Malam itu, selepas
Maghrib, teman se-kos mengajakku menyewa buku di book store langganan
kami, Titik Koma. Sebenarnya, aku malaaaas buanget! Bukan hanya karena kecape’an
akibat kurang tidur (alhamdulillah, aku baru saja merampungkan skripsi), tapi
uang saku juga sudah sangat menipis, hehe…Lagian, masih banyak buku koleksiku
yang ngantri untuk dibaca. Tapi, demi pertemanan, okelah.. Aku akhirnya memutuskan ikut
demi memenuhi hasratnya meminjam komik! Hehehe…
Aku memang cukup akrab dengan si pemilik
toko. Selain karena aku sering meminjam buku, aku juga sering terlibat
pembicaraan seru dengan lelaki yang biasa kupanggil abang itu (sudah setengah
tahun berlangganan buku, tapi namanya saja aku belum tahu, hehe…). Wawasannya
sangat luas. Dan menurutku, dia orang yang sangat kritis. Maklumlah, dia itu lulusan
S1 FISIP USU dan sekarang sedang melanjut S2. Saat kutanyakan kenapa tidak
mencari kerja di instansi saja, dia malah tertawa dan menjawab dengan nada
sinis, “Bekerja di instansi, perusahaan, atau apapun itu, bisa melenyapkan
idealismeku...”. Hmm, keren juga...!
Seperti biasa,
toko buku itu selalu saja wangi, wajar karena di samping toko ini ada toko
penjual parfum. Iseng-iseng kumulai percakapan dengan si abang, sambil sesekali
melirik temanku yang sedari tadi sibuk memilah-milah komik buruannya. Tak
terpikir sedikitpun bahwa ini akan menjadi awal debat hebat antara aku dan si
abang buku.
“Jadi pengen beli parfum juga nih. Bukan untuk Kiki sih, tapi untuk buku-buku Kiki biar wangi dan nggak dimakan rayap” ujarku santai.
"Emang kenapa kalau Kiki yang pakai?" tanyanya dengan nada sedikit berbeda dari biasanya.
"Hm, wanita kan nggak boleh pakai wewangian..." jawabku seadanya.
"Wah, Kiki salah nih. Pakai parfum itu hukumnya sah-sah aja kok, meskipun mengandung alkohol. Alkohol itu haram jika sampai menyebabkan mabuk, misalnya saat diminum. Jika dipakai untuk keperluan lain, ya boleh aja..." paparnya.
Entah kenapa,
nadanya seperti menggurui. Aku sedikit tersinggung.
"Setahu
Kiki sih hukum parfum yang beralkohol itu haram, apalagi yang menggunakannya
wanita, tidak baik jika sampai tercium oleh yang bukan mahramnya." jawabku
sedikit lebih tegas. Si abang terdiam cukup lama sambil menatapku dengan
pandangan aneh.
“Kalau boleh
tahu, Kiki ngaji dimana?” tanya si abang tiba-tiba.
“Yah,
dimana-mana…” jawabku sekenanya. Apa hubungannya? batinku.
“Iya, maksud
saya, nama pengajiannya apa?” desaknya lagi.
“Tarbiyah itu
apa?” Entah itu karena murni bertanya atau ada maksud di baliknya, aku tidak
tahu.
“PKS ya?” tanyanya, mulai mengintimidasi.
“Nggak. Kiki
bukan anggota PKS. Ngaji biasalah… “ menyesal telah menyebut tarbiyah.
“Jadi belajar
agama darimana?” tanyanya lagi, belum puas dengan jawabanku.
“Yah, lebih
banyak otodidak!” kujawab asal sambil membolak-balik buku, mulai mengabaikan
pertanyaan-pertanyaannya.
“Hm, menarik…”
ujarnya sambil tersenyum aneh. Waduh, pasti
pembicaraan ini akan panjang, keluhku. Benar saja dugaanku, bahkan kejadian
berikutnya tidak pernah terbayang dalam benakku.
“Pertanyaan
yang nggak perlu dijawab!” potongku cepat. Aku malas menjawab karena menurutku
berdiskusi tentang hal ketuhanan dengan orang yang hobi berdebat adalah
perbuatan sia-sia.
“Menurut Kiki
sesuatu yang sudah pasti tidak pantas diperdebatkan.”
“Itu kan
menurut Kiki. Jika ada yang menanyakan Tuhan itu ada atau tidak, bagaimana kita
bisa menjelaskan Tuhan itu ada? Dimana Tuhan? Apa kita bisa jawab cuma dengan
kalimat, ‘Itu sih sudah pasti, yah diyakini aja!’ Boleh begitu?”
sergahnya dengan nada yang cukup tinggi.
“Yah, nggak
begitu juga. Kita mungkin bisa menjelaskan dengan
keberadaan alam semesta yang ada di sekitar kita. Misalnya, kita tahu ada
langit dan bumi dengan gunung-gunung yang bertengger di atasnya. Apa semuanya
muncul sendiri? Kan tidak, pastilah ada penciptanya! Kita juga bisa merasakan
udara di sekeliling kita, meski tak pernah melihatnya. Nah, begitu juga dengan
keberadaan Tuhan. Dia ada. Dan kita bisa merasakan itu. Namun, apa bisa kita
melihatNya?”Emosiku mulai terpancing. Aku merasa disepelekan.
“Zaman sekarang
udara bisa dilihat melalui mikroskop mikro. Dan mengenai penciptaan langit dan bumi, apa Kiki melihat penciptaan bumi
langit itu sendiri? Coba bayangkan kalau yang menanyakan itu atheis? Jawaban
Kiki itu akan sangat mudah dipatahkan!” balasnya tidak kalah sengit.
“Mungkin. Tapi
itu hanya dilakukan oleh orang yang berani memfilsafatkan Tuhan, memfilsafatkan
agama! Tidak semua bisa dipahami secara logika."
“Siapa bilang
kita tidak bisa memfilsafatkan agama? Semua di dunia
ini tidak bisa diterima begitu saja. Harus dipikirkan. Jangan sekedar mengikuti
saja. Itu doktrin namanya!”
“Iya, tapi
filsafat itu terkadang mereka-reka sesuatu yang tidak pasti, bahkan memaksakan
bahwa segala kejadian di dunia ini harus ada asal muasalnya, harus ada sebab
akibatnya. Bukankah itu artinya kita meraba sesuatu yang di luar jangkauan
kita?”
“Siapa yang
bilang filsafat seperti itu? Dalili Kiki apa? Jangan mengklaim sesuatu yang
Kiki sendiri tidak tahu!” nada si pemilik toko sangat tajam, membuatku terdiam
sejuta kata. Aku tidak lagi marah tapi malah ketakutan dengan mimik dan nada
suaranya.
“Bagaimana
memahami Al Qur’an? Tentu dengan akal. Dan alat filsafat itu juga akal. Jadi, jangan pernah menyalahkan filsafat!”
lanjutnya lagi, masih dalam keadaan marah.
“Kiki tidak
tahu dengan apa yang Kiki katakan. Kiki tidak mengerti. Jangan cuma sekedar
ikut-ikutan dalam agama! Biar tidak salah langkah dan rusak hingga ke
akar-akarnya!” lanjutnya dengan nada sinis.
Aku benar-benar
shock. Otakku benar-benar blank. Aku merasa terhina. Tidak mampu
membahasakan pikiran. Aku malu, kesal, tertekan, rasanya semua perasaan itu
bercampur aduk. Terngiang lagi kata-katanya, “Dalil Kiki apa?”. Benar,
tak ada hafalan Qur’an apalagi hadist sebagai dalil untuk menguatkan
pendapatku. Aku yakin pernah membaca dalilnya, tapi tak hafal satupun. Ahh, aku
menyesal luar biasa. Kenapa selama ini aku merasa cukup dengan memahami apa
yang kubaca tanpa berniat menghafalnya? Padahal, moment ini mungkin bisa
jadi celah dakwah untukku. Tapi yang terjadi sekarang malah sebaliknya. Aku
menjadi bulan-bulanan bagi orang yang fasih lidahnya dalam berdebat. Ternyata
ilmu memang perlu dihafalkan, perlu dikuasai dengan baik, luar kepala. Dengan
ilmu itu kita bisa mempertahankan kebenaran di hadapan orang-orang yang merasa
benar. Ahh, andai saja sedari dulu aku tergerak menghafalkan dalil Al Qur'an
dan hadist, mungkin bisa memberikan masukan positif bagi pemikiran si abang.
Begitu ingin
aku menjelaskan bahwa mungkin saja ada ilmu filsafat yang tidak bertentangan
dengan Al Quran, namun jauh lebih banyak ilmu filsafat yang meracuni konsep
pemikiran manusia dalam beragama. Semua hal dipertanyakan dan dikaji hingga
ke akar-akarnya. Jika tidak ada penjelasan secara logis, maka ilmu akan
tertolak bagi mereka. Padahal, bukankah Allah SWT dan RasulNya meminta
agar manusia tidak banyak bertanya? Tidak banyak membantah? Itu bukanlah
berarti Allah SWT ingin mendoktrin atau memaksa kita dalam agama ini tapi
dengan itulah Allah ingin melihat apakah kita tetap taat melaksanakan
perintahNya meski tidak tahu alasan atau kejelasan di balik itu semua. Masih ingat kisah Bani Israil di surat Al Baqarah kan? Allah
SWT memang memerintahkan kita untuk menggunakan akal agar bisa lebih
mengenalNya namun sadarilah kemampuan akal kita juga terbatas. Tidak semuanya bisa dianalisis dengan akal. Hanya Allah SWT yang Maha
Mengetahui.
Hal yang paling
menyedihkanku adalah bahwa aku divonis tidak mengerti dengan ketaatanku selama
ini! Aku dianggap terdoktrin! Sekedar ikut! Astaghfirullah…. Hanya Engkau yang
tahu ya Allah, bahwa iman ini tidaklah tertanam karena perintah orang lain,
bukan sekedar ajakan atau sebatas melepas kewajiban. Namun, iman ini ada karena
aku pun berusaha mengenalMu. Aku ingin menjadi hambaMu yang beriman
lagi berilmu. Tapi saat ini, aku malah dicap beriman tanpa berilmu hanya karena
aku tidak sefikrah dengannya tentang hukum filsafat? Astaghfirullah..
Aku tidak menyalahkan si abang. Menurutku, dia ada benarnya juga. Kita memang harus tahu beragam ilmu untuk menjelaskan kebenaran Islam di berbagai kalangan. Tapi, menyandarkan agama ini pada ilmu filsafat menurutku bukanlah hal yang bijak. Memang, ilmu harus bisa menjadi jembatan dakwah dan syiar agama, namun sekali lagi ilmu itu pun harus memenuhi standar kelayakan agar bisa dijadikan dalil yang benar atas penjelasan-penjelasan agama ini. Pantaslah, jika Allah SWT sangat memuliakan orang-orang yang berilmu, “…
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan
orang-orang yang diberi ilmu ke beberapa derajat…” (QS. Al Mujadilah : 11).
Semoga kelak
kita mampu berperan sebagai kandidat Allah SWT dalam mempertahankan kebenaran
Islam di bumiNya ini. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar