“Jangan terlalu hitam putih dengan perubahan zaman sekarang. Tidak ada salahnya punya fb. Malah jika tidak punya fb, kamu yang rugi…” ujar seorang teman padaku saat aku memberitahunya bahwa aku tidak punya fasilitas facebook, jejaring sosial yang menurutnya ‘wajib’ dimiliki oleh manusia yang hidup di abad ini. Tidak cuma satu orang yang berceloteh seperti itu. Banyak. Dan semuanya sama. Mereka menyebutku kuno, ketinggalan zaman, atau semacamnya. Hahaha,.. jadi ingin tertawa sendiri. Bukankah aku berhak memilih hal mana yang penting atau tidak untukku? Bagi milyaran penduduk bumi ini mungkin fb itu penting, tapi tidak bagiku. Ada hal-hal yang menurutku jauh lebih bermanfaat untuk kuiisi dalam celah-celah waktu luangku, dibanding “meng’update status, baca status friends, comment untuk status mereka, dan sebangsanya. Aku tidak pernah mengejek mereka yang sibuk ber-facebook ria, tapi please donk… jangan juga mengintimidasiku ketika tidak punya facebook! Hidup itu pilihan, fren! Dan kita akan mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan kita itu di hadapanNya kelak!
Banyak
yang bilang, facebook bisa sebagai
sarana dakwah. Mungkin. Dan mudah-mudahan itulah yang terjadi. Namun yang
kusaksikan, banyak diskusi-diskusi agama tersebut berubah menjadi sarana
ikhtilat akhwat dan ikhwan, topik yang dibicarakan juga tidak jelas, bahkan ada
yang sampai menyisipkan dalil-dalil Al Qur’an agar terlihat alim dan paham
agama. Naudzubillah.. Teknologi telah merubah jiwa hanif manusia.
“Eh,
kamu kalau mau dapat jodoh, punya facebook
donk… Banyak kenalan, banyak pilihan lho…” ujar seorang teman, mengomentari aku
yang masih sendiri. Astaghfirullah…
Apakah aku sedemikian putus asanya hingga harus mencari jodoh lewat fb? Maaf
saja, karena menurutku orang yang masih punya waktu bersuka ria untuk hal
seperti itu berarti orang yang tidak bisa mengoptimalkan waktunya untuk
kegiatan-kegiatan positif.
Facebook mungkin saja ada manfaatnya. Namun menurutku, mudhoratnya jauh lebih
banyak. Bukankah banyak yang selingkuh akibat facebook, bergosip lewat facebook,
menyia-nyiakan waktu, mengotori hati, dll. Aihh, jangan marah begitu donk…! Ini
bukan karena aku anti facebook… Sama
sekali bukan! Aku hanya melihat fakta dari teman-teman yang terjangkit demam FB!
Jika memang mampu mengontrol diri, silahkan saja. Kita yang lebih tahu sejauh
mana pengendalian diri kita. Tapi buatku, aku memang lebih memilih ‘no FB’
daripada dihantui perasaan khawatir akan waktu yang sia-sia, khawatir akan
hubungan pertemanan yang kurang syar’i, khawatir akan diriku yang tidak mampu
menahan diri ber-comment ini dan itu untuk status orang lain yang tidak ada kaitannya
denganku. Menurut Imam Al Jauzy, berbaur terlalu banyak dan terlalu sering
dengan orang lain maka bisa mematikan hati, meskipun secara tidak langsung lho…
(melalui FB misalnya).
So, pilihan ada di
tangan kita. Jika memang menurut anda fb bisa dijadikan sebagai sarana yang
tepat dalam berdakwah, berbagi ilmu, dan menyambung silaturrahim, monggo… Silahkan!
Tapi, jika waktu luang anda yang seharusnya bisa anda gunakan untuk tilawah, menghafal
Al Qur’an, dzikir, dan yang lainnya, saya sarankan jangan habiskan waktu anda
untuk hal yang kurang bermanfaat. Kenapa? Karena sesuatu yang tidak bermanfaat
itu (meskipun bukan sebuah kemaksiatan) adalah bentuk keburukan juga. At last, aku kutipkan sebuah hadist sebagai
renungan kita semua, “Barang siapa yang tidak disibukkan oleh kebaikan, maka
pastilah ia disibukkan dengan keburukan”. Semoga kita semua termasuk golongan
orang yang mampu memaksimalkan waktu dengan sebaik-baiknya. Amin.
Wallahu a’lam bis
showab…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar