Sabtu, 13 Juli 2013

Mengukur Kadar Ukhuwah Diri




Hai frens, apa kabar nih? Sehat wal’afiat semua kan? Alhamdulillah… Oh ya, kali ini ada tema yang ingin kudiskusikan bersama kalian. Wacana lama sebenarnya, tapi menurutku penting untuk terus dan terus diingatkan tentang tema yang satu ini. Mau tahu? Yuk, gabung...!
Oke, sebelumnya aku ingin bertanya, masih ingat dengan permainan tarik tambang? Hmm, aku yakin kalian yang kelahiran sebelum era 90an, pasti tahu permainan lama ini. Cara bermainnya begini. Sebuah tambang akan dipegang oleh 2 team di kedua sisi. Mereka dipisahkan oleh sebuah garis yang disebut garis tengah. Nah, jika salah satu team berhasil menarik tambang lawan melewati garis ini sedikit saja, maka team itulah pemenangnya. Mudah sekali bukan? Yang paling seru dalam permainan ini adalah ketika tambang ditarik oleh kedua team yang sama-sama kuat. Bayangkan jika ada satu orang saja yang mengendurkan genggaman pada tali, hmmm… Kalian tahu apa yang akan terjadi, bukan? Hehe, tepat sekali. Satu team bisa tersungkur ke tanah sekaligus! Hahaha… Aku jadi teringat saat aku memainkan permainan ini bersama teman-teman SD-ku dulu. Kami kalah. Tangan kami lecet semua. Kaki juga ikutan berdarah. Namun meski begitu, tak ada kata menyalahkan. Kami justru tertawa terbahak-bahak sambil berangkulan. Biarpun kalah, kami tetap menikmati kebersamaan kami. Indah sekali ya? Sayang, permainan ini sudah jarang sekali dimainkan anak-anak sekarang. Mereka terlalu asyik dengan aneka permainan di gadget keluaran terbaru saat ini. Ah, sayang sekali...!
Menurutku, tarik tambang bisa dijadikan gambaran tentang makna ukhuwah. Aku membayangkan bahwa tambang adalah ikatan yang terjalin antara kita dan orang lain. Entah itu saudara, teman, sahabat, atau orang-orang sekitar kita. Genggaman tangan kita pada tali menunjukkan seberapa kuat hubungan itu. Pasti akan ada sentakan-sentakan yang membuat genggaman kita kendor bahkan terlepas dari tali. Dan sentakan-sentakan itu ibarat kesibukan-kesibukan kita yang tiada henti hingga kita tak punya waktu lagi untuk orang lain. Kita mulai tak peka dengan  orang lain. Kita tak lagi care dengan problem-problem sekitar. Tanpa sadar, kita hanya berorientasi pada satu hal. Kesuksesan diri. Kebahagiaan pribadi. Nah, bukankah ini alarm bahwa ukhuwah (rasa persaudaraan) mulai terkikis di hati? Akibatnya, ukhuwah kita tidak saja bisa renggang, namun bisa terputus begitu saja. Loss contact
Zaman sekarang memang menuntut kita menjadi orang yang super sibuk. Kita sibuk dengan pekerjaan, sibuk dengan rumah tangga, sibuk dengan bisnis, dan segudang aktivitas lain. Kita pun tak sempat lagi saling kunjung-mengunjungi, saling bertukar sapa, ataupun berdiskusi bersama. Meski begitu, kita tak boleh kehilangan ukhuwah dengan orang-orang terdekat kita. Caranya? Dengan doa. 
Ya, doa itu pengikat hati, saudaraku. Doa seperti lem. Semakin banyak doa buat saudara kita, semakin erat jualah ikatan batin kita dengan mereka. Kita mungkin tak punya cukup waktu lagi untuk mereka, namun kita masih bisa saling mendoakan, bukan? Insyaa Allah, ukhuwah pun tetap nikmat terasa. Bagiku, beginilah cara mengukur kadar ukhuwah diri. Dengan doa. Ya, jika aku lupa menyertakan mereka dalam list doa-doaku, itu pertanda bahwa keberadaan mereka mulai terlupakan olehku. Jika selepas sholat, aku hanya meminta dan meminta untuk kebaikan diri sendiri, itu artinya aku hanya berputar di duniaku sendiri. Alangkah egoisnya...
Namun, doa juga bukan sekedar  ucapan basa basi semata. Coba renungkan firman Allah SWT berikut ini. “Hanya bagi Allah lah (hak mengabulkan) doa yang benar” (QS. Ar Ra’d : 14). Tepat sekali, Allah SWT hanya akan mengabulkan doa yang benar. Lantas, doa yang benar itu seperti apa? Menurutku, doa yang benar adalah doa yang bersumber dari hati. Bukan sekedar ucapan sesumbar! Jadi, jangan begitu gampangnya mengucapkan, ”Aku doain deh biar kamu bla...bla...bla”. Ucapkan itu benar-benar dari hati kita, dengan penuh harapan pada Allah SWT agar doa itu dikabulkan baginya.
Aku jadi teringat sebuah pesan dari seorang ustadzah ketika aku mengikuti sebuah daurah. Kata beliau, kita belum benar-benar mendoakan jika kita belum menyebutkan satu per satu orang yang hendak kita doakan. Maksudnya begini. Saat berdoa, biasanya tujuan doa kita dialamatkan bagi kaum muslimin wa muslimat. Oke, itu baik, tapi siapa orangnya kita kan belum sebut, itu terlalu umum! Bukankah Allah SWT pasti tahu siapa yang kita maksud? Benar, Allah SWT memang Maha Tahu apa yang ada di dalam hati, tapi jika kita berdoa spesifik, bukankah para malaikat juga bisa ikut mendoakan? Nah, peluang pengabulan doanya jadi semakin besar.
Jadi, mulai sekarang, mari saling mendoakan. List minimal 1 orang dalam setiap doa kita. Sebutkan nama dan keperluannya. Gilirkan lagi nama yang lain di masing-masing sholat kita. Oh ya, namaku jangan ketinggalan ya...Hehe... Sampai berjumpa di pelangi doa!        

2 komentar:

  1. jangan lupa mendoakan nama rhini wulan dary ya kak ^_^

    BalasHapus
  2. insya Allah rin...

    kakak juga didoain ya...

    Semoga yang terbaik lah yang Allah berikan pada kita. Amin

    BalasHapus