Selasa, 05 Mei 2009

Dakwah Itu Butuh Ilmu

  

Malam itu, selepas Maghrib, teman se-kos mengajakku menyewa buku di book store langganan kami, Titik Koma. Sebenarnya, aku malaaaas buanget! Bukan hanya karena  kecape’an akibat kurang tidur (alhamdulillah, aku baru saja merampungkan skripsi), tapi uang saku juga sudah sangat menipis, hehe…Lagian, masih banyak buku koleksiku yang ngantri untuk dibaca. Tapi, demi pertemanan, okelah.. Aku akhirnya memutuskan ikut demi memenuhi hasratnya meminjam komik! Hehehe…

Aku memang cukup akrab dengan si pemilik toko. Selain karena aku sering meminjam buku, aku juga sering terlibat pembicaraan seru dengan lelaki yang biasa kupanggil abang itu (sudah setengah tahun berlangganan buku, tapi namanya saja aku belum tahu, hehe…). Wawasannya sangat luas. Dan menurutku, dia orang yang sangat kritis. Maklumlah, dia itu  lulusan S1 FISIP USU dan sekarang sedang melanjut S2. Saat kutanyakan kenapa tidak mencari kerja di instansi saja, dia malah tertawa dan menjawab dengan nada sinis, “Bekerja di instansi, perusahaan, atau apapun itu, bisa melenyapkan idealismeku...”. Hmm, keren juga...!  

Seperti biasa, toko buku itu selalu saja wangi, wajar karena di samping toko ini ada toko penjual parfum. Iseng-iseng kumulai percakapan dengan si abang, sambil sesekali melirik temanku yang sedari tadi sibuk memilah-milah komik buruannya. Tak terpikir sedikitpun bahwa ini akan menjadi awal debat hebat antara aku dan si abang buku. 

“Untung juga ya bang, di sebelah ada toko parfum, buku-bukunya jadi ikutan wangi..!” ujarku sambil mencium buku yang kupegang saat itu. Si abang terkekeh sedikit. 

“Jadi pengen beli parfum juga nih. Bukan untuk Kiki sih, tapi untuk buku-buku Kiki biar wangi dan nggak dimakan rayap” ujarku santai.  

"Emang kenapa kalau Kiki yang pakai?" tanyanya dengan nada sedikit berbeda dari biasanya.

"Hm, wanita kan nggak boleh pakai wewangian..." jawabku seadanya. 

"Wah, Kiki salah nih. Pakai parfum itu hukumnya sah-sah aja kok, meskipun mengandung alkohol. Alkohol itu haram jika sampai menyebabkan mabuk, misalnya saat diminum. Jika dipakai untuk keperluan lain, ya boleh aja..." paparnya. 

Entah kenapa, nadanya seperti menggurui. Aku sedikit tersinggung. 

"Setahu Kiki sih hukum parfum yang beralkohol itu haram, apalagi yang menggunakannya wanita, tidak baik jika sampai tercium oleh yang bukan mahramnya." jawabku sedikit lebih tegas. Si abang terdiam cukup lama sambil menatapku dengan pandangan aneh. 

“Kalau boleh tahu, Kiki ngaji dimana?” tanya si abang tiba-tiba.  

“Yah, dimana-mana…” jawabku sekenanya. Apa hubungannya? batinku. 

“Iya, maksud saya, nama pengajiannya apa?” desaknya lagi. 

“Hm, tarbiyah” jawabku pelan, ragu apakah pertanyaan ini perlu dijawab atau tidak. 

“Tarbiyah itu apa?” Entah itu karena murni bertanya atau ada maksud di baliknya, aku tidak tahu. 

“Yah, tarbiyah. Pembinaan.” jawabku lagi, mulai berpikir bagaimana mengalihkan pembicaraan ini.

“PKS ya?” tanyanya,  mulai mengintimidasi.  

“Nggak. Kiki bukan anggota PKS. Ngaji biasalah… “ menyesal telah menyebut tarbiyah.  

“Jadi belajar agama darimana?” tanyanya lagi, belum puas dengan jawabanku. 

“Yah, lebih banyak otodidak!” kujawab asal sambil membolak-balik buku, mulai mengabaikan pertanyaan-pertanyaannya.

“Hm, menarik…” ujarnya sambil tersenyum aneh. Waduh, pasti pembicaraan ini akan panjang, keluhku. Benar saja dugaanku, bahkan kejadian berikutnya tidak pernah terbayang dalam benakku.

“Menurut Kiki, apa Tuhan itu ada?” 

“Pertanyaan yang nggak perlu dijawab!” potongku cepat. Aku malas menjawab karena menurutku berdiskusi tentang hal ketuhanan dengan orang yang hobi berdebat adalah perbuatan sia-sia. 

“Nah, inilah contoh pemahaman yang keliru! Ini pertanyaan mendasar yang wajib dijawab!” ejeknya.

“Menurut Kiki sesuatu yang sudah pasti tidak pantas diperdebatkan.” 

“Itu kan menurut Kiki. Jika ada yang menanyakan Tuhan itu ada atau tidak, bagaimana kita bisa menjelaskan Tuhan itu ada? Dimana Tuhan? Apa kita bisa jawab cuma dengan kalimat, ‘Itu sih sudah pasti, yah diyakini aja!’ Boleh begitu?” sergahnya dengan nada yang cukup tinggi. 

“Yah, nggak begitu juga. Kita mungkin bisa menjelaskan dengan keberadaan alam semesta yang ada di sekitar kita. Misalnya, kita tahu ada langit dan bumi dengan gunung-gunung yang bertengger di atasnya. Apa semuanya muncul sendiri? Kan tidak, pastilah ada penciptanya! Kita juga bisa merasakan udara di sekeliling kita, meski tak pernah melihatnya. Nah, begitu juga dengan keberadaan Tuhan. Dia ada. Dan kita bisa merasakan itu. Namun, apa bisa kita melihatNya?”Emosiku mulai terpancing. Aku merasa disepelekan.

“Zaman sekarang udara bisa dilihat melalui mikroskop mikro. Dan mengenai penciptaan langit dan bumi, apa Kiki melihat penciptaan bumi langit itu sendiri? Coba bayangkan kalau yang menanyakan itu atheis? Jawaban Kiki itu akan sangat mudah dipatahkan!” balasnya tidak kalah sengit.

“Mungkin. Tapi itu hanya dilakukan oleh orang yang berani memfilsafatkan Tuhan, memfilsafatkan agama! Tidak semua bisa dipahami secara logika."

“Siapa bilang kita tidak bisa memfilsafatkan agama? Semua di dunia ini tidak bisa diterima begitu saja. Harus dipikirkan. Jangan sekedar mengikuti saja. Itu doktrin namanya!” 

“Iya, tapi filsafat itu terkadang mereka-reka sesuatu yang tidak pasti, bahkan memaksakan bahwa segala kejadian di dunia ini harus ada asal muasalnya, harus ada sebab akibatnya. Bukankah itu artinya kita meraba sesuatu yang di luar jangkauan kita?”

“Siapa yang bilang filsafat seperti itu? Dalili Kiki apa? Jangan mengklaim sesuatu yang Kiki sendiri tidak tahu!” nada si pemilik toko sangat tajam, membuatku terdiam sejuta kata. Aku tidak lagi marah tapi malah ketakutan dengan mimik dan nada suaranya.

“Bagaimana memahami Al Qur’an? Tentu dengan akal. Dan alat filsafat itu juga akal. Jadi, jangan pernah menyalahkan filsafat!” lanjutnya lagi, masih dalam keadaan marah.

“Kiki tidak tahu dengan apa yang Kiki katakan. Kiki tidak mengerti. Jangan cuma sekedar ikut-ikutan dalam agama! Biar tidak salah langkah dan rusak hingga ke akar-akarnya!” lanjutnya dengan nada sinis. 

Aku benar-benar shock. Otakku benar-benar blank. Aku merasa terhina. Tidak mampu membahasakan pikiran. Aku malu, kesal, tertekan, rasanya semua perasaan itu bercampur aduk. Terngiang lagi kata-katanya, “Dalil Kiki apa?”. Benar, tak ada hafalan Qur’an apalagi hadist sebagai dalil untuk menguatkan pendapatku. Aku yakin pernah membaca dalilnya, tapi tak hafal satupun. Ahh, aku menyesal luar biasa. Kenapa selama ini aku merasa cukup dengan memahami apa yang kubaca tanpa berniat menghafalnya? Padahal, moment ini mungkin bisa jadi celah dakwah untukku. Tapi yang terjadi sekarang malah sebaliknya. Aku menjadi bulan-bulanan bagi orang yang fasih lidahnya dalam berdebat. Ternyata ilmu memang perlu dihafalkan, perlu dikuasai dengan baik, luar kepala. Dengan ilmu itu kita bisa mempertahankan kebenaran di hadapan orang-orang yang merasa benar. Ahh, andai saja sedari dulu aku tergerak menghafalkan dalil Al Qur'an dan hadist, mungkin bisa memberikan masukan positif bagi pemikiran si abang.

Begitu ingin aku menjelaskan bahwa mungkin saja ada ilmu filsafat yang tidak bertentangan dengan Al Quran, namun jauh lebih banyak ilmu filsafat yang meracuni konsep pemikiran manusia dalam beragama. Semua hal dipertanyakan dan dikaji hingga ke akar-akarnya. Jika tidak ada penjelasan secara logis, maka ilmu akan tertolak bagi mereka. Padahal, bukankah Allah SWT dan RasulNya meminta agar manusia tidak banyak bertanya? Tidak banyak membantah? Itu bukanlah berarti Allah SWT ingin mendoktrin atau memaksa kita dalam agama ini tapi dengan itulah Allah ingin melihat apakah kita tetap taat melaksanakan perintahNya meski tidak tahu alasan atau kejelasan di balik itu semua. Masih ingat kisah Bani Israil di surat Al Baqarah kan? Allah SWT memang memerintahkan kita untuk menggunakan akal agar bisa lebih mengenalNya namun sadarilah kemampuan akal kita juga terbatas. Tidak semuanya bisa dianalisis dengan akal. Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui.

Hal yang paling menyedihkanku adalah bahwa aku divonis tidak mengerti dengan ketaatanku selama ini! Aku dianggap terdoktrin! Sekedar ikut! Astaghfirullah…. Hanya Engkau yang tahu ya Allah, bahwa iman ini tidaklah tertanam karena perintah orang lain, bukan sekedar ajakan atau sebatas melepas kewajiban. Namun, iman ini ada karena aku pun berusaha mengenalMu. Aku ingin menjadi hambaMu yang beriman lagi berilmu. Tapi saat ini, aku malah dicap beriman tanpa berilmu hanya karena aku tidak sefikrah dengannya tentang hukum filsafat? Astaghfirullah..

Aku tidak menyalahkan si abang. Menurutku, dia ada benarnya juga. Kita memang harus tahu beragam ilmu untuk menjelaskan kebenaran Islam di berbagai kalangan. Tapi, menyandarkan agama ini pada ilmu filsafat menurutku bukanlah hal yang bijak. Memang, ilmu harus bisa menjadi jembatan dakwah dan syiar agama, namun sekali lagi ilmu itu pun harus memenuhi standar kelayakan agar bisa dijadikan dalil yang benar atas penjelasan-penjelasan agama ini. Pantaslah, jika Allah SWT sangat memuliakan orang-orang yang berilmu, “… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu ke beberapa derajat…” (QS. Al Mujadilah : 11)

Semoga kelak kita mampu berperan sebagai kandidat Allah SWT dalam mempertahankan kebenaran Islam di bumiNya ini. Amin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar