Siang
itu begitu terik. Kuusap kembali peluh yang membintik-bintik di dahiku. Ahh,
aku selalu saja lupa membawa sapu tangan. Hari ini aku dan team sedang
melakukan pembacaan stan meter di DM (district meter) yang berlokasi
tepat di samping kampus YARSI (Yayasan Rumah Sakit Islam) Jakarta. Setelah
pekerjaan kami selesai, kami pun segera mengayunkan langkah ke mesjid yang
jaraknya tidak jauh dari sana. Waktu telah menunjukkan pukul 12.55 WIB. Kami
belum lagi menunaikan sholat Dzuhur. Begitu memasuki area mesjid, ternyata
banyak sekali mahasiswa yang berkerumun disana. Ada yang nangkring di sekitar
tangga, duduk-duduk di teras, juga berdiskusi di pelataran mesjid. Maklum,
mesjid itu adalah mesjid kampus YARSI. Jadi tidak heran, jika mesjid itu menjadi
ramai sekali.
Kusapukan
sekali lagi pandanganku pada mahasiswa-mahasiswi itu. Mataku nanar dan tanpa
sadar ada tetes-tetes rindu yang mengalir di hati. Aku rindu kampus. Rindu
suasana seperti ini. Rindu dengan sosokku sebagai mahasiswi kampus yang aktif
di berbagai kegiatan. Ada genangan air mata yang hendak menetes. Kutarik nafas
dalam-dalam berharap bisa meredakan beribu rasa yang bergejolak.
Saat
sholat aku merasakan kedamaian yang luar biasa. Aku seakan sedang sholat di
mesjid Ad Dakwah, mesjid tempatku dulu berkumpul bersama akhwat-akhwat USU
lainnya. Setelah mengakhiri sholatku dengan salam dan bermunajat sejenak,
kulipat dengan terlatih mukena parasutku. Saat itulah tanpa sengaja, pandanganku
bertubrukan dengan seorang akhwat berjilbab putih lebar. Dia tersenyum.
“Assalamu'alaikum…” sapanya lembut. Aku membalas salamnya dengan sama sopannya.
“Wa'alaikumsalam…” ujarku sambil menyuguhkan senyum 5 centi-ku. Dia pun berlalu
setelah mengangguk sopan. Ahh, aku terpaku dengan keanggunan dan tatapannya
yang bersahabat, seolah kami sudah kenal lama. Memang, seperti inilah karakter
seorang akhwat. Lembut dan begitu ramah. Beginilah yang biasa kulakukan bersama
teman-teman akhwat di kampusku dulu. Selalu ada sapaan saat bertemu, saling
berjabat tangan, lalu cipika cipiki tiga kali. Dengan akhwat siapapun itu, meski tak kenal
sama sekali. Indah sekali, bukan? Sekarang aku tak pernah lagi melakukan hal itu.
Ahh,
betapa aku merindukan saudari-saudariku di kampus Teknik tercinta. Kupejamkan
mata. Bayangan satu per satu mereka membajiriku dengan sejuta rindu. Ahhh,
senyum kalian akan tetap tersimpan di hati. Semoga Allah SWT mempertemukan kita
kembali... Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar