Alhamdulillah, ramadhan sudah kita nikmati lebih dari sepekan. Bagaimana
perasaanmu, saudaraku? Puaskah dalam amalan-amalan harian? Atau masih ada yang
kurang maksimal? Beberapa hari yang lalu, seorang teman bertanya padaku. Mana
yang lebih utama, tadabbur Al Qur’an atau mengkhatamkan Al Qur’an? Temanku itu
bingung. Pasalnya, dia mendengar kajian dari radio Raja’ - salah satu siaran radio Islam – bahwa tadabbur dan muroja’ah
Al Qur’an itu lebih baik dibandingkan khatam Al Qur’an. Karena khatam biasanya
lebih kepada target pencapaian bukan pada pemahaman. Apa gunanya khatam
berkali-kali tapi maknanya tak ada yang tinggal di hati?
Sebenarnya, aku setuju sekali dengan pendapat itu. Hanya saja, menurutku
nih ya, ini kan Ramadhan, jadi kalau memang bisa mengupayakan dua-duanya kenapa
tidak? Sulit? Berat? Benar sih, tapi ini kan kesempatan yang datangnya sekali
setahun, so kudu rela kerja ekstra! Tidak boleh sama dengan bulan-bulan
sebelumnya. Bulan ini kan gudangnya pahala? Ingat? Nah, jadi kita memang harus
berkorban lebih banyak! Bangunlah lebih pagi. Kurangi waktu tidur dan waktu
bersantai kita. Hindari mengobrol yang tak penting dengan teman. Jangan buang banyak
waktu terlalu lama untuk mengunyah makanan di waktu sahur ataupun berbuka. Dan satu lagi,
tahan diri untuk tidak menghabiskan waktu di depan televisi. Televisi itu lebih banyak melenakan. So, pastikan semua waktu berbuah
pahala! Termasuk tidur kita! Hebat bukan? Beginilah
para salafusshalih dalam menyiasati Ramadhan. Tidakkah hati kita tergerak meneladani?
Saudaraku, tak ada yang menjadi hujjah kita untuk bermain-main dalam
Ramadhan. Bukankah syaithon sudah dibelenggu? Bukankah orang-orang sekeliling
kita juga sibuk beramal? Lantas apa lagi yang membuat kita bermalas-malasan? Menurutku,
hanya ada satu jawaban untuk pertanyaan itu yaitu nafsu kita sendiri. Ya, selama ini kita mungkin terlalu memperturutkan hawa nafsu. Akhirnya, nafsu menjadi sulit
diatur. Bahkan ketika kita menginginkan
ketaatan itu sendiri, jiwa kita malah tidak mau diajak bekerjasama. Senjata makan tuan. Kita pun bertarung
dengan diri sendiri.
Tapi bagaimanapun, jangan
menyerah saudaraku! Ajaklah jiwa kita bicara. Tanyakan padanya, apakah rela
jika saat ini setiap orang sudah mengayunkan langkah ke surga, sedangkan kita tak
kemana-mana? Apakah rela jika yang lain nantinya
mendapat gelar kemenangan dari Allah SWT sedangkan kita berakhir dengan tangan
hampa? Ayo, bernegoisasilah dengannya... Bujuk dia untuk bersabar dalam
ketaatan kita. Namun, jika sang nafsu malah meminta bantuan akal untuk
mencari-cari alasan pembenaran, maka tak ada jalan lain. Paksa dia. Seret jiwa
kita masuk dalam altar ketaatan. Lalu teriakkan padanya, ”Hai nafsu, enyahlah, sungguh aku tak akan rela menyia-nyiakan
Ramadhanku!”
Oh ya, aku punya sebuah info
menarik nih. Tahukah bahwa saat ini kita sedang berada dalam ajang diskon surga
besar-besaran? Hmmm, anda pasti suka diskon, bukan? Nah, di bulan ini, harga surga sangat terjangkau! Kok bisa? Ya, bukankah Allah SWT melipatgandakan
pahala setiap amalan kita di bulan yang mulia ini? Tentunya daya beli kita juga semakin meningkat!, dong So, buruan tukar amal-amal kita dengan pahala. Biar kita
bisa beli surga! Hehehe.. Harap diingat, diskon ini hanya berlaku di bulan
Ramadhan saja lho...!!!
So, mari berlomba meraup
keuntungan yang sebesar-besarnya di bulan Ramadhan ini. Mudah-mudahan kita diberikan kemudahan dalam melakukan amal-amal ketaatan padaNya. Hingga
kita pun menjadi hamba yang layak diberi surgaNya. ”Sungguh orang-orang yang berbakti
benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan” (QS. Al Mutaffifin : 22). Aamiin. Aamiin. Aamiin ya Rabb... Nah, sudah siap
untuk berlomba saudaraku? Kita akan buktikan siapa di antara kita yang bisa
meraup keuntungan yang lebih banyak, aku atau kamu? Baiklah, mari kita
mulai....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar