdalih, saudariku? Pahamilah ini dengan baik.

Baiklah, aku punya hadiah untukmu. Yup, berikut kuberikan beberapa pil agar kita terhindar dari virus yang satu ini. Oke?
Pil pertama : Kurangi interaksimu dengan yang bukan muhrim. Apalagi yang namanya curhat! Jauhi! Khususnya sama lelaki yang rada genit atau yang bisa membuatmu kagum. Kagum adalah benih cinta, ingat? Meski awalnya berniat tulus, tapi lama kelamaan, imanmu yang gak keurus!
Pil kedua : Jaga penampilan yang syar’i. Jangan terlalu mengikuti trend sekarang. Bukan melarangmu untuk kreatif dalam berpenampilan, hanya saja tren sekarang semakin mengundang perhatian kaum Adam! Nah, kita pun jadi rentan sebagai target godaan!
Pil ketiga : Sibukkan diri dengan aktivitas yang bermanfaat. Memperbanyak dzikir dan ibadah, misalnya. Percaya deh, semakin kita sibuk dengan yang positif, jampi-jampi syaithon tak akan mempan! Jebakan nafsu pun tak lagi laku!
Pil keempat : Mintalah pertolongan dan perlindungan Allah atas diri kita. Saudariku, syaithon mungkin bisa mengalahkan kita, tapi siapa yang bisa mengalahkan Allah SWT?

Jika saat ini hati kita sudah terinfeksi virus cinta, maka ceritakan segala keresahan kita padaNya, Dialah yang mempunyai segala jawaban untuk semua kegalauan di hati. Dan selanjutnya, teruslah menjaga diri. Perbaiki apa yang terlanjur salah kita lakukan. Kenapa? Agar ujian kesendirian itu tidak berakhir hukuman dari Allah SWT. 

Oh ya, aku ingat sebuah lirik lagu. Mungkin ini bisa meredakan sedikit keresahanmu. “Sabarlah menanti, janji Allah kan pasti. Kekasih kan datang sesuai kadar iman di hati…”. Nah, jadi sabar aja ya... Semoga segala kesabaran kita akan Allah SWT balas dengan pendamping yang istimewa. Istimewa agamanya, istimewa akhlaknya, istimewa jiwanya, istimewa semangat dakwahnya, istimewa juga cintanya! Aamiin.

Episode Cinta - Serial 1



Cinta...
Jika engkau hadir bukan untuk sosok 
yang dihalalkan, maka enyahlah...
Jika engkau muncul sebelum
ikatan suci itu terikrarkan
Maka menjauhlah...
Engkau hanya ingin mengajakku menari-nari 
dalam kemaksiatan
Engkau hanya akan menjerumuskanku 
pada lembah kefuturan
Sungguh, aku tak ingin menyalahi Tuhanku
Karena aku percaya cinta hakiki hanya akan diberikanNya
pada mereka yang setia menjaga kehormatan diri...



CINTA. Siapa yang tak mengenal cinta. Zaman gini, dari engkong-engkong sampai bocah ingusan, pasti tahu apa itu cinta. Yah, meksipun persepsi cinta bagi setiap orang berbeda-beda ya… Katanya hidup tanpa cinta, ibarat sayur tanpa garam. Nggak ada rasa, apa enaknya? Lihat saja, sekarang  ini banyak yang rela bunuh diri karena kehilangan cinta, banyak yang gila karena ditinggal  yang dicinta, dan tidak sedikit yang lupa diri karena mengejar cinta. Bahkan Adam as pun sempat merasakan hidupnya hambar sebelum Allah SWT menciptakan Hawa sebagai pasangannya di surga. So, sepertinya cinta mungkin telah ditakdirkan untuk selalu bersama dengan kehidupan. Betul, betul, betul?

Nah, kali ini kita memang akan bicara tentang cinta. Cinta lawan jenis, tentunya. Tulisan ini hadir tatkala saya melihat begitu banyak pintu-pintu kemaksiatan yang terbuka karena hal yang satu ini. Coba perhatikan sekeliling kita. Ikhtilat seakan sesuatu yang lumrah terjadi! Zina hati pun sudah tak tersembunyikan lagi! Anehnya, ini bukan hanya berlaku pada mereka yang kapasitas agamanya minim, tapi yang pemahaman agamanya sudah mumpuni pun ternyata tak bisa mengelak dari virus pinky ini. Syariat agama seakan terlupa begitu saja. Rasa malu terhadap Allah SWT pun entah raib kemana. Disinilah saya, duhai ukhty’s tercinta, ingin memainkan peran dalam pesan Ilahi, “watawash shaubil haq – saling mengingatkanlah kalian dalam kebenaran” (QS. Al Asr : 3). Insyaa Allah....

Oke, saya mulai dengan satu pertanyaan, kapan pertama kali kita boleh jatuh cinta? Maksud saya, cinta lawan jenis lho ya… Ups, mungkin ada yang bertanya. Boleh? Apakah itu berarti hadirnya cinta itu bisa menjadi tidak boleh? Bukankah cinta itu misteri, datang meski tak diminta namun terkadang tak nampak meski telah dicari kemana jua? Sabar dulu ya, kita simak firman Allah yang satu ini, “Dan Aku telah melimpahkan kepadamu cinta yang datang dariKu” (QS.Thaahaa : 39). Jadi jelas, cinta adalah pemberian Allah SWT. Dan karena itu pun cinta menjadi misteri. Tak ada yang bisa tahu kapan dan siapa yang diberi Allah anugrah cinta itu. Namun, coba lihat ayat berikut ini, “Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar?”. (QS. Al Furqaan : 20). Benar saudariku, wanita adalah ujian bagi laki-laki dan laki-laki pun menjadi ujian bagi wanita. Masya Allah, demikian baiknya Allah SWT. Dia mengingatkan agar kita juga berhati-hati dalam setiap pemberianNya. Cinta yang kita anggap sebagai anugrah bisa jadi adalah bentuk ujian keimanan kita. Inilah kenapa cinta berada dalam zona ‘boleh dan tidak boleh’. Pahamilah ini dengan baik. 

Lantas, bagaimana membedakan cinta yang boleh dan tidak boleh? Oke, masih ingat dengan ayat ini? “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji” (QS. Al Israa : 32). Bayangkan, mendekatinya saja sudah haram, apatah lagi kelanjutannya. Kenapa? Karena berada di jalur kemaksiatan adalah bagian dari kemaksiatan itu sendiri. Memangnya apa saja yang dikatakan mendekati zina? Ketika engkau tidak malu saat berduaan saja dengannya, ketika engkau begitu berani membebaskan pandanganmu tehadapnya, ketika engkau bebas sesumbar tentang rasa itu pada yang lain, dan ketika engkau lupa pada Allah SWT yang melarangmu melakukan itu semua. Jadi, jika engkau melakukan salah satu atau beberapa di antaranya, maka engkau sudah memasuki area ‘cinta yang tak boleh’.

Kalau begitu, apakah muslimah tak boleh jatuh cinta? No, No, No! Bukan itu maksudnya saudariku. Cinta adalah sesuatu yang fitrah. Wajar jika kita menyukai seseorang, entah karena ketampanannya, kecerdasannya, akhlaknya, ataupun kesholehannya. Tapi ingat, itu masih benih cinta. Benih jika tidak dipupuk tidak mungkin akan menjadi pohon yang kuat dan mengakar. Maka, jangan pernah membiarkan syaithon dan nafsu syahwati kita memupuk cinta yang tak pantas itu. Mintalah pertolongan Allah SWT untuk kesucian hati kita. 

So, solusinya jatuh cintalah pada yang sudah dihalalkan Allah SWT bagi kita. Sebelum terikat dalam ikatan suci, jangan berani-berani mengatakan bahwa cinta yang hadir itu mungkin takdir Allah SWT untuk kita. Cinta yang berasal dari Allah SWT pastilah cinta yang suci. Dan cinta yang suci tidak mungkin diperoleh dari proses yang salah. Wah, kedengarannya berat sekali ya? Mungkin begitu, namun ketika kita mengikhlaskan segalanya karena Allah, niscaya Allah pun akan memudahkan segalanya untuk kita. Percayalah.

Duhai saudari seaqidahku, saya yakin kita semua sebenarnya sudah tahu syariat agama ini. Tak perlu rasanya saya berpanjang-panjang lagi disini. Baiklah, saya tutup tulisan kali ini dengan mengutip sebait ayat Allah SWT, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikanNya di antaramu  rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS. Ar Ruum : 21). Jelas sekali bukan? Jadi, rasa kasih dan sayang (baca : cinta) hanya dijadikan (diciptakan) Allah SWT bagi pasangan suami istri. Inilah cinta lawan jenis yang ‘boleh’. Selainnya tidak boleh dong! Nah, yang bisa menerima ini hanyalah orang-orang yang mau berpikir. Semoga saya dan ukhti semua termasuk golongan yang demikian itu. Amin. Wallahu a’lam bish showab…