“Adapun manusia
apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan,
maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku." Adapun bila
Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku
menghinakanku.” (QS. Al Fajr : 15 – 16)
Saudaraku,
Ujian itu
sunnatullah kehidupan. Ketaatan kita bukanlah menjadi tolak ukur sedikit
banyaknya ujian dalam hidup kita. Semuanya diuji, dengan keburukan ataupun
kebaikan. Kita manusia biasa. Wajar jika kita terguncang saat ujian berat
menghadang. Wajar jika kemudian kesedihan bersarang di hati dan menguras banyak
air mata kita. Namun bagaimanapun, tetaplah jaga baik-baik pikiran dan lisan
kita. Jangan sampai ada prasangka buruk pada Allah. Jangan sampai tercetus kata
“tidak adil” tentang Allah. Karena dengan begitu kita telah gagal dalam test
kehidupan yang diberikanNya.
Saudaraku,
Hakikatnya,
ujianlah yang membedakan kita. Dengan cara itulah Allah ingin meneropong hati
kita satu per satu, sejauh mana kejujuran iman kita padaNya. Apakah hanya
menyenangi Allah saat kondisi baik kita? Apakah lantas mengeluhkan Allah jika
Dia mulai mencoba kita dengan kesulitan hidup? Jika benar demikian, bukankah
itu berarti kita telah berani mengatur Allah, Sang Pencipta kita? Bukankah itu
artinya kita telah lancang menuntut Allah memberi sesuai yang kita inginkan? Mari
merenung sejenak, siapa kita? Dan siapa Allah? Naudzubillah...
Saudaraku,
Ujian itu cinta. Maka hitunglah… Sebanyak mana ujian Allah sebesar itulah
cintaNya pada kita. Bagaimana bisa? Bukankah musibah yang kita alami bisa
menghapus dosa-dosa kita jika kita mampu bersabar? Bukankah itu bukti kasih
sayang Allah dengan tidak membalas keburukan kita di neraka yang kekal
balasanNya melainkan menyegerakannya di dunia dalam bentuk ujian-ujian hidup?
Tidakkah kita bersyukur untuk itu? Keyakinan bahwa ujian hidup ini tidak ada
apa-apanya dibanding ujian di yaumil akhir nanti akan menentramkan hati kita
yang saat ini mungkin didera ujian yang begitu berat.
Saudaraku,
Ujian tak akan pernah
berhenti. Terus dan terus datang silih berganti tanpa kita duga. Namun, Allah
itu Ar Rahim. Dia Maha Penyayang. Dia tidak akan mengabaikan kita dan
membiarkan menjalani ujian itu sendiri selama kita benar-benar mengandalkanNya
dalam setiap kesulitan. Dialah Al Wahhab yang akan memberikan pertolongan bagi
mereka yang meminta padaNya. Dengan demikian, ujianlah yang sesungguhnya
mengantarkan kita untuk selalu kembali pada Allah.
Saudaraku,
Bersama Allah, tak
ada jalan buntu. Kita saja yang tak mampu melihat ujung jalan karena sekeliling
kita yang gelap. Namun, cahaya Allah akan selalu menuntun kita pada jalan
keluar yang benar, jika kita benar-benar bergantung padaNya. Tidak ada yang
musykil bagi Allah, tidak juga untuk sebuah jalan keluar bagi permasalahan
hidup kita. Tetaplah berikhtiar. Dan jangan pernah lelah berdoa meski belum
terijabah. Dengan akal kita yang teramat sempit ini, kita tidak akan bisa
memahami apa yang sedang direncanakanNya untuk hidup kita.
Saudaraku,
Dengan rumitnya
jalan kehidupan kita, bukanlah berarti Allah ingin mempersulit kita. Allah
ingin agar kita lebih bijak dalam setiap langkah. Dan hanya dengan menunjukkan
kesabaran dan keikhlasan-lah, kita akan terlihat semakin bernilai dalam
pandanganNya. Maka, tidak ada yang buruk dari sebuah ujian. Yang ada
hanyalah kebaikan, kebaikan, dan kebaikan. Itu hanya terjadi jika kita selalu menjaga
prasangka baik padaNya. Wallahu a’lam bi
showab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar